BerandaProfileNini Sudiani, Tangan Kasar yang Melahirkan Sarjana
Profile

Nini Sudiani, Tangan Kasar yang Melahirkan Sarjana

Di bawah terik matahari Subak Kumpul, Bona, sepasang tangan renta masih setia meratakan gabah. Usianya 65 tahun, tetapi semangatnya tak kalah dengan mereka yang muda. Nini Mangku Wayan Sudiani adalah perempuan sederhana yang menghabiskan hidup di sawah—namun dari tangan kasar itulah, seorang anak berhasil menapaki pendidikan hingga meraih gelar magister.

FacebookWhatsAppXTelegram

GIANYAR – Matahari siang sedang terik-teriknya ketika awak media melintas di kawasan Subak Kumpul, Banjar Pasadana, Desa Bona, Gianyar, Rabu (2/9). Di hamparan lantai penjemuran, padi menguning dijemur di bawah sengatan matahari.

Di tengah hamparan gabah itu, dua perempuan tampak sibuk bekerja. Satu memegang sapu lidi, lainnya mengayunkan alat sederhana untuk meratakan dan membolak-balik gabah agar cepat kering.

WhatsApp Image 2026 09 02 at 12.05.17 (2)


Caping lebar meneduhi kepala. Tangan mereka terus bergerak.

Salah satunya adalah Nini Mangku Wayan Sudiani, 65 tahun. Warga Banjar Pasadana, Bona, Gianyar. Di usianya yang tak lagi muda, perempuan ini masih akrab dengan panas matahari, debu, gabah dan pekerjaan sawah.

Siang itu, ia bekerja bersama Gusti Made Sutriani, istri Pekaseh Subak Kumpul. Tidak ada kesan mengeluh. Justru dari wajahnya terpancar ketenangan seorang perempuan yang sudah puluhan tahun bersahabat dengan kerasnya kehidupan sebagai petani.

“Ndak pernah sekolah, Gus. Dulu perempuan tugasnya bantu orang tua di rumah,” tuturnya mengenang masa muda.

Kalimat pendek itu seperti membuka lembaran panjang perjalanan hidupnya.

Dibayar Sebonggol Ketela

WhatsApp Image 2026 09 02 at 12.05.15 (2)

Nini Sudiani tumbuh pada zaman ketika sekolah bukan sesuatu yang mudah dijangkau semua anak, terutama perempuan di desa.

Membantu orang tua di sawah menjadi bagian dari keseharian. Menjadi buruh panen ketela rambat pernah dilakoninya. Upahnya pun jauh dari hitungan rupiah seperti sekarang.

“Dulu kalau panen ketela rambat, dibayar satu bonggol,” kenangnya.

Sederhana. Bahkan mungkin terdengar kecil bagi generasi sekarang.

Namun dari pekerjaan sederhana itulah ia belajar tentang satu hal, bertahan hidup dengan kerja keras.

Padi yang ditanamnya bersama keluarga pun sebagian besar bukan untuk mengejar keuntungan besar. Hasil panen lebih banyak menjadi persediaan pangan keluarga.

Bagi Nini Sudiani, sawah bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Sawah adalah bagian dari perjalanan hidup.

Puluhan tahun berlalu. Zaman berubah. Anak-anak tumbuh. Dan tangan yang dahulu bekerja dengan upah sebonggol ketela itu perlahan menorehkan cerita yang jauh lebih besar.

Dari Sawah, Mengantar Anak ke Kampus

Ada satu kebanggaan yang membuat Nini Sudiani seolah lupa dengan lelah.

Belum lama ini, kondisi tubuhnya sedang “kurang bagus”. Namun ia tetap memaksakan diri menghadiri momen penting dalam kehidupan anak ketiganya, wisuda di Singaraja.

Anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S2.

Bagi sebagian orang, gelar magister mungkin hanya sebuah pencapaian akademik. Namun bagi Nini Sudiani, gelar itu adalah buah dari perjalanan panjang seorang ibu yang sejak muda bergelut dengan sawah dan pekerjaan kasar.

Dari tangan yang pernah dibayar sebonggol ketela, lahir seorang sarjana yang kemudian melanjutkan pendidikan hingga magister.

Di situlah kisah Nini Sudiani terasa begitu dalam.

Ia mungkin tidak pernah duduk lama di bangku sekolah. Tidak memiliki gelar akademik. Namun hidup telah memberinya ruang untuk menjadi “guru” bagi anak-anaknya—melalui ketekunan, kesederhanaan dan pengorbanan.

Menunggu Gabah Kering, Membuat Jajan Banten

Menariknya, aktivitas Nini Sudiani tidak berhenti ketika pekerjaan di sawah selesai.

Sambil menunggu gabah benar-benar kering, ia mengisi waktu dengan membuat jajan untuk sarana upacara (banten suci). Pesanan datang dari masyarakat sekitar.

“Lumayan, dapat pesanan sampai 80 paket banten suci,” ujarnya.

WhatsApp Image 2026 09 02 at 12.05.15


Begitulah cara Nini Sudiani menjalani hari. Tidak banyak menuntut, tidak pula banyak mengeluh.

Sawah memberinya pangan. Tangan terampilnya membuat jajan banten mendatangkan tambahan penghasilan. Sementara anak-anaknya menjadi bukti bahwa kerja keras seorang ibu di pelosok desa tidak pernah sia-sia.

Siang itu, ketika matahari terus meninggi dan gabah masih harus dibolak-balik agar kering sempurna, Nini Sudiani kembali mengayunkan alat sederhananya.

Tangan itu memang kasar.

Tetapi dari tangan yang ditempa panas matahari, tanah, gabah dan kerja keras selama puluhan tahun, telah lahir sebuah kebanggaan, seorang anak yang berhasil menembus pendidikan hingga jenjang magister.

Sebuah pengingat sederhana bahwa tidak semua perjuangan seorang ibu tercatat dalam ijazah.

Sebagian justru tertulis di telapak tangan yang kasar, punggung yang lelah, dan keringat yang jatuh diam-diam di pematang sawah. (DenBagus)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar