Beranda›Lintas Daerah›Penyuluh Dampingi Mahasiswa, Potensi Pertanian Desa Pi…
Lintas Daerah

Penyuluh Dampingi Mahasiswa, Potensi Pertanian Desa Pikat Diangkat

Pertanian bukan sekadar urusan menanam dan memanen. Di Desa Pikat, penyuluh pertanian menggerakkan edukasi lintas generasi—mengajak mahasiswa mengolah limbah menjadi pupuk organik hingga menanamkan kecintaan terhadap pertanian kepada anak-anak sekolah dasar. Melalui LIVE IN 2026, potensi desa menjadi ruang belajar nyata tentang inovasi, lingkungan, dan masa depan pertanian berkelanjutan.

FacebookWhatsAppXTelegram

KLUNGKUNG – Pengabdian kepada masyarakat tak sekadar hadir dan berbagi. Di Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, mahasiswa diajak mengenal pertanian dari dekat, mengolah limbah menjadi pupuk organik, hingga menanam sayuran bersama anak-anak sekolah dasar. Di balik kegiatan tersebut, penyuluh pertanian hadir mendampingi, memastikan pengetahuan yang dibagikan berangkat dari praktik nyata di lapangan.

Kegiatan itu merupakan bagian dari program LIVE IN 2026 yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana (FISIP UNUD). Desa Pikat, yang menjadi wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Dawan, merupakan wilayah binaan penyuluh pertanian Ayu Rahmawatiningsih, S.P.

Program LIVE IN 2026 dirancang untuk mendekatkan mahasiswa dengan kehidupan masyarakat desa, menggali potensi lokal, sekaligus mendorong kontribusi nyata melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar di luar kampus. Sementara bagi masyarakat, kehadiran mereka membuka peluang kolaborasi untuk mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.

WhatsApp Image 2026 10 23 at 16.46.16 (2)


Ketua Panitia LIVE IN 2026, I Komang Agus Putra Somananta, menjelaskan bahwa kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus mengimplementasikan ilmu yang dimiliki melalui aktivitas yang bermanfaat.

Pengangkatan potensi lokal Desa Pikat menjadi salah satu fokus kegiatan. Salah satunya melalui pengenalan Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi), yang memadukan kegiatan pertanian dan peternakan dalam satu sistem pengelolaan sumber daya.

Dalam konsep ini, limbah peternakan tidak dipandang sebagai sisa produksi semata. Dengan pengolahan yang tepat, bahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk mendukung budidaya tanaman. Pendekatan ini membuka peluang mengurangi limbah, meningkatkan nilai guna sumber daya lokal, sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Di sinilah peran penyuluh pertanian menjadi penting. Melalui pendampingan Ayu Rahmawatiningsih, mahasiswa BEM FISIP UNUD tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai pertanian terintegrasi, tetapi juga mengikuti praktik pembuatan pupuk organik jenis trichokompos bersama petani anggota Simantri.

Dalam praktik tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada pemanfaatan bahan organik, tahapan pembuatan trichokompos, serta penggunaannya dalam kegiatan budidaya tanaman. Pendampingan ini menjadi sarana transfer pengetahuan sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi pertanian dapat dimulai dari pengelolaan sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.

WhatsApp Image 2026 10 23 at 16.46.16 (1)


Peran penyuluh tidak berhenti pada penyampaian materi. Pendampingan juga menghubungkan pengetahuan teknis dengan pengalaman petani, sehingga mahasiswa dapat memahami penerapan teknologi pertanian secara lebih kontekstual. Dari kegiatan ini, mahasiswa belajar bahwa pertanian berkelanjutan membutuhkan pengelolaan sumber daya yang efisien, keterampilan, serta keterlibatan aktif masyarakat.

Menanam Kepedulian Sejak Dini

Rangkaian LIVE IN 2026 berlanjut ke SD Negeri 1 Pikat. Kali ini, mahasiswa bersama penyuluh pertanian mengajak para siswa belajar bercocok tanam melalui praktik penanaman sayuran di pekarangan sekolah.

Cabai, tomat, dan terong menjadi pilihan tanaman yang diperkenalkan kepada siswa. Dalam kegiatan tersebut, pupuk trichokompos yang dipelajari mahasiswa sebelumnya turut dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran mengenai penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman.

WhatsApp Image 2026 10 23 at 16.46.19


Melalui praktik langsung, siswa diajak mengenal tahapan penanaman, memahami pentingnya pemupukan, serta belajar merawat tanaman agar tumbuh dengan baik. Pekarangan sekolah pun dimanfaatkan sebagai ruang belajar terbuka yang produktif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini. Anak-anak diperkenalkan pada pentingnya menjaga kesuburan tanah, memanfaatkan bahan organik, dan merawat tanaman sebagai bagian dari kehidupan yang berkelanjutan.

Keterlibatan mahasiswa dalam edukasi pertanian di sekolah dasar memperluas makna pengabdian kepada masyarakat. Bukan hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa pertanian memiliki peran penting dalam kehidupan, ketahanan pangan, dan kelestarian lingkungan.

Bagi penyuluh pertanian, kegiatan ini menjadi kesempatan memperluas jangkauan edukasi, tidak hanya kepada petani, tetapi juga mahasiswa dan generasi muda. Pendampingan di lapangan memperlihatkan bahwa penyuluhan bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun pemahaman, menumbuhkan keterampilan, dan mendorong perubahan perilaku melalui praktik nyata.

WhatsApp Image 2026 10 23 at 16.46.17


Kolaborasi antara penyuluh pertanian, mahasiswa, petani, dan lingkungan pendidikan dalam LIVE IN 2026 di Desa Pikat menjadi contoh bahwa potensi lokal dapat dikembangkan melalui kerja bersama. Mulai dari pemanfaatan limbah peternakan menjadi pupuk organik hingga penanaman sayuran di pekarangan sekolah, pertanian hadir sebagai ruang belajar sekaligus sumber inspirasi.

Dari desa, mahasiswa belajar. Dari penyuluhan, pengetahuan bergerak. Dan dari pekarangan sekolah, kecintaan terhadap pertanian mulai ditanamkan. (DenBagus/DND)

Koresponden: Ayu Rahma BPP Dawan Klungkung

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar