Empat Kali Gagal, Pekaseh Subak Juan Bangkit dan Lahirkan Beras Sehat
GIANYAR — Di tengah hamparan sawah Subak Juan, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Wayan Balik Surista, 49, tidak hanya menjalankan peran sebagai petani. Sebagai Pekaseh Subak Juan, ia juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian sekaligus mendorong anggotanya untuk tetap produktif di tengah berbagai tantangan.
perhiptani21 Agustus 2026 · 18:53 WIB · Diperbarui 21 Agustus 2026 · 20:00 WIB
GIANYAR — Di tengah hamparan sawah Subak Juan,
Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Wayan Balik Surista, 49, tidak hanya
menjalankan peran sebagai petani. Sebagai Pekaseh Subak Juan, ia
juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian sekaligus
mendorong anggotanya untuk tetap produktif di tengah berbagai tantangan.
Balik merupakan salah satu petani yang memilih jalan
pertanian ramah lingkungan. Hampir tujuh tahun terakhir, ia serius menekuni
budidaya padi dengan pendekatan organik. Pilihan tersebut tidak lahir dari
perjalanan yang mudah.
Sebelum akrab dengan sawah dan bulir padi, Balik lebih
dahulu berkecimpung sebagai pematung dan pengukir. Ia juga pernah bekerja di
kawasan Teges, Ubud. Namun, perjalanan hidup membawanya semakin dekat dengan
dunia pertanian. Dari tangan yang sebelumnya berkarya dengan kayu dan batu,
kini ia mengolah tanah, merawat tanaman, dan menghasilkan pangan.
Bagi Balik, bertani bukan sekadar mengejar hasil panen.
Ada tanggung jawab untuk menjaga tanah tetap subur dan produktif, sekaligus
menghasilkan pangan yang lebih sehat bagi masyarakat.
Empat Kali Gagal, Tak Memilih Menyerah Jalan menuju pertanian organik ternyata tidak selalu
mulus. Balik mengaku sempat mengalami empat kali kegagalan panen. Hasil
yang tidak sesuai harapan menjadi pengalaman pahit sekaligus pelajaran berharga. “Kalau gagal, kita jangan berhenti. Dari kegagalan itu
kita belajar dan mencari cara yang lebih baik,” ujarnya. Sebagai Pekaseh Subak Juan, pengalaman tersebut juga
menjadi bekal penting dalam menjalankan perannya di tengah komunitas petani. Ia
tidak hanya berbicara tentang pertanian, tetapi ikut membuktikan bahwa
perubahan dapat dimulai dari lahan sendiri. Menariknya, Balik tidak berhenti pada produksi gabah. Ia
melihat peluang bahwa petani dapat memperoleh nilai tambah jika mampu mengolah
sekaligus memasarkan hasil panennya sendiri. Gabah hasil budidaya padi ramah lingkungan tidak langsung
dijual kepada penebas. Balik memilih mengolahnya menjadi beras, mengemas, dan
memasarkannya dengan identitas “Beras Sehat Subak Guwang.” Nama tersebut bukan sekadar label pada kemasan. Di
dalamnya melekat identitas wilayah, semangat subak, dan perjalanan panjang
Balik dalam mengembangkan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Dari sawah, gabah tidak berhenti sebagai komoditas. Ia
diolah menjadi produk dengan identitas dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Kemasan Beras
Sehat Subak Guwang menjadi bukti bahwa petani dapat bergerak
lebih jauh dari sekadar menghasilkan bahan baku. Di sinilah pertanian menemukan wajah lain. Bertani bukan hanya
soal menanam dan memanen, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai tambah dari
hasil yang dihasilkan. Penyuluh Hadir, Petani Tidak Berjalan Sendiri Dalam perjalanan tersebut, Balik tidak berjalan sendiri.
Kehadiran penyuluh menjadi bagian penting dalam proses pengembangan
pertaniannya.
Bagi petani seperti Balik, pengalaman lapangan merupakan
modal penting. Sementara penyuluh membawa pengetahuan, inovasi, dan akses
informasi. Ketika keduanya bertemu di lahan, tercipta proses belajar yang
saling menguatkan. Penyuluh bukan
sekadar penyampai teknologi, tetapi jembatan antara pengetahuan dan pengalaman
petani. Dari sebuah gubuk sederhana di Subak Juan, cerita Balik
menunjukkan bahwa perubahan dalam pertanian tidak selalu harus dimulai dari
sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari keberanian mencoba, kesediaan belajar
dari kegagalan, pendampingan yang konsisten, dan kemauan untuk terus
memperbaiki cara bertani. Dari seorang pematung dan pengukir, Balik kini menemukan
ruang ekspresi baru di hamparan sawah. Jika dahulu ia berkarya dengan kayu dan
batu, kini ia seolah “memahat” harapan melalui tanah, benih, tanaman, dan
bulir-bulir padi. Sebagai Pekaseh Subak Juan, ia juga menunjukkan bahwa
menjaga subak bukan hanya mempertahankan sawah dan sistem irigasi, tetapi juga
merawat semangat petani agar tetap mau belajar, berinovasi, dan menciptakan
nilai tambah. Sementara itu, Beras Sehat Subak Guwang menjadi jejak nyata
dari proses panjang tersebut. Sebuah produk yang lahir dari sawah, tetapi
dibangun melalui keberanian mencoba, empat kali kegagalan, ketekunan belajar,
serta keyakinan bahwa petani mampu menciptakan nilai ekonomi dari hasil
pertaniannya sendiri.
Di sebuah gubuk sederhana di areal persawahan, Balik
berbincang dengan Ni Made Ratnasari, SP., penyuluh pertanian wilayah binaan
Desa Guwang, BPP Sukawati, Gianyar. Percakapan keduanya berlangsung sederhana,
tetapi sarat makna. Membahas kondisi tanaman, pengelolaan lahan, pertanian
ramah lingkungan, hingga bagaimana hasil panen petani dapat memiliki nilai
tambah.
Namun, ia tidak memilih berhenti.
Kegagalan justru menjadi ruang belajar. Balik terus
melakukan eksperimen di lahan, mengevaluasi tahapan budidaya, serta berdiskusi
dengan para senior dan praktisi yang lebih dahulu menerapkan pertanian organik.
Semangat tersebut perlahan membuahkan hasil. Dari berbagai
percobaan dan proses belajar, Balik mulai menemukan pola budidaya yang sesuai
dengan kondisi lahannya. Pertanian ramah lingkungan yang awalnya menjadi sebuah
eksperimen, kini berkembang menjadi pilihan yang terus ia tekuni.
Dari Gabah Menjadi “Beras Sehat Subak Guwang”
Ni Made Ratnasari, SP., sebagai penyuluh pertanian wilayah
binaan Desa Guwang, BPP Sukawati, aktif mendampingi dan berkomunikasi dengan
petani. Pendampingan tidak sebatas menyampaikan informasi dan teknologi, tetapi
juga mendengarkan pengalaman petani serta bersama-sama mencari solusi terhadap
berbagai persoalan di lapangan.
Balik terus merawat tanah. Ratnasari terus mendampingi.
Dari Subak Juan, Guwang, keduanya memperlihatkan bahwa pertanian sehat dan
berkelanjutan dapat tumbuh dari satu sikap sederhana berani mencoba, mau
belajar, dan tidak menyerah ketika gagal. (JikWid)
Komentar