“Penyuluh Gerakkan Lansia, Sampah Rumah Tangga Jadi Manfaat”
GIANYAR — Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk belajar dan memberi manfaat bagi lingkungan tak pernah mengenal batas. Semangat itu terlihat dalam Kelas Lansia di Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Selasa (19/8/2026), yang mengangkat pembelajaran pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui teknologi sederhana biopori. Kegiatan serupa juga telah dilaksanakan di Desa Keramas pada akhir Juli 2026, dengan semangat yang sama: mengajak para lansia mengenali potensi sampah rumah tangga dan mengelolanya menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat.

Kedua kegiatan tersebut menjadi ruang belajar sekaligus berbagi pengalaman bagi para lansia. Tidak sekadar menerima pengetahuan, peserta diajak melihat bahwa persoalan sampah rumah tangga dapat diatasi mulai dari lingkungan sendiri, dengan cara sederhana dan mudah diterapkan.
Di sinilah peran penyuluh pertanian terasa penting. Bukan hanya menyampaikan materi, penyuluh hadir sebagai fasilitator yang menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Materi disampaikan Plt. Kabid Penyuluhan I Gusti Ayu Dwi Sugitarina Oka, SP., M.Agb., Koordinator BPP Blahbatuh Ni Kadek Sintya Dewi, SP., serta PPL Keramas I Made Sutiawan, SP. Pembelajaran dikemas secara partisipatif dan komunikatif dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa.
Peserta tidak ditempatkan sebagai pendengar pasif. Mereka diajak berdiskusi, bertanya, menyampaikan pengalaman, hingga mencari solusi yang dapat langsung diterapkan di rumah.

Sampah Jadi Berkah
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pemanfaatan sampah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan bahan organik lainnya, agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
Teknologi biopori diperkenalkan sebagai salah satu pilihan sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan rumah. Selain membantu mengolah bahan organik, biopori juga dapat mendukung peresapan air ke dalam tanah.
Sederhana, murah, dan bisa dilakukan dari rumah. Pesan itulah yang coba dibangun para penyuluh dalam proses pembelajaran.
Suasana kelas pun berlangsung cair. Para peserta aktif memberikan tanggapan dan berbagi pengalaman. Salah satunya Ibu Agung Oka. Ia tidak hanya antusias mengikuti materi, tetapi juga menceritakan kebiasaan keluarganya dalam mengelola sampah rumah tangga yang telah dilakukan selama hampir tiga tahun.
“Kalau dilakukan sedikit demi sedikit dan menjadi kebiasaan, ternyata manfaatnya besar. Sampah yang biasanya dibuang bisa kita kelola dari rumah,” ungkapnya.
Cerita tersebut menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kadang, perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dari sisa sayuran di dapur, misalnya, lahir kompos. Dari lubang biopori di halaman rumah, air hujan lebih mudah meresap ke tanah. Dari kebiasaan sederhana itu pula, kesadaran menjaga lingkungan perlahan tumbuh.

Penyuluh Bukan Sekadar Mengajar
Kegiatan Kelas Lansia sekaligus memperlihatkan wajah penyuluhan pertanian yang semakin luas. Penyuluh tidak hanya berbicara tentang produksi tanaman, benih, pupuk, atau teknologi budidaya. Penyuluh juga hadir membawa pesan tentang lingkungan, pemanfaatan sumber daya lokal, dan perubahan perilaku masyarakat.
Dengan pendekatan yang humanis, penyuluh membangun ruang belajar yang membuat masyarakat merasa dilibatkan. Pengetahuan tidak datang sebagai instruksi satu arah, tetapi tumbuh melalui dialog dan pengalaman bersama.
Para lansia pun memiliki posisi strategis. Dengan pengalaman hidup yang panjang, mereka bukan sekadar peserta pembelajaran. Mereka dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga, sekaligus teladan bagi anak, cucu, dan masyarakat sekitar.
Sebab, ketika kebiasaan baik dilakukan oleh orang tua, nilai tersebut lebih mudah diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan semata persoalan bagaimana membuang sesuatu yang dianggap tidak berguna. Lebih dari itu, bagaimana mengubah sesuatu yang tersisa menjadi sumber manfaat.

Dari rumah, perubahan dimulai. Dari tangan para lansia, kebiasaan baik diwariskan. Dan melalui penyuluh pertanian, pengetahuan terus bergerak dari ruang kelas menuju kehidupan nyata.
Karena lingkungan yang bersih tidak lahir dari kebiasaan besar, melainkan dari banyak kebiasaan kecil yang dilakukan bersama dan terus-menerus.
Koresponden: Ni Kadek Sintya Dewi, SP. BPP Blahbatuh Gianyar






Komentar