GIANYAR – Program Mandiri Benih terus didorong sebagai salah satu upaya memperkuat kemandirian petani sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di Kabupaten Gianyar. Di Subak Bunut, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, program tersebut menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.
Hal itu terlihat dari kegiatan pengambilan ubinan yang dilaksanakan di areal pertanaman padi seluas 7 hektare, Rabu (2/9). Dari pengambilan sampel pada petakan berukuran 2,5 x 2,5 meter atau seluas 6,25 meter persegi, diperoleh hasil kotor 7.190 gram. Setelah dilakukan pembersihan, hasil bersih tercatat 7.100 gram.

Hasil tersebut kemudian dikonversikan berdasarkan luasan satu hektare. Dengan perhitungan dari hasil bersih ubinan, produktivitas pertanaman diperkirakan mencapai 11,36 ton per hektare.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator positif pengembangan perbenihan mandiri menggunakan varietas Inpari 32 di tingkat petani. Selain melihat potensi produksi, kegiatan ubinan juga menjadi bagian dari evaluasi terhadap pertanaman yang nantinya mendukung ketersediaan benih bermutu bagi petani di wilayah setempat.
Kegiatan ubinan tersebut turut dihadiri Plt Kepala UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar Dwi Wahyuni, STP., M.Si., Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Ni Made Yuliani Putri, SP., M.Agb., serta Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama I Putu Gede Arya Pramana, SP.
Hadir pula Koordinator BPP Sukawati beserta jajaran penyuluh, Pekaseh Subak Bunut Ketut Narta Irawan, serta penangkar benih I Gusti Ngurah Sura Adnyana, SE., MM.
Plt Kepala UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar Dwi Wahyuni, STP., M.Si., mengatakan, kegiatan ubinan menjadi salah satu instrumen untuk melihat secara langsung potensi hasil pertanaman yang dikembangkan melalui program Mandiri Benih.
“Kegiatan ubinan ini menjadi salah satu cara untuk melihat secara langsung potensi hasil dari pertanaman yang dikembangkan melalui program Mandiri Benih. Hasil yang diperoleh di Subak Bunut cukup menggembirakan, dengan produktivitas berdasarkan hasil konversi ubinan mencapai sekitar 11,36 ton per hektare,” ujar Dwi.

Menurutnya, capaian tersebut tidak semata-mata dilihat dari tingginya angka produktivitas. Lebih penting, program Mandiri Benih diarahkan untuk membangun kemampuan petani agar dapat memenuhi kebutuhan benih bermutu secara mandiri.
“Yang paling penting dari program Mandiri Benih bukan hanya bagaimana kita mendapatkan produksi yang tinggi, tetapi bagaimana petani mampu menyediakan benih bermutu secara mandiri. Dengan begitu, kebutuhan benih dapat dipenuhi tepat waktu dan sesuai dengan kondisi maupun kebutuhan wilayah setempat,” katanya.
Dwi menambahkan, kemandirian benih merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Petani tidak hanya menjadi pengguna benih, tetapi juga dapat berperan dalam penyediaan benih bermutu melalui dukungan penangkar, penyuluh, dan kelembagaan subak.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berkembang. Dengan adanya penangkar dan dukungan penyuluh serta kelembagaan subak, ketersediaan benih unggul di tingkat lokal bisa semakin terjamin. Ini tentu akan mengurangi ketergantungan terhadap benih dari luar daerah,” lanjutnya.
Program Mandiri Benih sendiri memiliki tujuan strategis, yakni meningkatkan kemandirian petani atau kelompok tani dalam penyediaan benih bermutu. Kebutuhan benih diharapkan dapat dipenuhi secara mandiri, tepat waktu, serta sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap benih dari luar daerah, ketersediaan benih unggul di tingkat lokal juga diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas tanaman. Pada akhirnya, peningkatan produktivitas dan produksi pertanian diharapkan berdampak terhadap peningkatan pendapatan serta kesejahteraan petani.
“Ketika benih bermutu tersedia, tepat waktu, dan sesuai dengan kondisi wilayah, maka peluang untuk meningkatkan produktivitas akan semakin besar. Pada akhirnya, yang kita harapkan adalah produksi meningkat dan kesejahteraan petani ikut meningkat,” tandas Dwi.
Hasil ubinan di Subak Bunut menjadi salah satu indikator positif bahwa pengembangan benih secara mandiri memiliki prospek untuk terus diperkuat. Sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, penangkar benih, pekaseh, dan petani menjadi modal penting untuk memastikan program tersebut berjalan berkelanjutan.
Dari Subak Bunut, kemandirian benih bukan sekadar tentang memenuhi kebutuhan tanam. Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga produktivitas sawah, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menempatkan petani sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan pertanian di Gianyar.
Koresponden: Krisna BPP Sukawati Gianyar






Komentar