Beranda›Lintas Daerah›Lumbung Mataraman, Panggung Pangan Lokal
Lintas Daerah

Lumbung Mataraman, Panggung Pangan Lokal

Dari kebun sederhana, lahir pangan sehat sekaligus peluang ekonomi. Itulah wajah Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Jogja Agro Park, Nanggulan, Kulon Progo. Awak Media PERHIPTANI Bali menyambangi arena tersebut dan menemukan satu pesan kuat, pangan lokal tak hanya layak dikonsumsi, tetapi juga layak menjadi sumber cuan.

FacebookWhatsAppXTelegram

KULON PROGO – Bukan sekadar pameran hasil pertanian. Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 menjadi panggung bagi pangan lokal untuk menunjukkan wajah terbaiknya: sehat, kreatif, bernilai ekonomi, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Semangat itu terasa saat Awak Media PERHIPTANI menyambangi Jogja Agro Park, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (3/10). Dari satu stan ke stan lainnya, aneka hasil pertanian dan olahan pangan tampil menggoda. Warna-warni buah dan sayuran segar berpadu dengan beragam produk olahan yang dikemas semakin menarik.

lumbung.3


Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 digelar selama dua hari, 2–3 Oktober 2026, oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengusung tema “Lumbung Mataraman Mendukung Swasembada Pangan melalui Pangan Lokal Sehat dan Berkualitas”, kegiatan ini mempertemukan inovasi pertanian, kreativitas kelompok tani, serta potensi pangan lokal.

Salah satu magnet pengunjung adalah stan KWT Alam Harmoni dari Kedung Sari. Kelompok wanita tani ini membawa langsung hasil kebun mereka. Buah-buahan, sayuran, hingga jus buah segar kesehatan ditawarkan kepada pengunjung.

Menariknya, konsep sehat tidak berhenti pada produk yang dijual. Proses budidayanya pun mengedepankan penggunaan bahan alami. Tanaman dibudidayakan menggunakan pupuk kandang yang diolah secara mandiri.

3


Harga yang ditawarkan pun sangat bersahabat. Mulai dari Rp3.000, pengunjung sudah bisa membawa pulang produk hasil kebun KWT Alam Harmoni.

“Yang kami bawa ini benar-benar dari kebun. Kami ingin masyarakat mengenal bahwa pangan sehat bisa dihasilkan dari lingkungan sendiri,” menjadi semangat yang terasa dari kehadiran KWT Alam Harmoni di arena gebyar.

Tak kalah menarik perhatian, KWT Melati asal Gunungkidul juga tampil dengan produk olahan yang beragam. Tidak hanya buah segar, kelompok ini menyuguhkan aneka keripik hasil kreativitas anggotanya.

Ada keripik bayam, keripik talas, keripik debog pisang, hingga keripik pisang. Bahan yang selama ini dianggap sederhana diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Di sinilah kekuatan Lumbung Mataraman terlihat. Produk pertanian tidak berhenti ketika panen selesai. Dengan sentuhan kreativitas, hasil kebun bisa naik kelas menjadi produk olahan bernilai ekonomi.

2


Dari kebun, masuk dapur. Dari dapur, masuk pasar.

Konsep semacam inilah yang menjadi daya tarik Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026. KWT tidak hanya berperan sebagai pelaku produksi pangan, tetapi juga mulai bergerak menjadi pelaku usaha yang memahami pentingnya inovasi, pengolahan, pengemasan, dan pemasaran.

Bagi pengunjung, perhelatan ini sekaligus menjadi ruang belajar. Bahwa pangan lokal bukan sekadar alternatif, melainkan bagian penting dari upaya membangun kemandirian pangan.

Gebyar ini juga memperlihatkan bahwa swasembada pangan tidak selalu harus berbicara tentang hamparan sawah yang luas. Di pekarangan, kebun rumah, kelompok wanita tani, hingga usaha pengolahan skala kecil pun, semangat kemandirian pangan bisa tumbuh.

lumbung.12


Dan Jogja Agro Park menjadi salah satu panggung yang mempertemukan semua semangat itu.

Awak Media PERHIPTANI Bali mencatat satu pesan penting dari arena gebyar tersebut: ketika pangan lokal dikelola dengan inovasi, ia bukan hanya mengisi meja makan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan memperkuat ketahanan pangan dari tingkat paling bawah.

Dari Kulon Progo, pesan itu terasa sederhana namun kuat: swasembada pangan bisa dimulai dari kebun sendiri, diolah dengan tangan sendiri, dan dipasarkan dengan bangga. (DenBagus/DND)

 

 

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar