GIANYAR — Modernisasi pertanian tak cukup berhenti pada konsep dan sosialisasi. Teknologi harus turun ke sawah, diuji langsung, dan dirasakan manfaatnya oleh petani. Semangat itulah yang mengemuka saat Staf Ahli Menteri Pertanian bersama jajaran terkait menjajal teknologi seeder dalam kegiatan tanam padi bersama di Subak Kapunan, Desa Serongga, Kecamatan Gianyar, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari percepatan pencapaian target Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Gianyar. Kehadiran teknologi seeder di tengah hamparan sawah menjadi salah satu langkah konkret untuk mendorong proses tanam padi yang lebih efektif, efisien, dan terukur.

Tak sekadar menyaksikan, jajaran Kementerian Pertanian turun langsung melihat penerapan teknologi di lapangan. Penggunaan seeder diharapkan menjadi alternatif untuk mendukung proses penanaman, sekaligus membuka ruang bagi petani untuk mengenal lebih dekat mekanisasi pertanian yang sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan usaha tani.
Kegiatan ini melibatkan Tenaga Ahli Menteri Pertanian dan tim Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, BBRMP Bali, jajaran penyuluh pertanian, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta pekaseh dan anggota Subak Kapunan.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pertanian modern. Sebab, keberhasilan mekanisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat dan mesin pertanian, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, pendampingan teknis, serta penerimaan petani terhadap inovasi yang diperkenalkan.

Di titik inilah peran penyuluh pertanian menjadi strategis. Penyuluh tidak hanya mendampingi petani dalam menerapkan teknologi, tetapi juga menjembatani inovasi dengan kebutuhan nyata di lapangan. Melalui pendampingan berkelanjutan, petani diharapkan mampu memahami cara kerja, manfaat, serta kesesuaian penggunaan seeder dalam sistem budidaya padi.
Bagi Kabupaten Gianyar, pengembangan PM-AAS menjadi peluang untuk memperkuat produktivitas pertanian tanpa mengabaikan karakteristik lahan dan kearifan lokal yang telah lama menjadi fondasi sistem subak di Bali. Teknologi modern dan kelembagaan subak diharapkan dapat berjalan beriringan, saling menguatkan dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Ujung dari seluruh upaya tersebut bukan semata penggunaan alat modern, melainkan peningkatan efisiensi usaha tani, produktivitas, dan daya saing petani. Dari Subak Kapunan, modernisasi pertanian diharapkan bergerak dari demonstrasi menuju penerapan yang lebih luas, sehingga manfaat teknologi benar-benar dapat dirasakan oleh petani.
Teknologi boleh semakin maju, tetapi petani tetap menjadi pusat perubahan. Dengan sinergi pemerintah, penyuluh, dan kelembagaan subak, percepatan pertanian modern di Gianyar diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.
(DenBagus/DND)






Komentar