BerandaLintas DaerahPPL Buleleng “NgeGas”, Kawal Produksi Padi-Jagung
Lintas Daerah

PPL Buleleng “NgeGas”, Kawal Produksi Padi-Jagung

Tak cukup hanya mengejar target di atas kertas. PPL Buleleng “ngegas” memperkuat pengawalan di lapangan, memastikan produksi padi dan jagung benar-benar bergerak dari target menuju hasil nyata.

FacebookWhatsAppXTelegram

BULELENG – Target produksi pertanian tak boleh berhenti sebagai angka di atas kertas. Ia harus menjelma menjadi hamparan sawah yang tertanam, tanaman yang tumbuh, dan panen yang nyata.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Rapat Koordinasi Program Strategis Kementerian Pertanian bertema “Strategi Peningkatan Produksi Padi dan Jagung”, yang mempertemukan para penyuluh pertanian se-Kabupaten Buleleng, Jumat (11/9/2026).

Rakor dipimpin Katimker Kabupaten Buleleng Made Sumetriani, M.P. Kegiatan diikuti PPL Provinsi, Timker Kabupaten Buleleng, para Koordinator BPP, serta seluruh PPL se-Kabupaten Buleleng.

WhatsApp Image 2026 09 11 at 21.09.25


Dalam rakor tersebut, penyuluh tidak hanya diajak memahami target, tetapi juga didorong membaca persoalan produksi dari dekat. Sebab, keberhasilan peningkatan produksi sangat ditentukan oleh kemampuan mengawal proses sejak awal hingga panen.

Made Sumetriani menekankan tiga pekerjaan utama yang harus menjadi perhatian penyuluh, yakni mengejar luas tanam, mengubah luas tanam menjadi luas panen, dan meningkatkan produktivitas.

“Kita tidak hanya mengejar angka, tetapi bagaimana angka itu benar-benar terjadi di lapangan. Penyuluh harus tahu kondisi wilayahnya, aktif mengawal petani, memastikan kendala segera diidentifikasi, dan data yang dilaporkan benar-benar menggambarkan kondisi lapangan,” tegasnya.

Karena itu, penyuluh dituntut semakin aktif turun ke wilayah binaan. Ketersediaan lahan dan air, kalender tanam, benih, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pengawalan tanaman pada fase-fase kritis harus menjadi bagian dari kerja lapangan.

Bukan sekadar mencatat, melainkan memastikan setiap persoalan mendapat respons dan jalan keluar.

PM-AAS Jadi Perhatian

Penguatan produksi juga diarahkan pada percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) melalui Program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang masih menjadi salah satu prioritas.

PPL Provinsi Kadek Ratna Dewi, S.TP. dan I Made Suryadi, S.P. turut memperkuat arah tersebut dalam sesi materi dan diskusi.

Di Buleleng, perkembangan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) PM-AAS telah mencapai sekitar 70 hektare untuk jadwal tanam September hingga Desember 2026. Angka tersebut menjadi modal awal untuk mendorong percepatan tanam, dengan harapan dukungan sarana produksi segera terealisasi.

Namun, rakor tidak berhenti pada paparan materi. Forum berlangsung dinamis. Para PPL aktif menyampaikan kondisi, tantangan, sekaligus persoalan yang mereka hadapi di wilayah binaan masing-masing.

Dari sinilah koordinasi menjadi penting. Persoalan yang muncul di lapangan dibawa ke meja bersama, dibahas, dan dicari langkah penyelesaiannya agar tidak menjadi hambatan berlarut.

WhatsApp Image 2026 09 11 at 21.09.42


Penyuluh di Garis Depan

Made Sumetriani menegaskan, pencapaian target produksi merupakan kerja bersama. Penyuluh berada di garis depan untuk memastikan program tidak berhenti pada perencanaan.

Pola kerja pun dibuat semakin terukur, penyuluh mengawal, petani melaksanakan, dan mitra memperkuat. Monitoring dilakukan secara mingguan, sementara evaluasi dilakukan setiap bulan untuk memastikan setiap perkembangan dan kendala segera ditindaklanjuti.

Dengan pola tersebut, data bukan sekadar laporan administratif. Data harus menjadi cermin kondisi riil di lapangan sekaligus dasar untuk menentukan langkah berikutnya.

Dari Buleleng, arah gerak itu kini dipertegas. Target produksi tidak akan tercapai hanya dengan menghitung angka. Dibutuhkan gerakan nyata, pengawalan konsisten, dan keberanian menyelesaikan persoalan langsung dari lahan.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan program pertanian bukan diukur dari berapa banyak target yang tertulis, tetapi dari berapa banyak lahan yang benar-benar tertanam, berapa luas yang berhasil dipanen, dan seberapa tinggi produktivitas yang mampu dicapai petani.

Satu target. Satu gerakan. Satu pengawalan. Dari meja koordinasi menuju sawah. (DND)

 

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar