BerandaLintas DaerahTak Tunggu Alat Datang, PPL Sukasada Bikin Atabela Sen…
Lintas Daerah

Tak Tunggu Alat Datang, PPL Sukasada Bikin Atabela Sendiri

Tak ingin menunggu alat datang, PPL Wilbin Sukasada Gede Ardana memilih turun tangan. Atabela dibuat sendiri, lalu langsung diuji di sawah bersama petani. Dari kreativitas sederhana itulah, penerapan PM AAS mulai ditanam di Subak Yeh Lawas.

FacebookWhatsAppXTelegram

BULELENG — Tak semua inovasi pertanian lahir dari mesin mahal. Ada yang justru berawal dari tangan penyuluh, sedikit kreativitas, lalu diuji langsung di tengah hamparan sawah.

Itulah yang terjadi di Subak Yeh Lawas, wilayah kerja BPP Kecamatan Sukasada Buleleng, Kamis (3/9/2026). Di lahan garapan Ketut Pasek Semada seluas 10 are, petani bersama penyuluh mulai menguji penerapan PM AAS (Pertanian Modern–Advanced Agriculture System).

Demplot tersebut menjadi langkah awal untuk melihat sejauh mana konsep pertanian modern bisa diterapkan secara sederhana dan sesuai kondisi di lapangan.

1


Benih yang digunakan adalah Cakra Buana. Sedangkan proses penanaman dilakukan menggunakan alat tanam benih langsung (atabela).

Yang menarik, atabela itu bukan hasil belanja dari katalog alat mesin pertanian. Alat tersebut justru dibuat sendiri oleh PPL Wilbin Kelurahan Sukasada, Gede Ardana.

Ia merancang dan menyesuaikan alat tersebut dengan kondisi lahan serta kebutuhan petani. Sederhana, tetapi punya satu tujuan, membuktikan bahwa inovasi tidak harus selalu mahal untuk bisa dimulai.

Gerakan tanam ini mendapat perhatian dari jajaran petugas pertanian. Hadir Katimker Kabupaten Buleleng, Koordinator BPP Sukasada, Kelian Subak Yeh Lawas, POPT Kecamatan Sukasada, Petugas Data Kecamatan, serta PPL Wilayah Sukasada.

Di tengah hamparan sawah, kegiatan berlangsung sederhana. Banyak diskusi muncul, mulai dari cara kerja atabela, teknis tanam, hingga bagaimana metode PM AAS dapat diterapkan tanpa membuat petani merasa bahwa modernisasi pertanian adalah sesuatu yang rumit.

Koordinator BPP Sukasada Mohammad Hanan, SP, mengatakan demplot tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama.

“Ini menjadi langkah awal yang sangat baik. Kita tidak hanya berbicara tentang pertanian modern, tetapi langsung mencoba dan melihat penerapannya di lapangan. Demplot di Yeh Lawas ini nantinya bisa menjadi bahan pembelajaran bersama, terutama untuk melihat bagaimana PM AAS bisa diterapkan sesuai kondisi petani dan lahannya.”

3


Bagi Kelian Subak Yeh Lawas Ketut Pasek Semada, kehadiran teknologi baru justru penting untuk diperkenalkan langsung kepada petani.

“Kami di subak tentu menyambut baik adanya kegiatan seperti ini. Petani perlu melihat langsung bagaimana cara tanam dan alat yang digunakan. Kalau hasilnya bagus dan memang bisa memudahkan pekerjaan petani, tentu kami sangat terbuka untuk mengembangkan cara seperti ini.”

Sementara itu, PPL Wilbin Sukasada Gede Ardana mengaku demplot tersebut memang sengaja dijadikan sebagai langkah awal untuk mencoba sekaligus belajar.

“Demplot ini memang kami jadikan sebagai langkah awal untuk mencoba. Atabela yang digunakan juga kami buat sendiri, menyesuaikan kondisi di lapangan. Kami ingin membuktikan dulu bagaimana penerapannya, kemudian mengamati pertumbuhannya sampai panen. Kalau hasilnya baik, tentu akan lebih mudah untuk kita kenalkan kepada petani lainnya.”

Demplot 10 are tersebut memang belum berbicara soal luasan. Belum pula soal hasil panen. Yang sedang diuji adalah prosesnya.

Bagaimana tanaman tumbuh, seberapa mudah alat digunakan, bagaimana respons petani, hingga hasil panen nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah metode tersebut layak dikembangkan lebih luas.

Sebab, modernisasi pertanian bukan semata soal menghadirkan teknologi canggih. Teknologi baru akan berarti ketika bisa bekerja di sawah, mudah digunakan petani, dan memberi manfaat nyata.

Dan di Yeh Lawas, proses itu dimulai dari hal yang cukup sederhana, seorang penyuluh membuat atabela sendiri, lalu mengajak petani mencobanya.

Barangkali inilah wajah lain pertanian modern. Tak selalu dimulai dari mesin mahal. Kadang cukup dari ide sederhana, tangan yang mau bekerja, dan keberanian untuk mencoba.

Dari 10 are di Yeh Lawas, sebuah percobaan kecil ditanam. Kini tinggal menunggu waktu, bukan hanya padinya yang tumbuh, tetapi apakah inovasi kecil itu juga bisa ikut berakar di kalangan petani.

Koresponden: DND BPP Sukasada Buleleng

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar