BULELENG — Perubahan di dunia pertanian kerap bermula dari keberanian seseorang membuka jalan. Bukan sekadar memperkenalkan gagasan baru, melainkan mengajak petani mencoba dan membuktikan manfaatnya langsung di sawah. Semangat itulah yang ditunjukkan Putu Sudarsana, Kelian Subak Ambengan, Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.
Lahir pada 1967, Sudarsana telah menekuni dunia pertanian sejak 1986. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin subak. Sejak 2017, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Kelian Subak Ambengan, dengan komitmen mendorong kemajuan petani melalui pengabdian dan keterbukaan terhadap pembaruan.
Baginya, pertanian tidak cukup bertumpu pada kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Di tengah perkembangan teknologi dan tantangan budidaya, petani perlu membuka diri terhadap berbagai alternatif. Namun, setiap inovasi harus dipelajari, dicoba, dan dievaluasi agar manfaatnya dapat dinilai berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Pandangan tersebut mendorong Sudarsana menyambut PM-AAS, pendekatan budidaya padi yang memadukan metode tanam benih langsung (Tabela) dan metode Hazton. Penerapannya diharapkan membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi usaha tani, mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, serta memperkenalkan alternatif teknologi kepada petani.
Membuka Jalan dari Subak Ambengan
Desa Banjar memiliki lima subak, yakni Subak Ambengan, Subak Celebung Dangin Tukad, Subak Yeh Panes, Subak Gadung Rupek, dan Subak Tanah Barak. Di antara kelima subak tersebut, Subak Ambengan menjadi yang pertama melaksanakan demplot PM-AAS.
Dengan luas lahan sawah sekitar 6,8 hektare dan didukung 10 anggota, Subak Ambengan mengambil langkah awal untuk menguji pendekatan budidaya tersebut. Inisiatif ini bukan sekadar mencoba metode tanam berbeda, melainkan juga membuka ruang pembelajaran agar petani dapat mengenal dan menilai penerapan teknologi pertanian secara langsung.
Sebagai kelian subak, Sudarsana berperan penting dalam menggerakkan anggotanya. Ia menyadari bahwa memperkenalkan inovasi tidak cukup hanya melalui penjelasan. Petani perlu melihat proses penerapannya, memahami cara kerjanya, dan menilai hasilnya sebelum memutuskan apakah metode tersebut sesuai dengan kebutuhan usaha tani mereka.

Atas dasar itu, demplot PM-AAS menjadi sarana pembelajaran bersama. Melalui pengamatan di sawah, petani dapat menilai pertumbuhan tanaman, kebutuhan tenaga kerja, biaya produksi, hingga hasil panen. Data tersebut nantinya menjadi bahan evaluasi untuk membandingkan penerapan PM-AAS dengan metode budidaya konvensional.
Dengan demikian, keputusan untuk mengadopsi teknologi tidak semata-mata didasarkan pada kebaruan, tetapi juga pada manfaat, tantangan, dan kesesuaiannya dengan kondisi lahan. Bagi Sudarsana, keberanian mencoba perlu berjalan beriringan dengan sikap kritis dan kesediaan belajar.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Langkah Subak Ambengan memperkenalkan PM-AAS tidak terlepas dari kolaborasi Putu Sudarsana dengan Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan Desa Banjar, Shinta Istihsan, S.P. Melalui komunikasi terbuka, koordinasi, diskusi, dan pendampingan teknis, keduanya membangun kesepahaman untuk mendekatkan inovasi kepada petani.
Dalam kolaborasi tersebut, Sudarsana bertindak sebagai penggerak di tingkat subak. Ia mengajak anggota membuka diri terhadap metode budidaya baru sekaligus menumbuhkan kepercayaan untuk mencobanya. Sementara itu, Shinta Istihsan, S.P., memperkuat proses tersebut melalui penyampaian informasi teknologi, arahan teknis penerapan PM-AAS, serta pemantauan perkembangan tanaman di lapangan.

Pembagian peran yang saling melengkapi ini menegaskan pentingnya sinergi antara kelembagaan subak dan penyuluh pertanian. Kedekatan kelian subak dengan anggotanya membantu membangun kepercayaan, sedangkan pendampingan penyuluh menjembatani pengetahuan dan teknologi dengan praktik budidaya di lapangan.
Melalui kerja sama tersebut, demplot tidak hanya menjadi tempat penerapan metode baru, tetapi juga ruang bagi petani untuk mengamati, berdiskusi, dan mengevaluasi perkembangan tanaman. Proses ini diharapkan menumbuhkan pemahaman bahwa kemajuan pertanian membutuhkan keterlibatan aktif petani, pendampingan yang berkelanjutan, serta keputusan yang didasarkan pada hasil pengamatan.
Bagi Sudarsana, keberhasilan memperkenalkan inovasi tidak cukup diukur dari terlaksananya demplot. Lebih dari itu, ia berharap tumbuh keberanian anggota untuk terus belajar, mempertimbangkan alternatif budidaya, dan mengambil keputusan berdasarkan hasil yang terukur.
Dari Percontohan Menuju Perubahan
Demplot PM-AAS di Subak Ambengan menjadi langkah awal yang diharapkan memberi manfaat lebih luas bagi pertanian Desa Banjar. Pengalaman dari lahan percontohan ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi anggota subak maupun petani di wilayah lain, terutama setelah hasil pengamatan dan evaluasinya tersedia.
Sudarsana berharap inisiatif tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan percontohan. Ia ingin petani semakin percaya diri menghadapi perubahan, tanpa kehilangan sikap kritis dalam menilai teknologi yang diperkenalkan. Baginya, inovasi perlu ditempatkan sebagai sarana untuk menemukan metode budidaya yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi usaha tani.

Pandangan itu sejalan dengan perjalanan pengabdiannya sejak dipercaya memimpin Subak Ambengan pada 2017. Ia berupaya menempatkan subak bukan hanya sebagai kelembagaan pengelola irigasi, tetapi juga sebagai ruang bertukar pengetahuan, membangun kebersamaan, dan mengembangkan pembaruan di sektor pertanian.
Dari Subak Ambengan, sebuah ikhtiar telah dimulai. Satu demplot memang belum menjawab seluruh tantangan pertanian, tetapi dapat menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Melalui kepemimpinan yang terbuka terhadap inovasi dan kolaborasi bersama penyuluh, Sudarsana menumbuhkan harapan agar petani semakin siap menghadapi perubahan.
Sebab, pertanian yang maju tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang tersedia, tetapi juga oleh keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk terus belajar. Dari langkah sederhana di hamparan sawah Subak Ambengan, terbuka peluang menuju pertanian yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. (DND/DenBagus)
Koresponden: Shinta BPP Banjar Buleleng






Komentar