Beranda›Lintas Daerah›Panen Bawang, Badung Tekan Inflasi
Lintas Daerah

Panen Bawang, Badung Tekan Inflasi

Pengendalian inflasi dimulai dari lahan. Di Subak Delod Sema, Sading, Badung, petani memanen 26 ton bawang merah varietas Super Philip dari lahan seluas 2 hektare. Panen ini menjadi bagian dari upaya menjaga pasokan sekaligus menekan gejolak harga pangan.

FacebookWhatsAppXTelegram

BADUNG – Pengendalian inflasi tak melulu soal harga di pasar. Dari lahan pertanian, pemerintah juga bisa menjaga pasokan. Di Subak Delod Sema, Kelurahan Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, upaya itu dibuktikan lewat panen raya bawang merah varietas Super Philip. Dari lahan seluas 2 hektare, petani berhasil memanen sekitar 26 ton bawang merah.

Panen tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkab Badung memperkuat ketersediaan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas hortikultura. Bawang merah dipilih sebagai salah satu komoditas yang dikembangkan karena memiliki posisi penting dalam kebutuhan pangan masyarakat dan turut berpengaruh terhadap dinamika harga di pasar.

WhatsApp Image 2026 09 29 at 19.20.07


Suasana panen di Subak Delod Sema, Selasa (29/9/2026), menjadi gambaran bahwa lahan pertanian Badung masih menyimpan potensi besar untuk pengembangan komoditas pangan di luar tanaman padi. Hamparan tanaman bawang merah yang sebelumnya tumbuh di lahan pertanian kini menghasilkan puluhan ton produksi.

Hasil tersebut sekaligus menjadi catatan penting dalam pengembangan bawang merah di wilayah Badung. Dari total pengembangan seluas 12 hektare, kawasan Sading mendapat alokasi pengembangan seluas 2 hektare. Hasil panen yang mencapai 26 ton menunjukkan respons positif tanaman sekaligus membuka peluang pengembangan pada lahan-lahan potensial lainnya.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Badung, I Made Agus Aryawan, mengatakan hasil panen tersebut menjadi bukti bahwa Badung memiliki potensi untuk mengembangkan bawang merah.

“Hari ini petani membuktikan bahwa Kabupaten Badung sangat potensial untuk budidaya bawang merah sesuai arahan teknis Dinas Pertanian. Dari total 12 hektare pengembangan di Badung, wilayah Sading mendapat jatah 2 hektare yang hasilnya sangat baik,” kata Agus, Selasa (29/9/2026).

WhatsApp Image 2026 09 29 at 19.18.41


Menurutnya, keberhasilan panen tidak hanya dilihat dari jumlah produksi. Lebih jauh, pengembangan komoditas tersebut diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian sekaligus mendukung ketersediaan pangan daerah.

Bawang merah memiliki karakter berbeda dibandingkan komoditas pangan pokok seperti beras. Komoditas ini sangat dekat dengan kebutuhan rumah tangga dan industri kuliner. Ketika pasokan terganggu, pergerakan harga dapat dengan cepat dirasakan masyarakat.

Karena itu, peningkatan produksi dari sentra lokal menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan. Semakin banyak produksi yang tersedia, semakin besar pula ruang untuk menjaga ketersediaan komoditas di tingkat daerah.

Dari sisi budidaya, hasil yang diperoleh petani Sading juga cukup menjanjikan. Setiap rumpun mampu menghasilkan sekitar 8 hingga 9 butir bawang merah, bahkan lebih. Produktivitas tersebut menjadi indikator bahwa tanaman mampu tumbuh dengan baik di lahan setempat.

WhatsApp Image 2026 09 29 at 19.18.46


Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung mengatakan hasil tersebut menjadi kabar positif bagi pengembangan bawang merah di wilayahnya.

“Hasil panennya sangat baik dengan jumlah butiran di setiap rumpun mencapai 8 sampai 9 bahkan lebih. Produksi ini sejalan dengan kebijakan Bapak Bupati untuk mendorong sektor pertanian agar terus bangkit,” ujarnya.

Pengembangan bawang merah juga menunjukkan bahwa diversifikasi komoditas pertanian mulai mendapat ruang lebih besar. Badung selama ini dikenal memiliki kawasan pertanian yang menghasilkan beras. Namun, kebutuhan pangan masyarakat terus berkembang sehingga penguatan komoditas hortikultura menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan.

Bagi petani, keberhasilan panen tentu bukan sekadar angka produksi. Hasil 26 ton dari 2 hektare menjadi bukti bahwa komoditas hortikultura dapat memberikan nilai tambah apabila dikelola dengan teknik budidaya yang tepat.

Di sisi lain, bagi pemerintah daerah, produksi tersebut memiliki arti strategis. Pertanian ditempatkan bukan hanya sebagai sektor produksi, tetapi juga sebagai bagian dari kebijakan ekonomi daerah. Ketika produksi lokal meningkat, pasokan lebih dekat dengan konsumen dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan.

WhatsApp Image 2026 09 29 at 19.18.42


Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengendalian inflasi dapat dilakukan melalui berbagai pintu. Salah satunya dengan memperkuat produksi pangan dari tingkat petani.

Panen bawang merah di Sading akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni panen. Ada 26 ton produksi, ada potensi lahan yang bisa dikembangkan, dan ada pesan bahwa pengendalian harga pangan dapat dimulai dari sawah dan kebun petani.

Bagi Badung, bawang merah kini bukan sekadar bumbu dapur. Komoditas itu mulai memainkan peran sebagai salah satu bagian dari strategi menjaga pasokan pangan dan stabilitas ekonomi daerah.

Koresponden: Wiranata BPP Abiansemal Badung

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar