BULELENG — Malam itu, rumah I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P. kedatangan awak media Perhiptani Bali. Obrolan mengalir dari soal penyuluhan hingga masa depan petani muda. Ada satu pesan yang terasa kuat, pertanian harus dibuat menarik agar anak muda mau kembali ke tanah.
Pesan itu pula yang mengantarkan Darmayasa, Penyuluh Pertanian BPP Sukasada, Kabupaten Buleleng, meraih Peringkat II kategori Penumbuhan Petani Muda dalam ajang apresiasi Kementerian Pertanian dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi aparatur sipil negara dan unit kerja lingkup Kementerian Pertanian yang menunjukkan prestasi sangat baik dalam mendukung dan memajukan sektor pertanian.
Dalam kategori Penumbuhan Petani Muda, Darmayasa berhasil menempati peringkat II. Peringkat I diraih Surahman, S.TP., dari Sulawesi Selatan, sementara peringkat III diraih Hikmah Agustin, S.P., M.M., dari Jawa Tengah.
Namun, bagi Darmayasa, capaian tersebut bukan semata tentang dirinya. Ada cerita tentang seorang anak muda Buleleng yang menjadi sumber inspirasinya.
Lewat video kreatif berdurasi tak lebih dari dua menit, Darmayasa mengangkat sosok Gede Nien Ari Cahyadi, pemuda asal Desa Kayu Putih, Kabupaten Buleleng, yang berhasil menjadi Young Ambassador Agriculture (YAA) 2026.
Cerita itu dibuka dengan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi menggugah.
“Siapa yang akan menanam pangan dan merawat negeri ini, jika generasi mudanya terus meninggalkan pertanian?”

Pertanyaan tersebut menjadi gambaran kegelisahan sekaligus harapan Darmayasa terhadap masa depan regenerasi petani.
Di tengah banyaknya anak muda yang memilih mengejar masa depan di perkotaan, Nien justru mengambil jalan berbeda. Ia memilih kembali ke pertanian dan mengembangkan komoditas kopi.
Bukan sekadar membudidayakan kopi, Nien juga mengolahnya menjadi produk bernilai tambah melalui hilirisasi. Dari kebun hingga secangkir kopi, setiap proses dikerjakan dengan penuh dedikasi.
Di tangan Nien, bertani bukan sekadar pekerjaan. Pertanian menjadi ruang untuk berkarya, berinovasi, menciptakan nilai ekonomi, sekaligus membuka peluang usaha baru di pedesaan.
Perjalanan tersebut kemudian mengantarkannya menjadi Young Ambassador Agriculture 2026.
Bagi Darmayasa, capaian Nien menunjukkan satu hal penting, petani muda mampu menjadi wajah baru pertanian Indonesia.
Mereka tidak harus meninggalkan pertanian untuk meraih masa depan. Sebaliknya, dengan teknologi, inovasi, kreativitas, dan hilirisasi, pertanian justru dapat menjadi profesi yang membanggakan.
Di balik tumbuhnya petani muda, Darmayasa melihat ada peran penting penyuluh pertanian. Penyuluh bukan hanya hadir untuk menyampaikan teknologi atau memberikan pendampingan di lapangan, tetapi juga menjadi mitra yang membuka akses informasi, inovasi, teknologi, dan jejaring.
“Di balik setiap petani muda yang tumbuh, ada pendampingan yang terus menguatkan,” demikian pesan yang dibangun Darmayasa dalam karya videonya.

Sementara Nien membawa pesan yang tak kalah kuat.
“Saya ingin membuktikan bahwa bertani itu keren. Lewat kopi, saya ingin anak muda melihat bahwa pertanian bisa menjadi profesi yang membanggakan.”
Kalimat itu seolah menjadi suara generasi baru pertanian—generasi yang tidak ingin sekadar menjadi petani, tetapi ingin menjadi petani yang berdaya saing, inovatif, dan mampu menciptakan nilai tambah.
Bagi Darmayasa, penghargaan yang diraihnya menjadi penyemangat untuk terus mengangkat cerita-cerita inspiratif dari lapangan. Sebab, di tengah tantangan regenerasi petani, kisah nyata dari para petani muda dapat menjadi energi positif untuk mengubah cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan seprofesi dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap karya videonya melalui like, comment, dan share.
“Terima kasih atas dukungan dan apresiasi dari rekan-rekan seprofesi. Dan tentu, keluarga yang selalu mensuport, utamanya istri tercinta. Dukungan ini menjadi semangat bagi saya untuk terus berkarya, menginspirasi, dan berkontribusi bagi kemajuan pertanian Indonesia,” ujar Darmayasa.
Dari sebuah rumah di Buleleng, cerita itu kemudian menemukan panggung yang lebih luas.
Penyuluh menyalakan semangat. Petani muda melanjutkan estafet. Inovasi memberi nilai tambah. Dan pertanian menjadi jalan menuju masa depan.

Penghargaan Darmayasa sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun pertanian tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Ada pekerjaan besar yang tak kalah penting, menumbuhkan generasi baru yang mau, mampu, dan bangga menjadi petani.
Sebab masa depan pertanian Indonesia bukan hanya tentang siapa yang menanam hari ini, tetapi juga siapa yang akan melanjutkan pertanian esok hari.
Petani muda tumbuh, hilirisasi maju, pertanian modern, petani sejahtera.
Dari Buleleng untuk Indonesia—pertanian bukan pilihan terakhir, tetapi pilihan masa depan. (DenBagus)






Komentar