BULELENG – Ada cerita menarik dari sebuah pekarangan rumah di Desa Bungkulan, Singaraja. Awak media Perhiptani berkesempatan bertandang ke kediaman I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pada BPP Sukasada, Buleleng.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat dari dekat bagaimana sebuah pekarangan rumah disulap menjadi ruang produktif untuk mendukung pangan keluarga. Tidak hanya berisi tanaman, pekarangan itu juga menjadi ruang belajar bagi putri Darmayasa, Desak Putu Keisya Dharma Maheswari, untuk mengenal pertanian sejak usia dini.

Di antara hijaunya tanaman hidroponik, polibag, tanaman buah dalam pot hingga bunga-bungaan, terselip sebuah pesan sederhana. Pertanian tidak harus selalu identik dengan hamparan sawah yang luas. Dari halaman rumah pun, keluarga dapat mulai menanam, merawat, memanen, sekaligus menumbuhkan kecintaan anak terhadap dunia pertanian.
Semangat itu terlihat dari keluarga I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pada BPP Sukasada, Buleleng. Di tengah kesibukannya mendampingi petani, Darmayasa juga memperkenalkan pertanian kepada putrinya, Desak Putu Keisya Dharma Maheswari, yang masih duduk di bangku TK Budhi Yasa Sangsit, Buleleng.
Bukan dengan teori yang rumit. Keisya diajak mengenal pertanian melalui aktivitas sederhana di rumah. Mulai dari menanam, merawat, hingga melihat langsung proses tanaman tumbuh dan menghasilkan.

Salah satu yang menarik adalah kebun hidroponik sederhana yang dibuat dengan biaya sekitar Rp350 ribu. Instalasi tersebut memiliki kapasitas 40 lubang tanam dan dimanfaatkan untuk menanam kangkung.
Saat ini, kangkung yang ditanam telah berumur sekitar 28 hari setelah tanam (HST) dan memasuki fase menuju panen. Nutrisi diberikan secara bertahap. Pada tahap awal digunakan konsentrasi sekitar 500 ppm, kemudian dinaikkan menjadi 700–1.000 ppm sesuai perkembangan tanaman. Pemberian nutrisi dilakukan sekitar seminggu sekali.
Namun, kebun mini keluarga Darmayasa tidak berhenti pada hidroponik. Sejumlah tanaman juga tumbuh subur dalam polibag, seperti cabai, terong, kangkung, dan daun mint.
Pekarangan juga dihiasi tanaman buah dalam pot. Ada murbei, jambu kristal, bidara, alpukat, hingga anggur. Sementara untuk mempercantik suasana, ditanam pula berbagai tanaman bunga, di antaranya krisan dan kenanga.

Media tanam yang digunakan pun sederhana dan mudah diperoleh. Tanah dicampur dengan arang sekam dan pupuk kambing, sehingga menjadi media yang mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bagi Darmayasa, aktivitas tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Lebih jauh, pekarangan menjadi sarana pendidikan bagi Keisya.
Sejak kecil, Keisya diajak melihat bahwa pangan yang dikonsumsi keluarga tidak selalu harus dibeli. Sebagian dapat dihasilkan sendiri dari halaman rumah. Dari sana, anak belajar mengenal tanaman, merawatnya dengan sabar, sekaligus memahami bahwa setiap hasil panen membutuhkan proses.

Keisya yang dikenal memiliki karakter penuh empati dan imajinatif, pun mendapatkan pengalaman berbeda ketika berinteraksi dengan tanaman. Aktivitas sederhana di pekarangan menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa peduli, ketelatenan, dan kecintaan terhadap lingkungan.
Di sinilah gerakan mandiri pangan keluarga menemukan makna yang lebih luas. Pekarangan bukan sekadar tempat menanam, tetapi juga dapat menjadi sekolah kecil bagi keluarga.
Peran orang tua menjadi penting dalam membangun pengalaman tersebut. Anak tidak hanya diberi tahu tentang pertanian, tetapi diajak melihat dan melakukan secara langsung. Menyentuh tanah, menanam benih, menyiram tanaman, hingga menyaksikan tanaman tumbuh menjadi pengalaman yang melekat dalam ingatan.

Bagi seorang penyuluh pertanian seperti Darmayasa, mengenalkan pertanian kepada anak sendiri menjadi bagian kecil dari upaya membangun kecintaan terhadap pertanian sejak generasi paling muda.
Sebab, ketahanan pangan keluarga tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Ia bisa tumbuh dari 40 lubang hidroponik, beberapa polibag, tanaman buah dalam pot, dan keteladanan orang tua di halaman rumah.
Dari pekarangan itulah, benih kemandirian pangan sekaligus kecintaan terhadap pertanian mulai tumbuh. Perlahan, sederhana, tetapi penuh makna. (DenBagus)






Komentar