Beranda›Lintas Daerah›Empat Program Jadi Kompas Penyuluh Bali
Lintas Daerah

Empat Program Jadi Kompas Penyuluh Bali

Swasembada pangan, makan bergizi, ketahanan energi melalui biofuel, dan hilirisasi menjadi empat agenda besar yang kini menjadi arah kerja penyuluh pertanian. Di tingkat lapangan, penyuluh dituntut mampu menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi gerakan nyata bersama petani.

FacebookWhatsAppXTelegram

DENPASAR – Empat agenda besar pembangunan pertanian menjadi kompas bagi penyuluh pertanian Bali dalam menjalankan tugas di lapangan. Swasembada pangan, makan bergizi, ketahanan energi melalui biofuel, dan hilirisasi membutuhkan peran penyuluh yang semakin adaptif, inovatif, dan dekat dengan petani.

Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penyuluh Pertanian Provinsi Bali yang diselenggarakan di ruang pertemuan BRMP Bali, Selasa (6/10).

Rakor diikuti para penyuluh pertanian se-Bali. Hadir Kepala Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia Aparatur Kementerian Pertanian Ir. Nurwahida, M.Si., Kepala Pusat Penyuluhan BPPSDMP Eko Nugroho Dharmo Putro, S.Kom., M.A.P., Kepala BBRMP Bali Dr. Drh. I Made Rai Yasa, M.Si., Kepala Seksi Penyuluhan Provinsi Bali I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., para Katimker kabupaten/kota se-Bali, serta jajaran penyuluh pertanian.

2


Rakor menjadi momentum untuk menyatukan persepsi sekaligus memperkuat langkah penyuluh dalam mengawal agenda pembangunan pertanian nasional. Empat program utama pemerintah menjadi perhatian utama dalam pembahasan, yakni swasembada pangan, makan bergizi, ketahanan energi melalui biofuel, dan hilirisasi.

Penyuluh di Garis Depan

Kepala Pusat Penyuluhan BPPSDMP Eko Nugroho Dharmo Putro menekankan pentingnya penyuluh memahami arah pembangunan pertanian nasional dan mampu menerjemahkannya menjadi langkah konkret di tingkat petani.

Sejumlah agenda strategis turut dibahas, mulai Asta Cita, PM-AAS, diseminasi inovasi melalui kelompok dan media komunikasi petani, hilirisasi, hingga pengawalan komoditas yang masuk dalam RDKK.

Menurut Eko, penyuluh memiliki posisi penting sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi dan kebutuhan petani. Karena itu, penyuluhan tidak boleh berhenti pada penyampaian informasi.

WhatsApp Image 2026 10 06 at 15.48.34


Teknologi harus sampai ke lahan. Inovasi harus dipahami petani. Dan kebijakan harus mampu diterjemahkan menjadi praktik yang memberikan manfaat.

Di titik inilah penyuluh dituntut tidak sekadar menjadi penyampai pesan, tetapi menjadi penggerak perubahan di tengah petani.

Tiga Bulan Masa Transisi PPL

Sementara itu, Kepala Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia Aparatur Ir. Nurwahida, M.Si., menyampaikan rencana perpindahan penyuluh pertanian lapangan (PPL) ke lingkungan BRMP.

Proses tersebut memasuki masa transisi sekitar tiga bulan. Masa transisi diharapkan menjadi ruang penyesuaian agar proses perpindahan berjalan baik, termasuk dalam aspek administrasi dan kepegawaian.

Dengan perubahan tersebut, berbagai urusan kepegawaian penyuluh, seperti izin cuti dan administrasi lainnya, diharapkan dapat ditangani melalui bagian kepegawaian BRMP. Dengan demikian, penyuluh tidak perlu lagi mengurus berbagai keperluan administrasi hingga ke tingkat pusat.

WhatsApp Image 2026 10 06 at 15.48.41


Namun, di balik perubahan kelembagaan tersebut, Nurwahida mengingatkan bahwa substansi utama tetaplah pengabdian kepada petani.

Ia memberikan apresiasi terhadap peran petani dan penyuluh dalam mendukung pencapaian swasembada pangan.

“Swasembada pangan tercapai berkat petani dan rekan-rekan PPL semua,” ujarnya.

Menurutnya, kontribusi penyuluh tidak bisa dipandang sebagai pekerjaan rutin semata. Penyuluh berada langsung di tengah petani dan menjadi salah satu ujung tombak dalam menerjemahkan berbagai program pemerintah di lapangan.

“Penyuluh kerjanya tidak biasa-biasa saja,” tegas Nurwahida.

WhatsApp Image 2026 10 06 at 15.48.42


Dari Kebijakan Menjadi Gerakan

Rakor Penyuluh Pertanian Provinsi Bali tidak berhenti sebagai forum koordinasi. Lebih dari itu, menjadi ruang untuk menyamakan langkah menghadapi tantangan pertanian yang semakin kompleks.

Swasembada pangan membutuhkan produksi yang kuat. Hilirisasi membutuhkan bahan baku yang tersedia dan berkualitas. Ketahanan energi membutuhkan dukungan sektor pertanian. Sementara agenda makan bergizi membutuhkan sistem pangan yang kokoh dari hulu hingga hilir.

Semua itu bermuara di lapangan.

Di sanalah penyuluh bertemu petani, melihat persoalan secara langsung, mendampingi penerapan teknologi, sekaligus mengawal agar program pemerintah benar-benar memberi manfaat.

WhatsApp Image 2026 10 06 at 15.48.55


Karena itu, empat program tersebut bukan sekadar daftar agenda. Bagi penyuluh, ia menjadi kompas untuk menentukan arah kerja di lapangan.

Kebijakan dirumuskan di ruang rapat. Teknologi dikembangkan melalui inovasi. Namun, ketika semuanya harus diterapkan di lahan, penyuluh menjadi salah satu penggerak utamanya.

Dari ruang pertemuan BRMP Bali, pesan itu kembali diteguhkan: empat agenda besar membutuhkan penyuluh yang bergerak, adaptif dan hadir nyata bersama petani. (DND/DenBagus)

 

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar