GIANYAR – Benih tak hanya ditanam, tetapi juga bisa dipanen. Dari hamparan sawah Subak Kembengan, Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar, petani menunjukkan langkah nyata bahwa sawah mereka bukan sekadar tempat menghasilkan gabah, tetapi juga dapat menjadi sumber benih bermutu.
Semangat itu terlihat saat petani bersama para penyuluh melakukan ubinan di tengah hamparan padi varietas Inpari 32. Dengan penuh perhatian, mereka mengukur petak sampel, memotong rumpun padi, hingga menimbang hasilnya. Momen tersebut menjadi penentu untuk melihat potensi produksi sekaligus hasil budidaya yang dikembangkan petani.

Dari ubinan diperoleh bobot 6,12 kilogram. Jika dikonversi, capaian tersebut setara dengan produktivitas 97,92 kuintal per hektare atau sekitar 9,79 ton per hektare pada lahan seluas satu hektare.
Bagi petani dan penyuluh yang terlibat, angka tersebut bukan sekadar hasil panen. Capaian itu menjadi bukti bahwa dengan ketekunan, pendampingan, dan penerapan teknologi budidaya yang tepat, sawah petani mampu menghasilkan produksi sekaligus menjadi sumber benih bermutu.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ni Made Yuliani Putri, SP., M.Agb., mengatakan pengembangan produksi benih di tingkat petani merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan benih bermutu sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

“Petani tidak hanya kita dorong untuk menghasilkan gabah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan benih bermutu. Dengan pendampingan yang dilakukan secara bersama-sama, kita berharap produksi benih di tingkat petani terus berkembang dan mampu mendukung kebutuhan benih di daerah,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan panen mandiri benih Inpari 32 di Subak Kembengan menjadi gambaran besarnya potensi petani apabila mendapat pendampingan dan teknologi yang tepat.
“Ini bukan hanya soal hasil panen, tetapi bagaimana petani mulai memiliki peran lebih besar dalam membangun sistem perbenihan yang mandiri dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dari sisi perbenihan, Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama, I Putu Gede Arya Pramana, SP., menegaskan bahwa produksi benih bermutu membutuhkan proses yang terukur sejak pertanaman hingga panen.

“Dalam produksi benih, hasil yang tinggi memang penting, tetapi mutu benih juga menjadi perhatian utama. Karena itu, pengawasan dilakukan sejak pertanaman sampai proses panen agar benih yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang ditetapkan,” jelasnya.
Ia menilai keterlibatan petani dalam produksi benih merupakan langkah positif. Petani tidak lagi hanya menjadi pengguna, tetapi mulai memahami dan menjalankan proses perbenihan secara langsung.
“Harapannya, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu musim. Petani semakin memahami proses produksi benih dan ke depan mampu menjadi bagian dari penyediaan benih bermutu untuk kebutuhan petani lainnya,” katanya.
Pengembangan benih di Subak Kembengan tidak berjalan sendiri. Dinas Pertanian bersinergi dengan POPT, PBT, penyuluh pertanian, dan petani melalui pendampingan budidaya, pengamatan dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, pengawasan mutu, serta proses perbenihan hingga panen.

Peran petani juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. I Gusti Wiranata, Jero Mangku Wayan Pama, Ketut Sudiasa, dan I Gusti Ketut Murtika turut mengambil bagian dalam upaya membangun produksi benih di tingkat petani.
Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya untuk memperkuat sistem perbenihan lokal. Ketika petani mampu memproduksi benih bermutu, manfaatnya tidak hanya dirasakan pada satu musim tanam, tetapi dapat menjadi fondasi bagi keberlanjutan produksi pangan di daerah.
Sebab, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak gabah yang dipanen. Ada satu mata rantai yang tak kalah penting: benih yang bermutu dan tersedia secara berkelanjutan.
Dan di Kembengan, mata rantai itu mulai tumbuh dari tangan petani sendiri.
Koresponden: Jaya Mahendra BPP Gianyar






Komentar