BULELENG – Musim panen raya tak selalu menjadi waktu terbaik untuk menjual durian. Ketika buah membanjiri pasar, harga justru bisa tertekan. Dari kebun seluas 3,5 hektare di Buleleng, Dewa Putu Arta Jaya mencoba membalik logika itu: tak harus menunggu musim untuk memanen durian.
Petani sekaligus dosen Universitas Panji Sakti (Unipas) tersebut mendorong penerapan teknologi budidaya off-season sebagai salah satu strategi memperpanjang masa pemasaran sekaligus menjaga posisi tawar petani.

Gagasan itu disampaikan Dewa Putu Arta Jaya, yang akrab disapa De Tu, dalam dialog UMKM Bicara Pro 1 RRI Singaraja, Senin (5/10).
Menurut De Tu, persoalan yang kerap dihadapi petani durian bukan semata soal produksi. Justru ketika produksi melimpah secara bersamaan, tantangan berikutnya adalah bagaimana buah tersebut terserap pasar dengan harga yang tetap menguntungkan.
“Kalau panennya bersamaan, buah banyak di pasaran. Persaingan antarpedagang semakin tinggi dan harga bisa turun,” jelasnya.
Karena itu, petani perlu mulai melihat budidaya durian dengan pendekatan berbeda. Bukan hanya mengejar produksi sebanyak-banyaknya, tetapi juga mengatur kapan buah diproduksi dan dipanen.

Di sinilah teknologi off-season menjadi pilihan.
De Tu menjelaskan, waktu pembungaan tanaman dapat dikelola melalui perubahan pola budidaya. Ketika tanaman memasuki fase pembungaan, bunga yang ada dapat dirontokkan terlebih dahulu jika petani ingin menggeser waktu panen.
Setelah itu, tanaman diarahkan kembali memasuki fase pembungaan melalui pemupukan, pengendalian penyakit, serta pengelolaan budidaya yang tepat. Dengan perlakuan tersebut, waktu produksi dapat digeser sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada musim panen utama.
“Untuk teknologi off-season itu bisa kita lakukan dengan cara mengganti pola budidaya kita,” ujar De Tu.

Bagi De Tu, teknologi tersebut bukan sekadar teori. Ia telah mencoba menerapkannya di kebun yang dikelolanya. Hasilnya, produksi durian bisa diperoleh pada Maret hingga Mei, ketika periode tersebut berada di luar musim panen utama.
“Jadi saat orang-orang nggak punya durian, kita punya,” katanya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan satu prinsip penting dalam agribisnis: ketika pasokan terbatas, peluang pasar terbuka lebih lebar.
Namun, De Tu tidak menutup mata bahwa penerapan off-season membutuhkan konsekuensi. Pada tahap awal, biaya produksi dan perawatan tanaman bisa lebih tinggi. Petani juga dituntut memiliki kemampuan pemasaran yang lebih baik, terutama jika ingin menikmati keuntungan maksimal dari produksi di luar musim.
Sebab, menghasilkan buah ketika pasokan pasar terbatas hanyalah separuh dari pekerjaan. Separuh lainnya adalah memastikan buah tersebut sampai ke konsumen dengan harga yang memberikan keuntungan layak bagi petani.
Pengalaman De Tu sendiri tidak lahir hanya dari ruang kelas. Latar belakang pendidikannya cukup panjang. Ia menempuh pendidikan di SD 1 Banyuseri, SMP 1 Banjar, kemudian SMK 1 Singaraja. Pendidikan sarjananya ditempuh di Fakultas Pertanian Universitas Udayana pada Program Studi Agribisnis.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 Bioteknologi Pertanian di Universitas Udayana dan memperdalam Agriculture Science di Ibaraki University, Jepang.
Ilmu tersebut kini bertemu dengan praktik langsung di lahan.
Di atas lahan sekitar 3,5 hektare, De Tu mengembangkan sejumlah komoditas, mulai durian, manggis, cengkeh hingga kakao. Untuk durian, beberapa varietas yang ditanam antara lain Musang King, Durihitam, serta Kane atau Montong.
Dalam aktivitas pertaniannya, De Tu juga merupakan salah satu anggota Kelompok Tani Ternak (KTT) Gopala Nandini. Keterlibatannya dalam kelompok menjadi bagian dari upayanya membangun pertanian yang tidak hanya bertumpu pada pengalaman individual, tetapi juga pada kekuatan kelembagaan dan pertukaran pengetahuan antarpetani.
Bagi De Tu, kebun bukan sekadar tempat menghasilkan buah. Kebun juga menjadi ruang untuk menguji pengetahuan, membaca perilaku tanaman, sekaligus mencari pola budidaya yang lebih menguntungkan bagi petani.

Pada akhirnya, pertanian modern bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan lebih banyak. Tetapi bagaimana petani mampu mengatur produksi, membaca pasar, dan menentukan kapan hasil kebun memiliki nilai jual terbaik.
Dan pada durian, De Tu memilih satu cara sederhana untuk melawan musim: ketika pasar sedang penuh, ia mencoba menunggu. Ketika buah mulai langka, kebunnya justru berbicara. (DenBagus/DND)






Komentar