“Menembus Batu, Menjemput Harapan Air”.
BULELENG – Suara mesin bor terus menderu di tengah hamparan sawah Subak Babakan Tampekan, Desa Temukus, Kecamatan Banjar. Mata bor perlahan menembus lapisan tanah, bahkan harus berhadapan dengan batu keras. Namun, perjuangan itu tak menyurutkan harapan. Setiap meter pengeboran menjadi langkah menuju satu impian: menemukan sumber air untuk menopang keberlanjutan usaha tani.
Pengeboran Irigasi Perpompaan (IRPOM) di Subak Babakan Tampekan terus berlanjut. Hingga kini, kedalaman pengeboran telah mencapai 30 meter. Di balik angka tersebut tersimpan harapan besar bagi 40 petani yang menggarap lahan sawah seluas 24,56 hektare.
Proses pengeboran mendapat pendampingan langsung dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Shinta Istihsan SP., penyuluh wilayah binaan BPP Kecamatan Banjar. Bersama aparat Babinsa, Shinta secara aktif mengawal perkembangan pekerjaan di lapangan sekaligus membangun komunikasi dengan petani.
Bagi Shinta, tugas penyuluh bukan sekadar memberikan informasi teknologi pertanian. Penyuluh juga harus hadir ketika program pemerintah diterapkan di tengah masyarakat, memastikan komunikasi berjalan, mendengarkan aspirasi petani, serta ikut mengawal agar program benar-benar memberikan manfaat.
“Pendampingan bukan hanya hadir saat kegiatan dimulai. Kami ingin memastikan setiap proses berjalan dengan baik dan petani mengetahui perkembangan pekerjaan. Harapannya, IRPOM ini nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi petani,” ujar Shinta.

Perjuangan menemukan sumber air memang tidak mudah. Mas Rossied dan Temon, selaku tukang bor, masih harus berkutat menghadapi lapisan batu keras yang menghambat proses pengeboran.
“Lapisan batu yang kami temui cukup keras. Tetapi kami tetap berusaha menembusnya. Harapannya, semakin dalam kami mengebor, semakin dekat dengan sumber air yang dicari petani,” ujar keduanya.
Bagi petani, air bukan sekadar kebutuhan teknis dalam budidaya. Ketersediaan air merupakan salah satu kunci keberlangsungan lahan sawah dan kepastian usaha tani.
Kelian Subak Temukus, I Gede Sumawa, menyambut baik proses pengeboran tersebut. Menurutnya, keberhasilan menemukan sumber air akan menjadi kabar baik bagi petani sekaligus memperkuat keberlanjutan pertanian di wilayah tersebut.
“Kami sangat berharap pengeboran ini berhasil menemukan sumber air. Bagi petani, air adalah harapan untuk menjaga sawah tetap produktif. Kami berterima kasih atas perhatian dan pendampingan semua pihak, terutama penyuluh yang terus hadir bersama petani,” ungkapnya.
Harapan serupa disampaikan Kelian Subak Babakan Tampekan, I Made Mastra. Ia mengakui proses pengeboran bukan pekerjaan mudah karena harus menembus lapisan batu yang keras. Namun, semangat dan optimisme petani tetap terjaga.
“Perjuangannya memang tidak mudah karena harus menembus lapisan batu yang keras. Namun kami tetap optimistis. Kalau sumber air ditemukan, tentu akan sangat membantu 40 petani dan mengairi lahan sekitar 24,56 hektare. Kami berharap ikhtiar ini membuahkan hasil terbaik bagi petani,” ujarnya.
Di tengah deru mesin dan kerasnya batu yang harus ditembus, kolaborasi berbagai pihak menjadi kekuatan tersendiri. Penyuluh, Babinsa, petani, pengelola subak dan tenaga pengeboran bersama-sama mengawal proses tersebut.
Kehadiran Shinta di lapangan juga memperlihatkan bahwa penyuluh merupakan salah satu ujung tombak pembangunan pertanian. Bukan hanya menyampaikan inovasi, tetapi hadir mendampingi petani ketika sebuah program mulai diwujudkan.
Tiga puluh meter telah terlewati. Perjalanan masih berlanjut.
Setiap putaran mata bor menjadi simbol sebuah ikhtiar. Semoga lapisan demi lapisan tanah yang ditembus membawa tim semakin dekat dengan sumber air yang dinantikan.
Jika harapan itu terwujud, IRPOM tidak hanya menghadirkan air, tetapi juga membuka peluang bagi pertanian yang lebih produktif, tangguh dan berkelanjutan.
Sebab, setiap meter tanah yang ditembus hari ini adalah satu langkah menuju masa depan pertanian yang lebih kuat dan mandiri.
Koresponden: Shinta Istihsan BPP Banjar Buleleng






Komentar