BerandaLintas DaerahTak Menunggu, Penyuluh Tabanan Gerakkan Demplot Swadaya
Lintas Daerah

Tak Menunggu, Penyuluh Tabanan Gerakkan Demplot Swadaya

Tak menunggu program berjalan, penyuluh pertanian Tabanan memilih bergerak lebih dulu. Melalui demplot swadaya, inovasi PM-AAS diperkenalkan langsung kepada petani sebagai langkah nyata mendorong pertanian modern di tengah berbagai tantangan lapangan.

FacebookWhatsAppXTelegram

TABANAN – Tak ingin modernisasi pertanian berhenti sebatas wacana, sejumlah penyuluh pertanian di Kabupaten Tabanan memilih bergerak lebih dulu. Melalui demplot swadaya, mereka turun langsung memperkenalkan penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) kepada petani.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya penyuluh mengawal program strategis Kementerian Pertanian di tengah berbagai tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan tenaga penyuluh, ketersediaan air irigasi hingga perbedaan waktu tanam antarkawasan.

Komitmen itu mengemuka dalam Rapat Evaluasi Program Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2026 yang digelar di Ruang Rapat Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Minggu (30/8). Rapat diikuti Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan Sari Dewi Indrawati, S.E., Katimker Penyuluh Pertanian Kabupaten Ir. I Made Widiada, M.P., serta seluruh penyuluh pertanian Kabupaten Tabanan.

WhatsApp Image 2026 09 03 at 15.49.52


Forum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi untuk melihat progres sejumlah program strategis Kementan, khususnya Luas Tambah Tanam (LTT) dan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).

Tabanan memiliki target LTT terbesar dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Bali. Besarnya target tersebut tentu bukan perkara sederhana. Apalagi, di lapangan jumlah tenaga penyuluh masih terbatas. Rata-rata seorang penyuluh harus mendampingi sekitar empat desa.

Kondisi itu membuat peran penyuluh menjadi semakin strategis. Mereka bukan hanya menyampaikan program pemerintah kepada petani, tetapi juga menjadi mata dan telinga pemerintah di lapangan—mendeteksi persoalan, mencari solusi, sekaligus memastikan inovasi benar-benar diterapkan petani.

“Penyuluh harus mampu menjadi penggerak di lapangan. Ketika target besar dan sumber daya terbatas, yang dibutuhkan adalah kerja bersama, inovasi, serta kemampuan membaca kondisi di masing-masing wilayah,” demikian semangat yang mengemuka dalam evaluasi tersebut.

WhatsApp Image 2026 09 03 at 15.49.53 (1)


PM-AAS Mulai Bergerak dari Lapangan

Di tengah keterbatasan tersebut, implementasi PM-AAS di Tabanan mulai menunjukkan geliat. Sejumlah penyuluh bahkan menginisiasi demplot swadaya sebagai bentuk komitmen memperkenalkan sistem pertanian modern kepada petani.

Tidak hanya bergerak sendiri, penyuluh juga membangun kolaborasi dengan Pupuk Indonesia melalui demplot di beberapa wilayah, antara lain Penebel, Marga, dan Baturiti.

 

Namun, penerapan PM-AAS tidak bisa dilakukan seragam di semua wilayah. Beberapa kecamatan menghadapi kendala karena momentum tanam padi telah terlewati. Sebagian lahan juga telah dimanfaatkan untuk komoditas lain, seperti jagung.

Bagi penyuluh, kondisi tersebut bukan alasan untuk berhenti. Justru menjadi bahan evaluasi untuk menentukan strategi dan momentum penerapan teknologi pada musim tanam berikutnya.

El Nino dan Air Irigasi Jadi Tantangan

Persoalan lain yang cukup serius adalah ketersediaan air. Pengaruh El Nino menyebabkan debit air irigasi di sejumlah wilayah mengalami penurunan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pertanaman padi sekaligus meningkatkan risiko kekeringan.

Penyuluh di lapangan dituntut tidak sekadar mengidentifikasi persoalan, tetapi juga membantu petani mencari langkah antisipasi. Salah satunya dengan memaksimalkan pemanfaatan pompa bantuan Kementerian Pertanian untuk mendukung ketersediaan air bagi pertanaman.

Di sinilah peran penyuluh kembali menjadi penting. Ketika kondisi lapangan berubah cepat, penyuluh menjadi penghubung antara kebijakan, teknologi, bantuan pemerintah, dan kebutuhan riil petani.

WhatsApp Image 2026 09 03 at 15.49.53 (3)


Penguatan SDM Petani

Dari sisi Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, penguatan kapasitas petani juga terus dilakukan. Kabid Penyuluhan Sari Dewi Indrawati, S.E., menyampaikan bahwa tahun ini dilakukan bimbingan teknis peningkatan kapasitas petani, khususnya di bidang tanaman pangan.

Dukungan terhadap kegiatan penyuluhan juga direncanakan diperkuat pada tahun mendatang. Salah satunya melalui rencana pengadaan dua unit printer untuk dua BPP guna mendukung kelancaran administrasi dan aktivitas penyuluhan di tingkat lapangan.

Langkah tersebut menjadi bagian penting karena transformasi pertanian tidak cukup hanya mengandalkan alat dan teknologi. Kapasitas manusia—petani dan penyuluh—tetap menjadi fondasi utama.

Rapat evaluasi akhirnya menegaskan satu hal: pencapaian target strategis Kementan tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak. Pemerintah daerah, penyuluh, petani, dunia usaha, BRMP, serta seluruh pemangku kepentingan harus bergerak dalam satu irama.

Dan di tengah semua itu, penyuluh tetap berada di garis depan. Mereka yang paling dekat dengan petani, memahami denyut persoalan di sawah, sekaligus menjadi penggerak agar program pemerintah tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar tumbuh di lahan pertanian Tabanan.

Koresponden: Gede Artha BPP Kerambitan Tabanan

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar