BerandaLintas DaerahMisteri Kematian Puluhan Pohon Kopi di Pegayaman, Peny…
Lintas Daerah

Misteri Kematian Puluhan Pohon Kopi di Pegayaman, Penyuluh Tak Tinggal Diam

Satu per satu pohon kopi mati. Jumlahnya kini mencapai sekitar 70 tanaman. Produksi pun terjun dari satu ton menjadi hanya 500 kilogram. Di tengah ancaman meluasnya kematian tanaman, penyuluh bersama Tim SIGAP BPP Sukasada bergerak mencari biang penyakitnya.

FacebookWhatsAppXTelegram

BULELENG — Puluhan pohon kopi di kebun Ketut Suwitra, kawasan Subak Abian Amertha Sari, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, mati satu per satu. Penyebabnya belum sepenuhnya terungkap. Namun, di tengah ancaman penurunan produksi, penyuluh bersama Tim SIGAP BPP Sukasada memilih tidak tinggal diam.

Kebun kopi seluas sekitar dua hektare itu selama ini menjadi salah satu tumpuan penghasilan keluarga Ketut Suwitra. Namun, sejak 2025, kondisi kebunnya mulai berubah. Tanaman yang semula tumbuh produktif perlahan menunjukkan gejala gangguan hingga akhirnya mati.

WhatsApp Image 2026 08 31 at 20.03.08


Hingga kini, sekitar 70 tanaman kopi telah mati. Dampaknya mulai terasa pada hasil panen. Jika sebelumnya Ketut mampu menghasilkan sekitar satu ton kopi, kini produksinya merosot menjadi sekitar 500 kilogram.

Penurunan produksi hingga separuhnya itu tentu bukan persoalan kecil bagi petani. Apalagi, kematian tanaman masih berpotensi meluas apabila penyebabnya tidak segera diketahui dan ditangani.

Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian Tim SIGAP BPP Sukasada. Tim turun langsung ke kebun untuk melakukan pengamatan dan identifikasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Dari pengamatan awal di lapangan, ditemukan indikasi serangan jamur pada bagian perakaran. Gejalanya juga terlihat berlanjut hingga bagian batang tanaman. Temuan tersebut mengarah pada dugaan serangan jamur akar putih. Namun, kepastian mengenai jenis patogen masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Dewet Penyuluh dan POPT
Duwet Penyuluh dan POPT 

POPT Kecamatan Sukasada, Ni Putu Eka Handayani, SP, menegaskan bahwa hasil pengamatan lapangan belum dapat dijadikan sebagai diagnosis akhir.

“Dari pengamatan awal, kami menemukan adanya indikasi serangan jamur pada bagian perakaran yang kemudian terlihat sampai ke batang. Tetapi untuk memastikan jenis penyakitnya, sampel tanaman yang terserang akan kami bawa untuk diperiksa lebih lanjut,” jelasnya.

Menurut Eka, ketepatan identifikasi menjadi kunci sebelum menentukan langkah pengendalian. Penyakit tanaman tidak bisa ditangani sekadar berdasarkan dugaan. Penyebab harus dipastikan agar tindakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan jenis patogen dan kondisi tanaman di lapangan.

“Jangan sampai pengendalian dilakukan secara coba-coba. Dengan mengetahui penyebabnya secara pasti, langkah pengendalian bisa lebih tepat dan efektif,” tambahnya.

Penyuluh Turun Tangan

Sementara itu, Koordinator BPP Sukasada sekaligus PPL Wilbin Desa Pegayaman, Mohammad Hanan, SP, mengatakan persoalan yang dihadapi Ketut Suwitra menjadi perhatian penyuluh karena kematian tanaman secara terus-menerus berujung pada penurunan produktivitas dan pendapatan petani.

WhatsApp Image 2026 08 31 at 20.03.05


“Kami tidak ingin hanya melihat tanaman yang sudah mati. Yang lebih penting adalah mencari tahu penyebabnya, kemudian bagaimana mencegah agar tanaman yang masih sehat tidak ikut terserang. Karena dampaknya sudah terlihat pada penurunan hasil panen petani,” ujarnya.

Menurut Hanan, pendampingan tidak berhenti pada pengamatan awal. Tim SIGAP BPP Sukasada akan terus mengikuti proses identifikasi hingga diperoleh rekomendasi pengendalian yang dapat diterapkan petani.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat masih terdapat tanaman kopi yang bertahan dan diharapkan dapat dipertahankan produktivitasnya.

Bagi Ketut Suwitra, harapannya pun sederhana. Ia ingin tanaman kopi yang masih hidup dapat diselamatkan sehingga kebunnya kembali produktif.

“Kalau tanaman terus mati, tentu hasil semakin berkurang. Dulu bisa sekitar satu ton, sekarang tinggal setengahnya. Saya berharap dari pemeriksaan ini bisa diketahui penyakitnya dan bagaimana cara mengatasinya, supaya tanaman yang masih ada tidak ikut mati,” ungkapnya.

WhatsApp Image 2026 08 31 at 20.03.14


Dari Kebun Menuju Kepastian

Sebagai tindak lanjut, sampel tanaman kopi yang menunjukkan gejala serangan akan dibawa ke BPTPHBUN untuk memastikan jenis penyakit atau patogen yang menyerang.

Hasil pemeriksaan tersebut nantinya menjadi pijakan dalam menentukan strategi pengendalian. Dengan demikian, penanganan tidak sekadar bersifat reaktif, tetapi diarahkan pada upaya menyelamatkan tanaman yang masih sehat sekaligus mencegah penyebaran gangguan pada areal kebun.

Bagi Tim SIGAP BPP Sukasada, persoalan di kebun Ketut Suwitra bukan sekadar cerita tentang puluhan pohon kopi yang mati. Di balik setiap tanaman yang kehilangan produktivitas, ada hasil panen dan pendapatan petani yang ikut terancam.

Karena itu, pengamatan dini, identifikasi OPT, pengambilan sampel, serta tindak lanjut berbasis hasil pemeriksaan menjadi rangkaian penting untuk menjaga keberlanjutan tanaman kopi di Pegayaman.

WhatsApp Image 2026 08 31 at 20.02.48


Sebab bagi penyuluh, hadir di tengah petani bukan hanya ketika tanaman tumbuh subur dan panen berhasil. Justru ketika tanaman mulai bermasalah, di situlah pendampingan diuji.

SIGAP bukan sekadar datang ketika panen berhasil. SIGAP hadir ketika tanaman bermasalah, mencari penyebab, memastikan masalahnya, dan bersama petani menemukan jalan keluarnya.

Koresponden; DND BPP Sukasada Buleleng

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar