BerandaLintas DaerahPenyuluh di Garda Biosekuriti, Sad Asri Siap Jadi Demp…
Lintas Daerah

Penyuluh di Garda Biosekuriti, Sad Asri Siap Jadi Demplot

Malam hari bukan penghalang bagi penyuluh dan peternak untuk berbenah. Di tengah kesibukan menjaga ternak, Kelompok Tani Ternak Sad Asri mematangkan langkah menjadi demplot biosekuriti. Didampingi Penyuluh Pertanian I Nyoman Widnyana Putra, sebanyak 20 anggota kelompok menyatukan komitmen membangun pertahanan ternak dari ancaman penyakit, khususnya LSD dan PMK.

FacebookWhatsAppXTelegram

JEMBRANA — Malam bukan alasan bagi peternak untuk berhenti belajar dan berbenah. Di rumah Ketua Kelompok Tani Ternak Sad Asri, I Putu Yudiana Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, , Sabtu malam, 30 Agustus 2026, sebanyak 20 anggota kelompok berkumpul. Didampingi Penyuluh Pertanian I Nyoman Widnyana Putra, SP. mereka mematangkan kesiapan menjadi salah satu demplot penerapan biosekuriti ternak.

3


Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan proyek Sustainable Beef Cattle Production through Foot and Mouth Disease and Lumpy Skin Disease Control (SBSFRa-LSD). Bukan sekadar rapat, pertemuan malam itu menjadi ruang bagi kelompok untuk menyatukan langkah sebelum program diterapkan di tingkat kandang.

Agenda yang dibahas cukup teknis. Mulai penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), kalender kerja, hingga penyampaian informasi kepada anggota yang sebelumnya berhalangan hadir. Seluruh anggota diharapkan memahami tahapan kegiatan sekaligus memiliki komitmen yang sama dalam menerapkan biosekuriti.

“Bagi kami, menjadi demplot biosekuriti ini merupakan kepercayaan sekaligus tanggung jawab. Pengalaman menghadapi LSD tahun lalu memberi pelajaran bahwa pencegahan jauh lebih penting. Karena itu, kami siap menata kandang, meningkatkan sanitasi, dan mengikuti arahan penyuluh maupun petugas kesehatan hewan,” ujar Ketua Kelompok Tani Ternak Sad Asri, I Putu Yudiana.

Persiapan tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak sekitar sebulan sebelumnya. Tahap awal dilakukan melalui kunjungan untuk menilai kelayakan kelompok sebagai calon demplot. Selanjutnya, pada Rabu dilakukan rapat koordinasi guna membahas tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan.

2


Sehari kemudian, pengecekan langsung dilakukan di lapangan. Kondisi kandang dan lingkungan sekitar menjadi perhatian untuk menentukan fasilitas biosekuriti yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

Kini, proses memasuki tahap persiapan pelaksanaan. Kelompok mulai menyusun RAB dan kalender kerja, sekaligus memastikan seluruh anggota mengetahui peran dan tahapan kegiatan.

Belajar dari Pengalaman LSD

Kesiapan Sad Asri menjadi demplot biosekuriti tidak lahir begitu saja. Kelompok ini memiliki pengalaman menghadapi ancaman Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit infeksius pada sapi pada 2025.

Ketika muncul indikasi gejala klinis, pengurus kelompok segera melaporkannya kepada penyuluh dan petugas medis veteriner. Respons cepat tersebut menjadi bagian penting dalam mencegah penyakit berkembang lebih luas.

Penanganan dilakukan melalui tindakan medis, isolasi ternak yang terpapar, serta peningkatan sanitasi lingkungan kandang. Kolaborasi antara peternak, penyuluh dan tenaga medis veteriner menjadi kekuatan dalam mengendalikan kasus sekaligus memulihkan kondisi ternak.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi anggota kelompok. Bahwa menjaga kesehatan ternak tidak cukup hanya dilakukan ketika penyakit datang. Pencegahan harus menjadi kebiasaan yang dimulai dari kandang.

“Jangan sampai kami belajar dari penyakit setelah ternak terkena. Pengalaman LSD menjadi pelajaran bagi kami bahwa biosekuriti harus dimulai dari kandang sendiri. Ketika dipercaya menjadi demplot, kami siap menjalankan dan menjaganya bersama-sama,” tegas Yudiana.

WhatsApp Image 2026 08 29 at 22.53.41 (1)


Naik Kelas Lewat SBSFRa-LSD

Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal penting ketika pada 2026 Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (GAPUSPINDO) mengintegrasikan Kelompok Tani Ternak Sad Asri dalam proyek SBSFRa-LSD.

Kelompok ini dipersiapkan sebagai demonstration plot (demplot) percontohan penerapan biosekuriti ternak skala kecil. Konsepnya bukan sekadar membangun fasilitas, melainkan membentuk pola pengelolaan kesehatan ternak yang aplikatif dan dapat diterapkan peternak rakyat.

Melalui program tersebut, kelompok akan mendapatkan pembinaan yang meliputi penerapan standar biosekuriti kandang, fasilitasi sarana sanitasi dan disinfeksi, penataan lalu lintas ternak, serta edukasi dan bimbingan teknis mengenai deteksi dini penyakit, khususnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan LSD.

Di titik inilah peran penyuluh menjadi penting. Wilayah binaan Nyoman Widnyana Putra tidak hanya mendampingi kelompok dalam forum pertemuan, tetapi juga mengawal proses persiapan agar penerapan biosekuriti benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan dan mampu dijalankan oleh peternak.

Sebab, biosekuriti tidak berhenti pada tersedianya fasilitas. Yang lebih penting adalah konsistensi peternak dalam menerapkannya. Mulai dari menjaga kebersihan kandang, melakukan sanitasi dan disinfeksi, mengatur lalu lintas ternak, hingga mengenali gejala penyakit sedini mungkin.

4


Bagi Sad Asri, kepercayaan menjadi demplot sekaligus menjadi momentum untuk naik kelas dalam pengelolaan usaha peternakan.

Harapannya, penerapan biosekuriti di Sad Asri tidak berhenti sebagai proyek percontohan. Sistem yang dibangun dapat menjadi model sederhana yang bisa dipelajari dan direplikasi oleh kelompok peternak lainnya.

“Harapan kami, penerapan biosekuriti ini tidak hanya melindungi ternak anggota, tetapi juga bisa menjadi contoh bagi kelompok peternak lainnya,” kata Yudiana.

Dari sebuah pengalaman menghadapi ancaman penyakit, Sad Asri kini mengambil langkah berbeda: membangun pertahanan sebelum penyakit kembali datang.

Langkah itu dimulai dari kandang, diperkuat dengan kedisiplinan peternak, pendampingan penyuluh, serta dukungan tenaga kesehatan hewan. Sebuah ikhtiar dari tingkat kelompok untuk menjaga kesehatan ternak, melindungi usaha peternak, dan ikut memperkuat keberlanjutan industri sapi potong nasional.

Koresponden: Widnyana BPP Negara

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar