Penyuluh Gerakkan PM-AAS dari Subak Gembalan
KLUNGKUNG – Inovasi tidak cukup hanya diperkenalkan. Ia harus dibawa turun ke sawah, dicoba, didampingi, lalu dibuktikan manfaatnya. Semangat itulah yang kini digerakkan para penyuluh pertanian di Kabupaten Klungkung dalam mendorong penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), salah satu program Kementerian Pertanian yang tengah digencarkan untuk memperkuat produktivitas dan efisiensi budidaya padi.

Di lapangan, penyuluh pertanian di bawah naungan BPPDSMP menjadi ujung tombak. Bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi mencari petani inovatif, membuka ruang pembelajaran, sekaligus memastikan teknologi yang diperkenalkan dapat dipahami dan diterapkan secara nyata oleh petani.
Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi Penyuluh dan Kinerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Klungkung, Desak Made Diah Wijayanti, S.P., M.Agb., bersama jajaran penyuluh pertanian se-Kabupaten Klungkung terus mendorong lahirnya petani-petani pionir yang siap menjadi contoh bagi petani lainnya.
Salah satunya I Ketut Sutina, pemilik lahan sekaligus Klian Subak Gembalan. Ia menjadi salah satu pionir penerapan PM-AAS di Kabupaten Klungkung. Lahan seluas sekitar 35 are di Subak Gembalan, Desa Selat, dipilih sebagai lokasi awal penerapan teknologi seeder.

Lokasi tersebut merupakan wilayah kerja penyuluh pertanian K.A. Jiwaksara Suryahusada, S.P. Kehadiran penyuluh wilayah kerja menjadi bagian penting dalam memastikan proses penerapan teknologi berjalan secara berkelanjutan. Pendampingan dilakukan dari dekat, mulai dari komunikasi dengan petani, pengenalan teknologi, hingga mengawal proses penerapannya di lapangan.
Bagi penyuluh, lahan tersebut bukan sekadar lokasi penerapan teknologi. Lebih dari itu, menjadi ruang belajar bersama. Petani dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi diterapkan dalam proses budidaya padi, sekaligus menilai manfaat dan tantangan penerapannya.
Kepala Seksi Penyuluhan Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., menegaskan bahwa keberhasilan PM-AAS tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kesiapan petani dan kekuatan pendampingan di lapangan.
“PM-AAS jangan berhenti sebagai teknologi yang diperkenalkan, tetapi harus menjadi pengalaman yang benar-benar dirasakan petani. Karena itu, peran penyuluh sangat penting untuk mendampingi, menjelaskan, sekaligus mengawal penerapan teknologi hingga petani mampu menerapkannya secara mandiri,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan lahan percontohan seperti di Subak Gembalan menjadi penting sebagai etalase pembelajaran. Petani tidak hanya menerima penjelasan secara teori, tetapi dapat melihat langsung bagaimana teknologi seeder diterapkan dalam budidaya padi.
“Dari satu lokasi percontohan, kita berharap muncul kepercayaan dan pengalaman baru. Ketika petani sudah melihat, mencoba dan merasakan manfaatnya, peluang untuk direplikasi ke subak lainnya akan semakin besar,” imbuhnya.
Pendampingan penyuluh pun menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Setiap tahapan penerapan teknologi dijelaskan secara praktis agar petani tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami cara kerja, manfaat, sekaligus berbagai hal yang perlu dievaluasi dari penerapan PM-AAS.
Kehadiran mahasiswa KKN Universitas Udayana (Unud) turut memberi nilai tambah. Kolaborasi antara mahasiswa, penyuluh, petani, dan unsur kewilayahan memperluas ruang pembelajaran di lapangan. Tidak hanya terjadi transfer teknologi, tetapi juga pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai perkembangan pertanian modern.
Penerapan PM-AAS di Subak Gembalan diharapkan tidak berhenti sebagai penerapan perdana. Justru, langkah awal ini menjadi pijakan untuk mendorong replikasi teknologi ke lahan dan subak lainnya di Kabupaten Klungkung.

Di sinilah peran penyuluh menjadi semakin strategis. Jiwaksara sebagai penyuluh wilayah kerja bersama jajaran penyuluh Klungkung menjadi penghubung antara inovasi dan kebutuhan petani. Penyuluh menerjemahkan teknologi menjadi praktik yang mudah dipahami, mendampingi proses penerapan, sekaligus mengawal evaluasi di lapangan.
Dengan sinergi penyuluh, petani inovatif, mahasiswa, dan berbagai unsur pendukung, PM-AAS diharapkan mampu berkembang dari satu lahan percontohan menjadi gerakan bersama menuju budidaya padi yang lebih modern, efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Dari Subak Gembalan, inovasi mulai ditanam. Dari tangan penyuluh dan petani, harapannya PM-AAS tumbuh dan menyebar ke subak-subak lainnya.
Koresponden: Gita Anom Wijaya, S.P.






Komentar