BADUNG — Menjaga ketahanan pangan tak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pangan yang telah sampai di meja makan pun harus dihargai dan dimanfaatkan secara bijak. Pesan inilah yang didorong penyuluh pertanian melalui edukasi Stop Boros Pangan, dengan mengajak keluarga menjadi bagian dari gerakan mengurangi pangan yang terbuang.
Upaya tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Stop Boros Pangan di gagas Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, digelar di Kantor Perbekel Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung, Senin (24/8). Kegiatan yang menjadi bagian dari peningkatan ketahanan pangan keluarga tersebut melibatkan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Penarungan bersama 20 orang anggota.

Pertemuan dibuka Sekretaris Desa Penarungan I Gede Gumatra, ST. Turut hadir Penyuluh Pertanian wilayah binaan Desa Penarungan, drh. Ni Ketut Subudhiasri, serta narasumber dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.
Di hadapan peserta, dua narasumber Gusti Ayu emy prastika yuli STP., dan Ir. Ni Wayan Suwarni, M.si., mengangkat persoalan food waste atau pangan berlebih, yakni pangan yang masih dalam kondisi baik dan aman untuk dikonsumsi, tetapi tidak dimanfaatkan sehingga berpotensi menjadi sampah.
Persoalan ini ternyata bukan perkara sepele. Secara global, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun. Yang lebih mengejutkan, rumah tangga menjadi penyumbang terbesar. Berdasarkan UNEP Food Waste Index Report 2024, sekitar 60 persen sisa pangan berasal dari rumah tangga. Berikutnya jasa layanan makanan 28 persen serta ritel dan supermarket 12 persen.
Di Indonesia, persoalan kehilangan dan pemborosan pangan juga masih cukup besar. Kajian Bappenas 2021 mencatat timbulan food loss and waste mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun, atau setara 115–184 kilogram per kapita setiap tahun.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pangan tidak berhenti ketika hasil pertanian meninggalkan lahan. Pangan melewati proses panjang sebelum tersaji di meja makan. Karena itu, upaya mengurangi pemborosan pangan membutuhkan perubahan perilaku, dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga.
Dalam konteks inilah penyuluh pertanian memiliki ruang pengabdian yang semakin luas. Tidak hanya mendampingi petani dalam meningkatkan produksi, penyuluh juga dapat menjadi penggerak edukasi masyarakat untuk membangun kesadaran bahwa setiap pangan yang dikonsumsi memiliki nilai ekonomi, sosial, lingkungan, dan berasal dari kerja panjang para petani.

Sosialisasi mengungkap sejumlah perilaku yang menjadi pemicu food waste. Di antaranya kebiasaan menyisakan makanan, menyediakan makanan secara berlebihan, membeli makanan yang tidak disukai, mengambil makanan melebihi kebutuhan, hingga membiarkan makanan tersimpan terlalu lama sampai kedaluwarsa.
Karena itu, perubahan tidak harus dimulai dengan langkah besar. Ibu-ibu PKK didorong menjadi motor perubahan di dalam keluarga dengan memasak dan menyajikan makanan secukupnya sesuai kebutuhan anggota keluarga.
Tak kalah penting, edukasi juga perlu ditanamkan kepada anak-anak. Membiasakan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan makanan yang telah disajikan merupakan pendidikan sederhana untuk membangun karakter hemat, bertanggung jawab, sekaligus menghargai pangan.
Gerakan Stop Boros Pangan pada akhirnya bukan sekadar ajakan untuk menghabiskan makanan. Lebih jauh, gerakan ini merupakan bentuk penghargaan terhadap pangan sejak diproduksi petani hingga tersaji di meja makan.
Melalui sinergi penyuluh pertanian, pemerintah desa, PKK, dan masyarakat, kesadaran tersebut diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari. Sebab, menjaga pangan bukan hanya soal bagaimana menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana memastikan pangan yang telah dihasilkan tidak berakhir sia-sia.
Koresponden: . Ni Ketut Subudhiasri BPP Mengwi Badung.






Komentar