Beranda›Lintas Daerah›“Dwi-Dewi Tanam Ilmu, PKK Gianyar Panen Manfaat”
Lintas Daerah

“Dwi-Dewi Tanam Ilmu, PKK Gianyar Panen Manfaat”

Tak perlu menunggu punya lahan luas untuk bertani. Lewat duwet Dwi dan Dewi, pekarangan rumah pun bisa menjadi sumber pangan keluarga. Semangat itu mengemuka dalam pelatihan media tanam dan pestisida nabati bagi PKK Gianyar.

FacebookWhatsAppXTelegram

GIANYAR – Penyuluhan pertanian tak selalu harus berlangsung di sawah. Dari pendopo kantor pun, pengetahuan pertanian bisa tumbuh dan menjalar ke halaman rumah. Itulah yang dilakukan bidang Penyuluh Pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, I Gusti Ayu Dwi Sugitarina Oka, SP, M.Agb dan Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Blahbatuh Gianyar, Ni Kadek Sintya Dewi, SP, saat membimbing 50 perwakilan TP PKK se-Kabupaten Gianyar dalam pelatihan pembuatan media tanam dan pestisida nabati.

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kantor Bupati Gianyar tersebut dibuka oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Gianyar dan dihadiri unsur Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD). Dua narasumber itu hadir bukan sekadar sebagai pemateri. Mereka membawa pengalaman lapangan untuk diterjemahkan menjadi pengetahuan yang sederhana, praktis, dan mudah dipraktikkan.

WhatsApp Image 2026 10 04 at 16.10.57 (1)


I Gusti Ayu Dwi Sugitarina Oka, yang akrab disapa Ibu Ririn, mendapat kesempatan menyampaikan materi mengenai pestisida nabati (pesnab). Dengan gaya komunikasi yang hangat dan penuh semangat, Ririn mengajak peserta melihat kembali potensi bahan-bahan nabati di sekitar sebagai alternatif dalam pengendalian hama tanaman.

Bagi Ririn, pengetahuan pertanian akan lebih bermakna ketika bisa dipraktikkan. Karena itu, materi tidak berhenti pada penjelasan teori. Peserta diajak memahami bagaimana bahan nabati dapat dimanfaatkan, sekaligus bagaimana penerapannya secara tepat.

Sementara itu, Ni Kadek Sintya Dewi, SP, tampil membawakan materi pembuatan media tanam. Dewi memilih pendekatan yang lebih dialogis. Pengalaman peserta justru dijadikan pintu masuk untuk membahas persoalan media tanam yang sering dijumpai di rumah.

Suasana pelatihan pun menjadi lebih cair. Peserta aktif bertanya, berdiskusi, bahkan saling berbagi pengalaman. Bukan model penyuluhan satu arah, tetapi re-sharing pengalaman antara penyuluh dan peserta.

WhatsApp Image 2026 10 04 at 16.10.58


Pertanyaan pun bermunculan.

Ibu Putu Ida Arsanti dari Kecamatan Ubud misalnya, menanyakan perbedaan unsur hara serta penggunaan sekam biasa dan sekam bakar dalam media tanam. Sementara Ibu Yuni dari TP PKK Kabupaten Gianyar menggali lebih jauh mengenai media tanam yang baik untuk tanaman buah, termasuk alpukat, serta teknik perawatannya.

Ririn dan Dewi menjawab pertanyaan tersebut secara bergantian dengan bahasa yang mudah dipahami. Pengalaman teknis yang mereka miliki sebagai penyuluh menjadi kekuatan tersendiri. Teori pertanian dibuat lebih membumi karena langsung dikaitkan dengan persoalan yang dihadapi peserta.

WhatsApp Image 2026 10 04 at 16.11.00 (2)


Di sinilah peran penyuluh terasa. Bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi memastikan pengetahuan itu benar-benar sampai dan bisa dikerjakan.

Puncak kegiatan berlangsung saat sesi praktik. Ririn dan Dewi turun langsung mendampingi peserta membuat media tanam dan pestisida nabati. Satu demi satu tahapan dijelaskan, kemudian langsung dipraktikkan.

Para peserta pun antusias. Bibit cabai, terong, tomat, bayam, dan kangkung mulai ditanam dalam polibag maupun di halaman sekitar Sekretariat TP PKK Kabupaten Gianyar.

Halaman kantor yang semula hanya menjadi ruang terbuka, seketika berubah menjadi ruang praktik pertanian. Tangan-tangan ibu PKK mulai sibuk mencampur media, mengisi polibag, hingga menanam bibit.

Dwi dan Dewi tidak hanya mengajarkan cara membuat media tanam. Mereka sedang menanam kebiasaan baru, memanfaatkan pekarangan untuk pangan keluarga.

Harapannya sederhana, tetapi dampaknya panjang. Tanam hari ini, rawat setiap hari, lalu panen bersama keluarga.

WhatsApp Image 2026 10 04 at 16.11.01 (1)


Dari pekarangan rumah, gerakan kecil itu diharapkan berkembang menjadi budaya keluarga yang sehat, mandiri, dan produktif. Dan di balik gerakan sederhana tersebut, penyuluh pertanian seperti Dwi dan Dewi hadir sebagai penghubung antara pengetahuan, praktik, dan perubahan nyata di masyarakat.

Sebab penyuluhan yang baik bukan tentang seberapa banyak materi yang disampaikan. Tetapi seberapa banyak yang akhirnya dipraktikkan. (DenBagus/DND)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar