Kelsi Bali Antar Petani Gianyar Berguru ke Sentra Bawang Merah Kintamani
Kelsi Provinsi Bali terus menjembatani transfer teknologi antardaerah. Kali ini, petani bawang merah Kabupaten Gianyar diajak berguru ke sentra bawang merah Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, yang dikenal mampu mencetak produktivitas mencapai 22,50 ton per hektare.
Kelsi Bali Jembatani Petani Gianyar Berguru ke Sentra Bawang Merah Kintamani
BANGLI – Upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing bawang merah terus dilakukan. Kali ini, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar bersama petani bawang merah melakukan studi tiru ke Kelompok Tani CV Makmur Tani Mesari, Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kunjungan yang didampingi Kelompok Substansi Pengelolaan Penyuluhan Pertanian (Kelsi) Provinsi Bali tersebut menjadi ajang belajar langsung dari salah satu sentra bawang merah terbaik di Pulau Dewata.
Rombongan diterima Ketua Kelompok Tani CV Makmur Tani Mesari, Ketut Lama atau yang akrab disapa Jro Arman. Turut mendampingi Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi dan Kinerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Bangli I Made Atmika, SP., M.Agb., bersama jajaran penyuluh pertanian lapangan.
Dalam pemaparannya, Jro Arman menjelaskan berbagai kegiatan usaha tani yang dikembangkan kelompoknya yang fokus pada komoditas bawang merah. Selain menjadi titik serah pupuk, kelompok tersebut juga memiliki Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang pada tahun 2025 berhasil meraih juara I tingkat nasional.
Prestasi kelompok ini tidak hanya ditunjukkan dari kelembagaan yang kuat, tetapi juga dari produktivitas yang mampu mencapai 22,50 ton per hektare. Sementara itu, perhitungan Break Even Point (BEP) tahun 2025 berada pada angka Rp22.300 per kilogram, sehingga petani memiliki acuan yang jelas dalam mengelola risiko usaha.
Ketua Kelompok Substansi Pengelolaan Penyuluhan Pertanian (Kelsi) Provinsi Bali sekaligus Ketua Harian Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, SP., M.Agb., mengatakan sinergi antardaerah menjadi kunci percepatan adopsi inovasi di sektor pertanian.
Menurutnya, keberhasilan budidaya bawang merah di Songan tidak boleh berhenti di Bangli semata, tetapi harus dapat ditularkan ke daerah lain di Bali. Apalagi, kebutuhan bawang merah di Bali masih cukup besar dan peluang pengembangannya masih terbuka lebar.
"Melalui kunjungan seperti ini, petani dapat melihat langsung praktik terbaik di lapangan. Harapannya, bawang merah tidak hanya berkembang di Songan, tetapi juga di wilayah lain di Bali. Kita memiliki varietas lokal Bali Karet yang potensial untuk dikembangkan. Ke depan, benih bawang merah juga perlu didorong memiliki sertifikasi agar tidak hanya beredar sebagai benih antarlapang," ujarnya.
Arya Sudiadnyana juga mendorong pengembangan bawang putih di kawasan Songan. Menurutnya, program pengembangan bawang putih dari Kementerian Pertanian dapat dimanfaatkan melalui demplot skala kecil sebagai langkah awal.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Ni Made Yuliani Putri, SP., M.Agb., mengapresiasi keterbukaan Kelompok Tani CV Makmur Tani Mesari dalam berbagi pengalaman.
Menurutnya, produktivitas yang tinggi dan kemampuan kelompok dalam menghitung titik impas usaha menjadi pelajaran penting bagi petani bawang merah di Gianyar.
"Petani sekarang tidak cukup hanya pandai menanam. Mereka juga harus mampu menghitung biaya produksi dan mengelola usaha taninya secara profesional. Apa yang dilakukan kelompok di Songan ini menjadi referensi yang sangat baik untuk kami kembangkan di Gianyar," tegasnya.
Antusiasme juga datang dari para petani yang mengikuti kunjungan tersebut. Mereka mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru, terutama terkait efisiensi biaya produksi, pengelolaan pascapanen, serta penguatan kelembagaan melalui P4S.
Koordinator BPP Kintamani menambahkan, selain berhasil mengembangkan bawang merah, kelompok yang dipimpin Jro Arman juga telah mengembangkan pengolahan pupuk organik dan biourine melalui Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO). Ketua kelompok bahkan pernah mengikuti pelatihan pengolahan pupuk organik di Bogor.
Melalui studi tiru ini, petani bawang merah Kabupaten Gianyar diharapkan mampu mengadopsi teknologi dan manajemen usaha tani yang lebih modern, sehingga produktivitas dan kesejahteraan petani dapat terus meningkat secara berkelanjutan. (JikWid/Ratna Dewi)
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0