TABANAN – Bantuan ayam petelur tidak berhenti pada proses penyerahan. Di balik terealisasinya bantuan tersebut, ada proses panjang yang dikawal penyuluh pertanian, mulai dari pengajuan hingga memastikan kelompok penerima benar-benar siap mengelola usaha.
Peran pendampingan itu terliha dalam penyaluran bantuan ayam petelur kepada Kelompok Tani Kembang Asri dan Kelompok Tani Sadu Sida Nadi, Banjar Dinas Pinge, Desa Baru, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Jumat (28/8).

Dua kelompok tersebut masing-masing menerima satu paket bantuan berupa 600 ekor ayam petelur, kandang, serta pakan selama tiga bulan. Bantuan dari Kementerian Pertanian melalui Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Bali itu diserahkan oleh Hosea Abdiel Duto Wicaksono, S.Pt., Saiful Handoko Hidayat, A.Md., dan Ni Putu Melati Widya Putri, A.Md., dengan pendampingan penyuluh wilayah binaan BPP Marga Tabanan, Pande Nyoman Wiratih Sukma, S.Pt. Kehadiran penyuluh menjadi bagian penting dalam memastikan kelompok siap menerima sekaligus mengembangkan bantuan tersebut menjadi usaha peternakan yang produktif dan berkelanjutan.
Namun, untuk sampai ke kandang peternak, prosesnya tidak singkat.
Penyuluh menjadi salah satu mata rantai penting yang mendampingi kelompok sejak tahap awal. Pendampingan dimulai dari membantu kelompok dalam proses pengajuan bantuan, memastikan kelengkapan administrasi, hingga mendampingi tahapan verifikasi kelompok dan calon penerima bantuan atau CPCL.

Pendampingan kemudian berlanjut ke lapangan. Penyuluh bersama pihak terkait memastikan kondisi kelompok, kesiapan sarana dan prasarana, serta kesanggupan calon penerima dalam mengelola bantuan. Verifikasi lapangan menjadi bagian penting agar bantuan benar-benar diberikan kepada kelompok yang memenuhi persyaratan dan memiliki kesiapan untuk mengembangkan usaha.
Dengan pola pendampingan tersebut, penyuluh tidak hanya berperan sebagai penghubung informasi antara program pemerintah dan petani. Lebih dari itu, penyuluh ikut memastikan kelompok memahami proses, memenuhi persyaratan, serta memiliki kesiapan ketika bantuan akhirnya diterima.
Bagi Kembang Asri dan Sadu Sida Nadi, terealisasinya bantuan 600 ayam petelur menjadi awal dari pekerjaan yang lebih besar. Kelompok dituntut mampu menjaga kesehatan dan produktivitas ayam, mengelola pakan secara efisien, menjaga kebersihan kandang, serta melakukan pencatatan produksi dan biaya usaha.
Pendampingan penyuluh pun diharapkan
tidak berhenti ketika bantuan diserahkan. Kawalan
di tingkat kelompok menjadi penting agar bantuan yang diberikan pemerintah
benar-benar tumbuh menjadi usaha produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi anggota.Sebab, keberhasilan bantuan tidak semata diukur dari jumlah ayam yang diterima. Ukurannya adalah bagaimana bantuan tersebut dipelihara, dikembangkan, menghasilkan telur, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan serta kemandirian petani.
“Kami sangat bersyukur mendapat bantuan ayam petelur ini. Sejak proses pengajuan hingga verifikasi, kami mendapat pendampingan dari penyuluh. Kami dibantu menyiapkan administrasi, melengkapi persyaratan, sampai memastikan kesiapan kelompok dan kandang. Bantuan ini akan kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan anggota,” ujar I Nyoman Puspa.
Menurutnya, kelompok yang beranggotakan 20 orang memiliki komitmen untuk menjaga ayam dan mengelola usaha secara bersama. Bantuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangkan usaha peternakan yang lebih mandiri.
“Kami berharap usaha ini bisa terus berkembang. Tidak hanya menghasilkan telur, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggota kelompok,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan AA Ngurah Arimbawa, Ketua Kelompok Tani Sadu Sida Nadi. Ia menilai pendampingan penyuluh menjadi bagian penting dalam proses hingga bantuan dapat direalisasikan.
“Pendampingan penyuluh sangat membantu kami. Kami diarahkan sejak pengajuan bantuan, persiapan administrasi, proses CPCL, sampai pengecekan kesiapan kelompok di lapangan. Jadi, kami tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memahami apa yang harus dipersiapkan dan bagaimana mengelolanya,” kata AA Ngurah Arimbawa.
Kelompok Sadu Sida Nadi yang juga beranggotakan 20 orang berkomitmen memanfaatkan bantuan tersebut secara optimal.
“Kami akan berusaha menjaga amanah bantuan ini. Harapannya, usaha ayam petelur bisa berkembang, produksinya baik, dan ke depan mampu menjadi sumber pendapatan tambahan bagi anggota kelompok,” ujarnya.
Dari proposal hingga kandang, perjalanan bantuan itu sekaligus menunjukkan satu hal, program pemerintah akan lebih bermakna ketika hadir bersama pendampingan di lapangan. Di titik inilah penyuluh mengambil peran—mengawal program agar tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi bergerak menjadi usaha yang berkelanjutan.
Koresponden: Ratih BPP Marga Tabanan






Komentar