Beranda›Lintas Daerah›Bawang Putih Lokal Bali Bangkit
Lintas Daerah

Bawang Putih Lokal Bali Bangkit

Bali membidik kemandirian bawang putih. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mendorong perluasan areal tanam dari 100 menjadi 500 hektare. Panen perdana Kesuna Kayu dan Cicih di Tabanan menjadi momentum untuk mengangkat potensi bawang putih lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

FacebookWhatsAppXTelegram

TABANAN — Bali tak cukup hanya menjadi pasar bawang putih. Potensi varietas lokal Kesuna Kayu dan Cicih kini didorong menjadi kekuatan baru untuk memperkuat kemandirian pangan Pulau Dewata. Panen perdana di Subak Aya Babahan, Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Jumat (23/10/2026), menjadi pijakan awal menuju ambisi tersebut.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, melihat peluang pengembangan bawang putih lokal masih terbuka lebar. Dengan kebutuhan mencapai sekitar 14.000 ton per tahun, Bali memiliki pasar yang besar, mulai dari konsumsi rumah tangga hingga kebutuhan sektor perhotelan dan restoran.

Di sisi lain, pengembangan bawang putih di Bali saat ini baru mencapai sekitar 100 hektare. Pemerintah menargetkan perluasan hingga 500 hektare. Target tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengoptimalkan potensi lahan, memperkuat produksi lokal, dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah maupun impor.

bawang putih 1


Untuk mewujudkannya, diperlukan langkah terukur, mulai dari pemetaan lahan yang sesuai, penyiapan calon petani dan calon lokasi (CPCL), hingga dukungan program pengembangan dari pemerintah. Perluasan areal juga harus diikuti kesiapan benih, penerapan teknologi budidaya, serta pendampingan intensif agar peningkatan luas tanam berbanding lurus dengan produktivitas.

Panen perdana ini menjadi momentum penting untuk membawa bawang putih lokal Bali dari potensi menuju produksi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Pengembangan Kesuna Kayu dan Cicih dilaksanakan melalui kolaborasi Fakultas Pertanian Universitas Udayana bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali. Sinergi tersebut memadukan kekuatan riset perguruan tinggi dengan dukungan kebijakan dan program pemerintah untuk mendorong pengembangan varietas lokal.

Ketua Tim Peneliti Bawang Putih Lokal Bali, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., menjelaskan, Kesuna Kayu dan Cicih merupakan varietas bawang putih lokal Bali yang telah dikenal dan dibudidayakan sejak 1970-an. Hasil pengembangan di Subak Aya Babahan menunjukkan potensi produktivitas mencapai 8–10 ton per hektare.

bawang putih 3


Capaian tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan bawang putih lokal. Namun, potensi produktivitas perlu didukung kesesuaian agroklimat, ketepatan waktu tanam, pemeliharaan tanaman, dan pengelolaan budidaya yang baik.

Pemanfaatan pupuk organik dan mikroorganisme hayati juga menjadi bagian dari upaya mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas. Penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi lahan diharapkan membantu petani memperoleh hasil optimal sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani.

Perluasan Areal Harus Diikuti Kepastian Produksi

Target perluasan dari 100 hektare menjadi 500 hektare bukan sekadar persoalan menambah luas tanam. Ketersediaan benih bermutu, kesiapan petani, kesesuaian lahan, dan kepastian pemasaran harus berjalan beriringan.

Di sinilah sinergi lintas sektor menjadi penentu. Perguruan tinggi berperan memperkuat penelitian dan teknologi budidaya. Pemerintah menyiapkan arah kebijakan serta dukungan program. Sementara itu, penyuluh pertanian menjadi ujung tombak pendampingan, memastikan teknologi yang dihasilkan melalui penelitian dapat diterapkan petani sesuai kondisi nyata di lapangan.

Pendampingan tersebut penting agar pengembangan bawang putih lokal tidak berhenti pada keberhasilan satu musim tanam. Petani perlu memperoleh informasi mengenai teknik budidaya, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, penanganan pascapanen, hingga peluang pemasaran.

bawang putih.2jpg


Bagi petani, komoditas ini membuka peluang diversifikasi usaha dan peningkatan pendapatan. Namun, keberlanjutan pengembangan tetap bergantung pada kelayakan ekonomi, ketersediaan sarana produksi, serta harga jual yang memberikan insentif bagi petani untuk terus menanam.

Panen Kesuna Kayu dan Cicih di Subak Aya Babahan menjadi awal untuk membuktikan bahwa varietas lokal Bali memiliki peluang berkembang di tengah kebutuhan pasar yang besar. Tantangan berikutnya adalah memperluas areal secara terencana, menjaga produktivitas, dan membangun rantai pasok yang mampu menyerap hasil panen secara berkelanjutan.

Bawang putih lokal Bali harus lebih dari sekadar warisan varietas. Dengan dukungan pemerintah, riset perguruan tinggi, pendampingan penyuluh, dan komitmen petani, Kesuna Kayu dan Cicih berpeluang menjadi kekuatan baru dalam memperkokoh ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan Bali terhadap pasokan bawang putih dari luar. (DenBagus/DND)

Koresponden: Gusde, BPP Penebel, Tabanan.

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar