BerandaLintas DaerahEmpat Kali Gagal, Pekaseh Subak Juan Bangkit dan Lahir…
Lintas Daerah

Empat Kali Gagal, Pekaseh Subak Juan Bangkit dan Lahirkan Beras Sehat

GIANYAR — Di tengah hamparan sawah Subak Juan, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Wayan Balik Surista, 49, tidak hanya menjalankan peran sebagai petani. Sebagai Pekaseh Subak Juan, ia juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian sekaligus mendorong anggotanya untuk tetap produktif di tengah berbagai tantangan.

FacebookWhatsAppXTelegram

GIANYAR — Di tengah hamparan sawah Subak Juan, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Wayan Balik Surista, 49, tidak hanya menjalankan peran sebagai petani. Sebagai Pekaseh Subak Juan, ia juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian sekaligus mendorong anggotanya untuk tetap produktif di tengah berbagai tantangan.

381718b8 1bb3 4cbe 91fc 267fa48b1980

Balik merupakan salah satu petani yang memilih jalan pertanian ramah lingkungan. Hampir tujuh tahun terakhir, ia serius menekuni budidaya padi dengan pendekatan organik. Pilihan tersebut tidak lahir dari perjalanan yang mudah.

Sebelum akrab dengan sawah dan bulir padi, Balik lebih dahulu berkecimpung sebagai pematung dan pengukir. Ia juga pernah bekerja di kawasan Teges, Ubud. Namun, perjalanan hidup membawanya semakin dekat dengan dunia pertanian. Dari tangan yang sebelumnya berkarya dengan kayu dan batu, kini ia mengolah tanah, merawat tanaman, dan menghasilkan pangan.

Bagi Balik, bertani bukan sekadar mengejar hasil panen. Ada tanggung jawab untuk menjaga tanah tetap subur dan produktif, sekaligus menghasilkan pangan yang lebih sehat bagi masyarakat.

Empat Kali Gagal, Tak Memilih Menyerah
Jalan menuju pertanian organik ternyata tidak selalu mulus. Balik mengaku sempat mengalami empat kali kegagalan panen. Hasil yang tidak sesuai harapan menjadi pengalaman pahit sekaligus pelajaran berharga.
“Kalau gagal, kita jangan berhenti. Dari kegagalan itu kita belajar dan mencari cara yang lebih baik,” ujarnya.
Sebagai Pekaseh Subak Juan, pengalaman tersebut juga menjadi bekal penting dalam menjalankan perannya di tengah komunitas petani. Ia tidak hanya berbicara tentang pertanian, tetapi ikut membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari lahan sendiri.
Menariknya, Balik tidak berhenti pada produksi gabah. Ia melihat peluang bahwa petani dapat memperoleh nilai tambah jika mampu mengolah sekaligus memasarkan hasil panennya sendiri.
Gabah hasil budidaya padi ramah lingkungan tidak langsung dijual kepada penebas. Balik memilih mengolahnya menjadi beras, mengemas, dan memasarkannya dengan identitas “Beras Sehat Subak Guwang.”
Nama tersebut bukan sekadar label pada kemasan. Di dalamnya melekat identitas wilayah, semangat subak, dan perjalanan panjang Balik dalam mengembangkan pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Dari sawah, gabah tidak berhenti sebagai komoditas. Ia diolah menjadi produk dengan identitas dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Kemasan Beras Sehat Subak Guwang menjadi bukti bahwa petani dapat bergerak lebih jauh dari sekadar menghasilkan bahan baku.
Di sinilah pertanian menemukan wajah lain. Bertani bukan hanya soal menanam dan memanen, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai tambah dari hasil yang dihasilkan.
Penyuluh Hadir, Petani Tidak Berjalan Sendiri
Dalam perjalanan tersebut, Balik tidak berjalan sendiri. Kehadiran penyuluh menjadi bagian penting dalam proses pengembangan pertaniannya.

381718b8 1bb3 4cbe 91fc 267fa48b1980
Bagi petani seperti Balik, pengalaman lapangan merupakan modal penting. Sementara penyuluh membawa pengetahuan, inovasi, dan akses informasi. Ketika keduanya bertemu di lahan, tercipta proses belajar yang saling menguatkan.
Penyuluh bukan sekadar penyampai teknologi, tetapi jembatan antara pengetahuan dan pengalaman petani.
Dari sebuah gubuk sederhana di Subak Juan, cerita Balik menunjukkan bahwa perubahan dalam pertanian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari keberanian mencoba, kesediaan belajar dari kegagalan, pendampingan yang konsisten, dan kemauan untuk terus memperbaiki cara bertani.
Dari seorang pematung dan pengukir, Balik kini menemukan ruang ekspresi baru di hamparan sawah. Jika dahulu ia berkarya dengan kayu dan batu, kini ia seolah “memahat” harapan melalui tanah, benih, tanaman, dan bulir-bulir padi.
Sebagai Pekaseh Subak Juan, ia juga menunjukkan bahwa menjaga subak bukan hanya mempertahankan sawah dan sistem irigasi, tetapi juga merawat semangat petani agar tetap mau belajar, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah.
Sementara itu, Beras Sehat Subak Guwang menjadi jejak nyata dari proses panjang tersebut. Sebuah produk yang lahir dari sawah, tetapi dibangun melalui keberanian mencoba, empat kali kegagalan, ketekunan belajar, serta keyakinan bahwa petani mampu menciptakan nilai ekonomi dari hasil pertaniannya sendiri.

Di sebuah gubuk sederhana di areal persawahan, Balik berbincang dengan Ni Made Ratnasari, SP., penyuluh pertanian wilayah binaan Desa Guwang, BPP Sukawati, Gianyar. Percakapan keduanya berlangsung sederhana, tetapi sarat makna. Membahas kondisi tanaman, pengelolaan lahan, pertanian ramah lingkungan, hingga bagaimana hasil panen petani dapat memiliki nilai tambah.

WhatsApp Image 2026 08 20 at 17.38.46

Namun, ia tidak memilih berhenti.

Kegagalan justru menjadi ruang belajar. Balik terus melakukan eksperimen di lahan, mengevaluasi tahapan budidaya, serta berdiskusi dengan para senior dan praktisi yang lebih dahulu menerapkan pertanian organik.

Semangat tersebut perlahan membuahkan hasil. Dari berbagai percobaan dan proses belajar, Balik mulai menemukan pola budidaya yang sesuai dengan kondisi lahannya. Pertanian ramah lingkungan yang awalnya menjadi sebuah eksperimen, kini berkembang menjadi pilihan yang terus ia tekuni.

Dari Gabah Menjadi “Beras Sehat Subak Guwang”

Ni Made Ratnasari, SP., sebagai penyuluh pertanian wilayah binaan Desa Guwang, BPP Sukawati, aktif mendampingi dan berkomunikasi dengan petani. Pendampingan tidak sebatas menyampaikan informasi dan teknologi, tetapi juga mendengarkan pengalaman petani serta bersama-sama mencari solusi terhadap berbagai persoalan di lapangan.

Balik terus merawat tanah. Ratnasari terus mendampingi. Dari Subak Juan, Guwang, keduanya memperlihatkan bahwa pertanian sehat dan berkelanjutan dapat tumbuh dari satu sikap sederhana berani mencoba, mau belajar, dan tidak menyerah ketika gagal. (JikWid)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar