Trichokompos, Senjata Baru Lawan Jamur Akar Putih
Belum sempat serangan meluas, Tim Sigap Tani BPP Sukasada lebih dulu bergerak. Temuan jamur akar putih pada tanaman cengkeh di Desa Selat langsung ditindaklanjuti dengan pelatihan pembuatan trichokompos dan bantuan 60 kilogram biakan sebar Trichoderma. Trichokompos pun menjadi senjata baru dalam menekan penyakit yang mengancam perkebunan cengkeh.
Trichokompos, Senjata Baru Lawan Jamur Akar Putih
BULELENG – Temuan serangan jamur akar putih pada tanaman cengkeh milik petani di Desa Selat, Kecamatan Sukasada, langsung memicu respons cepat jajaran pertanian. Tim Sigap Tani BPP Sukasada bersama petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) bergerak cepat melakukan identifikasi lapangan, koordinasi lintas instansi, hingga menghadirkan solusi pengendalian hayati melalui pemanfaatan trichokompos dan Trichoderma.
Langkah cepat tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Trichokompos yang dilaksanakan di Kelompok Tani Sari Luwih Merta Jati, Desa Selat, Senin (8/6). Kegiatan ini sekaligus menjadi tindak lanjut konkret atas laporan petani terkait serangan jamur akar putih yang berpotensi menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan kematian tanaman cengkeh.
Begitu menerima informasi adanya gejala serangan penyakit di lapangan, Tim Sigap Tani BPP Sukasada yang terdiri atas penyuluh pertanian dan POPT segera turun melakukan pengamatan. Hasil identifikasi menunjukkan adanya serangan jamur akar putih pada tanaman cengkeh milik salah seorang petani setempat. Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan koordinasi intensif bersama Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali guna mempercepat langkah pengendalian.
Respons cepat itu membuahkan hasil. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menyalurkan bantuan sebanyak 60 kilogram biakan sebar Trichoderma kepada Kelompok Tani Sari Luwih Merta Jati. Bantuan tersebut dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk pembuatan trichokompos sekaligus menekan perkembangan patogen penyebab jamur akar putih pada tanaman perkebunan.
Kegiatan bimtek dihadiri Tim Teknis Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Kepala Dusun Witajati Koordinator BPP Sukasada, PPL Desa Selat, PPL Kecamatan Sukasada, POPT Kecamatan Sukasada, serta staf UPTT Sukasada Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.
Dalam kegiatan tersebut, petani mendapatkan materi sekaligus praktik langsung pembuatan trichokompos. Mulai dari persiapan bahan, proses pencampuran, fermentasi, hingga teknik aplikasi di lahan perkebunan. Materi dan praktik lapangan dipandu oleh Wayan Adi Diantara, S.TP., staf UPTT Sukasada Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.
Koordinator BPP Sukasada, Mohammad Hanan, S.P., mengatakan bahwa pengendalian penyakit tanaman tidak cukup hanya mengandalkan tindakan kuratif. Menurutnya, petani perlu dibekali kemampuan untuk melakukan pencegahan secara mandiri melalui pemanfaatan teknologi hayati yang ramah lingkungan.
“Trichokompos bukan hanya berfungsi sebagai pupuk organik, tetapi juga menjadi media pengembangan Trichoderma yang mampu menekan perkembangan jamur patogen di dalam tanah. Melalui bimtek ini, kami ingin petani mampu memproduksi dan mengaplikasikannya secara mandiri sehingga pengendalian penyakit dapat dilakukan lebih cepat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Selat, I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari temuan kasus di lapangan yang langsung ditangani secara kolaboratif.
“Begitu ditemukan indikasi serangan jamur akar putih, kami bersama POPT segera melakukan identifikasi dan pelaporan. Berkat koordinasi yang baik dengan pemerintah kabupaten dan provinsi, bantuan Trichoderma dapat segera direalisasikan. Ini menjadi bukti bahwa penanganan masalah pertanian membutuhkan respons cepat dan kerja sama semua pihak,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Tani Sari Luwih Merta Jati, Nyoman Santika, mengaku senang dengan pendampingan yang diberikan. Selain memperoleh bantuan Trichoderma, petani juga mendapatkan pengetahuan praktis yang dapat langsung diterapkan di kebun.
“Kami sangat terbantu. Selama ini banyak petani belum memahami cara pengendalian penyakit secara hayati. Melalui pelatihan ini kami belajar membuat trichokompos sendiri sehingga bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan tanaman dan tanah secara berkelanjutan,” katanya.
Melalui gerak cepat Tim Sigap Tani BPP Sukasada dan dukungan pemerintah daerah maupun provinsi, ancaman jamur akar putih kini tidak hanya ditangani dengan pendekatan pengendalian sesaat. Lebih dari itu, petani didorong untuk menguasai teknologi hayati yang murah, ramah lingkungan, dan dapat diproduksi secara mandiri. Trichokompos pun diharapkan menjadi senjata baru petani dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan perkebunan cengkeh di Buleleng.
Koresponden: DND
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0