BerandaLintas DaerahRakor Program Strategis Kementan, Penyuluh Didorong Pe…
Lintas Daerah

Rakor Program Strategis Kementan, Penyuluh Didorong Percepat Hilirisasi

Penyuluh pertanian kini dituntut tak sekadar mengawal petani meningkatkan produksi. Lebih jauh, mereka didorong menjadi penggerak hilirisasi—mengawal hasil pertanian dari lahan, diolah menjadi produk bernilai tambah, hingga mampu menembus pasar. Semangat tersebut mengemuka dalam Rakor Program Strategis Kementerian Pertanian di Buleleng, Selasa (8/9).

FacebookWhatsAppXTelegram

BULELENG — Panen bukan lagi menjadi garis akhir. Di tengah tuntutan meningkatkan kesejahteraan petani, produk pertanian harus mampu bergerak lebih jauh—dari lahan, masuk proses pengolahan, dikemas menarik, hingga menembus pasar. Arah inilah yang didorong dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan Program Strategis Kementerian Pertanian Kabupaten Buleleng di PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu), Selasa (8/9).

Rakor tersebut diikuti Katimker Kabupaten Buleleng, pendamping PLUT, Kepala Bidang Sarana, Prasarana dan Penyuluhan Pertanian (SPP) Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, serta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kabupaten Buleleng.

1


Hilirisasi menjadi salah satu perhatian utama. Penyuluh didorong tidak berhenti pada upaya meningkatkan produksi, tetapi ikut mengawal komoditas pertanian agar memiliki nilai tambah dan daya saing.

Made Sumetriani, M.P., menegaskan hilirisasi bukan semata-mata aktivitas mengolah hasil pertanian. Lebih dari itu, hilirisasi harus dibangun sebagai sebuah ekosistem usaha yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi petani.

“Hilirisasi bukan sekadar mengolah produk, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem usaha sehingga petani mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. Penyuluh memiliki peran penting untuk mengawal proses tersebut dari potensi komoditas, kelembagaan, pengolahan, hingga akses pasar,” ujar Made Sumetriani.

Menurutnya, rantai hilirisasi harus dibangun secara utuh. Tidak hanya berbicara produksi, tetapi juga menyentuh aspek pascapanen, pengolahan, pengemasan, branding, perizinan, pemasaran hingga konsumen.

2


Jika ekosistem tersebut berjalan, komoditas pertanian tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Produk dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus membuka ruang tumbuh bagi UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing produk lokal.

Penguatan hilirisasi juga mendapat dukungan dari PLUT. Dua narasumber, Ni Luh Putu Eka Pradnyawati dan Nyoman Dhira Prayasa, memaparkan berbagai bentuk pendampingan yang dapat diberikan kepada kelompok tani maupun Kelompok Wanita Tani (KWT).

Pendampingan tersebut mencakup peluang pengembangan usaha dan kolaborasi yang dapat dilakukan bersama penyuluh. Dengan begitu, kelompok tani tidak hanya kuat dalam produksi, tetapi mulai diarahkan menjadi pelaku usaha yang mampu mengembangkan produk hingga memasarkannya.

“Peluang kolaborasi perlu terus dibuka agar potensi yang ada di kelompok tani maupun KWT dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” menjadi semangat yang mengemuka dalam sesi tersebut.

3


Sementara itu, Kepala Bidang SPP Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng I Made Siladharma, S.TP., memaparkan SIGAP PATEN (Sistem Integrasi Penjaga Lahan Pertanian) Kabupaten Buleleng. Selain itu, dibahas pula berbagai hal terkait sarana dan prasarana kelompok tani.

Rakor berlangsung dinamis. Para PPL aktif menyampaikan kondisi, potensi, sekaligus tantangan yang dihadapi di wilayah binaan masing-masing. Diskusi tersebut menjadi ruang untuk menyamakan persepsi dan memetakan peluang kolaborasi agar program strategis Kementerian Pertanian tidak berhenti pada tataran konsep.

Tantangannya cukup besar. Kabupaten Buleleng memiliki 1.789 kelompok tani. Jumlah tersebut sekaligus menunjukkan besarnya potensi yang dapat digerakkan melalui penguatan kelembagaan, pendampingan usaha, dan pemanfaatan potensi komoditas lokal.

WhatsApp Image 2026 09 08 at 21.22.01


Di sinilah peran penyuluh menjadi semakin strategis. Penyuluh diharapkan mampu menjadi penghubung antara petani dengan berbagai sumber daya pendukung—mulai dari teknologi, kelembagaan, pengolahan, permodalan, perizinan hingga akses pasar.

Dengan pendekatan tersebut, orientasi pendampingan petani tidak lagi sebatas “bagaimana menghasilkan”, tetapi berkembang menjadi “bagaimana hasil tersebut memiliki nilai tambah dan memberikan keuntungan lebih besar bagi petani.”

Sederhananya, penyuluh tidak hanya mengawal petani dari tanam hingga panen. Lebih jauh, penyuluh diharapkan mampu mengawal perjalanan produk dari lahan hingga pasar.

Dari produksi menuju hilirisasi. Dari komoditas menjadi produk. Dari hasil panen menjadi nilai tambah dan kesejahteraan petani. (DND)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar