GIANYAR – Dari penyuluh, inovasi bergerak menuju petani. Dari lahan percontohan, teknologi mulai diperkenalkan dan dipraktikkan. Semangat inilah yang terus digerakkan jajaran penyuluh pertanian Kabupaten Gianyar dalam memasyarakatkan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Kali ini, gerakan tersebut menyentuh Subak Tuali, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Di lahan seluas 30 are milik Pekaseh Subak Tuali, I Made Sukajana, penyuluh bersama petani melaksanakan tanam padi menggunakan seeder.

Kegiatan ini berlangsung di wilayah binaan Penyuluh Pertanian I Gede Septian Eka Putra, S.P.. Bagi penyuluh, kegiatan tanam bukan sekadar agenda teknis di lapangan. Lebih dari itu, menjadi ruang pembelajaran untuk memperkenalkan teknologi sekaligus membangun keberanian petani mencoba pola budidaya yang lebih modern.
Peran penyuluh menjadi penting karena inovasi tidak akan banyak berarti apabila berhenti pada sosialisasi. Teknologi perlu dijelaskan, diperagakan, kemudian diterapkan bersama petani agar manfaat dan tantangannya dapat dilihat secara langsung.
“Penyuluh menjadi jembatan antara inovasi dan petani. Karena itu, teknologi seperti seeder perlu diperkenalkan secara langsung di lapangan. Petani bisa melihat prosesnya, memahami cara penggunaannya, kemudian menilai sendiri manfaatnya,” ujar I Gede Septian Eka Putra, S.P.
Menurutnya, demplot menjadi salah satu metode penyuluhan yang efektif untuk mempercepat proses adopsi inovasi. Petani tidak hanya mendapatkan informasi secara teori, tetapi dapat menyaksikan langsung bagaimana teknologi diterapkan di lahan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong PM-AAS agar semakin dikenal dan diterima di tingkat petani. Penggunaan seeder diharapkan dapat menjadi alternatif teknologi dalam meningkatkan efisiensi proses tanam, terutama di tengah tantangan keterbatasan tenaga kerja pertanian.
Dari Subak Tuali, proses pengenalan teknologi pun mulai bergerak dari penyuluh kepada petani, dari penjelasan menuju praktik, dan dari praktik menuju kemungkinan adopsi.
Kegiatan tanam bersama ini sekaligus memperlihatkan kuatnya sinergi berbagai pihak dalam mendukung penerapan PM-AAS. Selain jajaran penyuluh pertanian, kegiatan melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Dinas Pertanian Provinsi Bali, BRMP, Babinsa, Bhabinkamtibmas, PPL Kecamatan Payangan dan Tegallalang, POPT Kecamatan Payangan, Pekaseh D.I. Tinjak Kayu, Perbekel Desa Melinggih, Katimker Kabupaten Gianyar, serta petani Subak Tuali.

Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan inovasi pertanian tidak berhenti sebagai program, tetapi benar-benar hadir dan dirasakan di tingkat petani. Penyuluh berada di garis depan untuk menerjemahkan teknologi ke dalam bahasa dan praktik yang mudah dipahami petani.
Bagi petani Subak Tuali, lahan demplot seluas 30 are tersebut menjadi ruang belajar bersama. Dari sana, mereka dapat mengikuti proses penerapan seeder, mengamati pertumbuhan tanaman, hingga melihat hasil yang dicapai.
Inilah yang diharapkan menjadi awal dari proses PM-AAS mulai mengakar di Subak Tuali. Ketika teknologi tidak lagi sekadar diperkenalkan, tetapi mulai dikenal, dicoba, dipahami, dan berpeluang diterapkan secara lebih luas oleh petani.
Bagi jajaran penyuluh pertanian Kabupaten Gianyar, perjalanan tersebut membutuhkan pendampingan yang konsisten. Penyuluh bukan hanya hadir ketika teknologi diperkenalkan, tetapi juga mengawal prosesnya hingga petani memiliki pengalaman dan keyakinan untuk menentukan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan usaha taninya.

Sebab, pertanian modern tidak tumbuh hanya karena hadirnya alat. Ia mulai mengakar ketika inovasi dipahami penyuluh, diterima petani, dipraktikkan di lahan, dan akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan baru dalam berusaha tani.
Koresponden: Diah Pradnyani BPP Payangan Gianyar






Komentar