GIANYAR — Di tengah hamparan sawah Subak Juan, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Wayan Balik Surista, 49, tidak hanya menjalankan peran sebagai petani. Sebagai Pekaseh Subak Juan, ia juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian sekaligus mendorong anggotanya untuk tetap produktif di tengah berbagai tantangan.
Di sebuah gubuk sederhana di areal persawahan, Balik berbincang dengan Ni Made Ratnasari, SP., penyuluh pertanian wilayah binaan Desa Guwang, BPP Sukawati, Gianyar. Percakapan keduanya berlangsung sederhana, tetapi sarat makna. Membahas kondisi tanaman, pengelolaan lahan, pertanian ramah lingkungan, hingga bagaimana hasil panen petani dapat memiliki nilai tambah.
Balik merupakan salah satu petani yang memilih jalan pertanian ramah lingkungan. Hampir tujuh tahun terakhir, ia serius menekuni budidaya padi dengan pendekatan organik. Pilihan tersebut tidak lahir dari perjalanan yang mudah.

Sebelum akrab dengan sawah dan bulir padi, Balik lebih dahulu berkecimpung sebagai pematung dan pengukir. Ia juga pernah bekerja di kawasan Teges, Ubud. Namun, perjalanan hidup membawanya semakin dekat dengan dunia pertanian. Dari tangan yang sebelumnya berkarya dengan kayu dan batu, kini ia mengolah tanah, merawat tanaman, dan menghasilkan pangan.
Empat Kali Gagal, Tak Memilih Menyerah
Jalan menuju pertanian organik ternyata tidak selalu mulus. Balik mengaku sempat mengalami empat kali kegagalan panen. Hasil yang tidak sesuai harapan menjadi pengalaman pahit sekaligus pelajaran berharga. Namun, ia tidak memilih berhenti. Kegagalan justru menjadi ruang belajar. Balik terus melakukan eksperimen di lahan, mengevaluasi tahapan budidaya, serta berdiskusi dengan para senior dan praktisi yang lebih dahulu menerapkan pertanian organik. Bagi Balik, bertani bukan sekadar mengejar hasil panen. Ada tanggung jawab untuk menjaga tanah tetap subur dan produktif, sekaligus menghasilkan pangan yang lebih sehat bagi masyarakat. “Kalau gagal, kita jangan berhenti. Dari kegagalan itu kita belajar dan mencari cara yang lebih baik,” ujarnya.

Semangat tersebut perlahan membuahkan hasil. Dari berbagai percobaan dan proses belajar, Balik mulai menemukan pola budidaya yang sesuai dengan kondisi lahannya. Pertanian ramah lingkungan yang awalnya menjadi sebuah eksperimen, kini berkembang menjadi pilihan yang terus ia tekuni. Sebagai Pekaseh Subak Juan, pengalaman tersebut juga menjadi bekal penting dalam menjalankan perannya di tengah komunitas petani. Ia tidak hanya berbicara tentang pertanian, tetapi ikut membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari lahan sendiri.
Dari Gabah Menjadi “Beras Sehat Subak Guwang”
Menariknya, Balik tidak berhenti pada produksi gabah. Ia melihat peluang bahwa petani dapat memperoleh nilai tambah jika mampu mengolah sekaligus memasarkan hasil panennya sendiri. Gabah hasil budidaya padi ramah lingkungan tidak langsung dijual kepada penebas. Balik memilih mengolahnya menjadi beras, mengemas, dan memasarkannya dengan identitas “Beras Sehat Subak Guwang.” Nama tersebut bukan sekadar label pada kemasan. Di dalamnya melekat identitas wilayah, semangat subak, dan perjalanan panjang Balik dalam mengembangkan pertanian yang lebih ramah lingkungan.







Komentar