Erikson Butar Butar: Dari Asahan ke Bali, Mengabdi untuk Petani
Pagi baru saja merekah di Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana. Di antara hamparan kebun kakao dan kelapa yang membentang hingga kaki bukit, seorang penyuluh pertanian tampak akrab berbincang dengan petani. Logat Sumatera masih terdengar jelas saat ia menjelaskan cara mengendalikan serangan hama dan menjaga kesuburan tanah. Namanya Erikson Butar Butar, S.P. Meski lahir dan besar di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, lelaki ini justru menemukan ruang pengabdian terbesarnya di ujung barat Pulau Bali.
Erikson Butar Butar:
Dari Asahan ke Bali, Mengabdi untuk Petani
Jarak lebih dari dua ribu kilometer yang memisahkan Asahan dan Jembrana tidak pernah menjadi penghalang bagi Erikson Butar Butar untuk mengabdi di sektor pertanian. Di bawah naungan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, ia kini menjadi salah satu ujung tombak pembangunan pertanian di Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.
Ketertarikan Erikson terhadap dunia pertanian tumbuh sejak masa sekolah di kampung halamannya. Pendidikan dasar hingga menengah ia tempuh di Kabupaten Asahan, mulai dari SDN 015897 Buntu Pane, SMP Swasta Panti Budaya Kisaran, hingga SMAN 1 Buntu Pane. Kecintaannya pada ilmu pertanian kemudian membawanya diterima di Departemen Proteksi Tanaman IPB University, salah satu institusi pendidikan pertanian terbaik di Indonesia.
Selama menempuh pendidikan pada periode 2012–2017, Erikson mendalami berbagai aspek perlindungan tanaman, pengelolaan agroekosistem, hingga teknik pengendalian organisme pengganggu tumbuhan. Baginya, pertanian bukan sekadar urusan menanam dan memanen.
"Pertanian adalah bagaimana manusia memahami alam, menjaga keseimbangannya, dan memastikan sumber daya yang ada tetap lestari untuk generasi berikutnya," ujarnya.
Pengalaman lapangan mulai ditempa sejak masih menjadi mahasiswa. Pada 2015, Erikson terlibat sebagai pendamping Program Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai (UPSUS Pajale) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam memahami dinamika petani dan tantangan produksi pangan nasional.
Selepas meraih gelar Sarjana Pertanian, ia sempat berkarier di sektor swasta sebagai Technology Transfer Specialist pada Divisi Research and Development (R&D) PT Arara Abadi, Sinarmas Forestry, di Provinsi Riau. Tugas utamanya adalah menjembatani hasil-hasil penelitian agar dapat diterapkan secara efektif di lapangan. Pengalaman tersebut memperkaya kemampuannya dalam mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan praktis para pelaku usaha tani.
Namun, panggilan untuk terjun langsung mendampingi masyarakat akhirnya membawanya ke Bali. Sejak 2019, Erikson bergabung dalam dunia penyuluhan pertanian di Kabupaten Jembrana. Selama hampir tujuh tahun, ia beradaptasi dengan sistem pertanian Bali yang unik dan sarat nilai budaya, yaitu Subak.
Di tengah masyarakat tani Jembrana, Erikson dikenal aktif mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian. Salah satu kiprah yang menonjol adalah keterlibatannya dalam uji terap varietas padi Ngaos Mawar yang dipadukan dengan aplikasi asam humat di Subak Lanyah Babakan, Kecamatan Mendoyo. Pendekatan tersebut membantu memperbaiki kondisi lahan yang mengalami penurunan kesuburan akibat penggunaan pupuk kimia secara intensif.
Keberhasilannya membangun komunikasi dengan petani tidak lepas dari kemampuannya memadukan pendekatan ilmiah dengan kearifan lokal. Bagi Erikson, teknologi tidak boleh hadir sebagai sesuatu yang memaksa, melainkan sebagai solusi yang dipahami dan diterima petani.
Dedikasinya di lapangan juga mendapat kepercayaan dari rekan-rekan profesinya. Ia dipercaya menjadi pengurus Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) DPD Kabupaten Jembrana periode 2023–2028 pada Bidang Humas dan Informasi. Melalui peran tersebut, Erikson aktif mendokumentasikan praktik-praktik baik penyuluhan, menyebarluaskan informasi pertanian, serta memperkuat jejaring komunikasi antarpenyuluh.
Memasuki tahun 2026, Erikson mengemban amanah baru sebagai penyuluh pertanian di bawah Kementerian Pertanian RI yang bertugas di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pekutatan. Wilayah binaannya meliputi Desa Pulukan dan Desa Asahduren, dua desa dengan potensi perkebunan rakyat yang cukup besar.
Berbeda dengan sebagian wilayah pertanian padi di Bali, kawasan binaannya didominasi tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa, dan cengkeh. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tumbuhan, hingga kebutuhan peningkatan kapasitas petani dalam mengelola usaha taninya.
Perjalanan dari Asahan menuju Jembrana telah mengajarkan satu hal penting bagi Erikson: pertanian adalah bahasa yang sama bagi seluruh petani Indonesia. Meski berbeda daerah, budaya, dan komoditas, tujuan akhirnya tetap serupa, yakni menjaga produktivitas lahan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Dari ujung Sumatera hingga barat Pulau Bali, Erikson Butar Butar terus melangkah di jalur pengabdian yang dipilihnya. Menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan petani, sekaligus memastikan bahwa pertanian Indonesia tetap tumbuh, berdaya saing, dan berkelanjutan. (JikWid/Edi)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0