BerandaLintas DaerahPenyuluh Kawal PHC, Gianyar Kejar Swasembada
Lintas Daerah

Penyuluh Kawal PHC, Gianyar Kejar Swasembada

Penyuluh pertanian tak sekadar mengantar bantuan, tetapi memastikan teknologi dan input pertanian benar-benar sampai ke lahan petani. Peran itu terlihat dalam distribusi 936 botol pupuk hayati cair di Kecamatan Gianyar, dikawal langsung PPL untuk mendukung budidaya padi di 156 hektare lahan pada 9 subak.

FacebookWhatsAppXTelegram

GIANYAR – Upaya memperkuat produktivitas pertanian tidak cukup hanya dengan mengejar luas tanam dan produksi. Kesehatan tanah dan kecukupan nutrisi tanaman juga menjadi kunci. Karena itu, pemenuhan hara secara berimbang terus didorong sebagai bagian dari strategi mendukung swasembada pangan.

Langkah konkret dilakukan Kabupaten Gianyar melalui distribusi pupuk hayati cair (PHC) kepada kelompok tani di sejumlah wilayah Kecamatan Gianyar, Jumat (28/8). Sebanyak 936 botol PHC disalurkan untuk mendukung budidaya pada areal sawah seluas 156 hektare, yang tersebar di 9 desa dan 9 subak.

Distribusi PHC tersebut dikawal langsung oleh masing-masing Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah binaan dan dipantau Koordinator BPP Kecamatan Gianyar, Ni Nyoman Apriani, SP.

2


Penyaluran ini menjadi bagian dari upaya mendorong petani menerapkan pemupukan secara lebih efektif dan efisien. Sebab, konsep nutrisi berimbang bukan berarti memberikan pupuk sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan tanaman memperoleh unsur hara sesuai kebutuhan, kondisi tanah, fase pertumbuhan, dan target produksi.

Tanaman membutuhkan beragam unsur hara. Tidak hanya nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), tetapi juga unsur sekunder dan mikro seperti kalsium, magnesium, sulfur, seng, besi, mangan, tembaga, dan boron. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, namun saling berkaitan dalam menopang pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Nitrogen, misalnya, berperan dalam pembentukan daun, batang, klorofil, dan protein. Fosfor mendukung perkembangan akar, pembentukan energi, pembungaan hingga pembentukan biji. Sedangkan kalium berperan dalam pengaturan keseimbangan air, penguatan jaringan tanaman, efisiensi fotosintesis serta membantu tanaman menghadapi cekaman lingkungan.

Di sisi lain, unsur hara sekunder dan mikro juga tidak bisa diabaikan. Magnesium menjadi bagian penting dalam pembentukan klorofil, kalsium membantu memperkuat jaringan tanaman, sementara sulfur berperan dalam pembentukan protein. Unsur mikro yang dibutuhkan dalam jumlah relatif kecil pun tetap memiliki peran penting dalam berbagai proses metabolisme tanaman.

3


Di sinilah pupuk hayati cair mengambil peran. PHC yang mengandung mikroorganisme menguntungkan dan zat pengatur tumbuh (ZPT) dapat menjadi salah satu bagian dari pendekatan budidaya untuk membantu tanaman memanfaatkan nutrisi secara lebih optimal.

Mikroorganisme menguntungkan di dalam pupuk hayati dapat mendukung aktivitas biologis di sekitar perakaran. Di antaranya membantu proses penguraian bahan organik dan meningkatkan ketersediaan sejumlah unsur hara sehingga lebih mudah dimanfaatkan tanaman.

Lingkungan perakaran yang lebih aktif diharapkan mampu mendukung perkembangan akar sekaligus meningkatkan efisiensi penyerapan air dan unsur hara. Dengan demikian, pemberian pupuk hayati tidak semata-mata dimaknai sebagai tambahan nutrisi, tetapi juga sebagai upaya membangun lingkungan tumbuh yang lebih mendukung bagi tanaman.

Kandungan ZPT seperti auksin, sitokinin, dan giberelin juga memiliki fungsi dalam mengatur pertumbuhan tanaman. Auksin berperan dalam pembentukan dan perkembangan akar, sitokinin mendukung pembelahan dan perkembangan sel serta pertumbuhan tunas, sedangkan giberelin berperan dalam pemanjangan sel dan perkembangan organ tanaman.

Pada tanaman pangan, termasuk padi, kondisi nutrisi yang lebih seimbang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan tanaman, pembentukan anakan produktif, perkembangan malai, pengisian gabah hingga pencapaian hasil yang optimal.

Namun demikian, penerapan nutrisi berimbang tetap harus ditempatkan dalam kerangka tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan tepat sasaran. Kelebihan unsur tertentu justru dapat mengganggu keseimbangan hara dan menghambat penyerapan unsur lainnya.

Karena itu, pendampingan penyuluh menjadi penting. Distribusi bantuan tidak berhenti pada penyerahan produk, tetapi perlu dikawal agar pemanfaatannya sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi di lapangan.

4


Melalui pendampingan PPL dan koordinasi BPP, PHC yang telah didistribusikan diharapkan benar-benar memberikan manfaat bagi petani. Tidak hanya mendorong pertumbuhan tanaman yang lebih sehat dan seragam, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penggunaan input pertanian.

Pada akhirnya, swasembada pangan tidak hanya berbicara tentang seberapa luas lahan yang ditanami, tetapi juga seberapa sehat tanaman tumbuh dan seberapa optimal hasil yang dihasilkan. Dari subak, upaya itu terus dirawat—dengan tanah yang sehat, nutrisi yang berimbang, dan pendampingan yang hadir di tengah petani.

Distribusi PHC di Kecamatan Gianyar pun diharapkan mampu mendukung pencapaian swasembada pangan sekaligus memperkuat berbagai program strategis pembangunan tanaman pangan di Kabupaten Gianyar.

Koresponden: Gede Jaya Mahendra BPP Gianyar

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar