Beranda›Lintas Daerah›Penyuluh Bangli Racik Alat Tanam, PM-AAS Makin Digeber
Lintas Daerah

Penyuluh Bangli Racik Alat Tanam, PM-AAS Makin Digeber

Tak harus canggih untuk disebut inovasi. Penyuluh pertanian Kabupaten Bangli meracik alat tanam tabela secara swadaya untuk mempercepat penerapan PM-AAS di tingkat subak. Sederhana, tetapi dirancang untuk menjawab kebutuhan petani di lapangan.

FacebookWhatsAppXTelegram

BANGLI – Percepatan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Bangli tak melulu soal teknologi canggih. Dari tangan penyuluh pertanian setempat, justru lahir inovasi sederhana yang dirancang sesuai kebutuhan petani. Alat tanam tabela hasil racikan penyuluh kini ikut digeber untuk mempercepat penerapan PM-AAS di tingkat subak.

Co Working Space (CWS) Penyuluh Pertanian Kabupaten Bangli mengembangkan alat tanam tabela PM-AAS secara swadaya. Inovasi tersebut sekaligus disiapkan sebagai stimulus bagi subak yang mampu mencatat capaian penerapan PM-AAS dengan luasan tertinggi di Kabupaten Bangli.

WhatsApp Image 2026 09 29 at 18.49.40


Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi dan Kinerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Bangli, I Made Atmika, SP., M.Agb., mengatakan alat tersebut lahir dari kreativitas penyuluh yang berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan.

“Alat tanam ini merupakan bentuk nyata kreativitas dan inovasi penyuluh di Kabupaten Bangli. Kami rancang dan buat secara swadaya untuk mendukung petani menerapkan PM-AAS di lapangan,” ujar Atmika.

Tidak sekadar dibuat, alat tersebut juga dirancang menyesuaikan kebutuhan pola tanam. Alat memiliki panjang 1,35 meter, terdiri atas empat baris tanam dengan jarak masing-masing 25 sentimeter, sedangkan jarak legowo 50 sentimeter.

Dengan konstruksi tersebut, alat diharapkan dapat membantu petani melakukan penanaman secara lebih teratur dan seragam. Pola tanam yang lebih tertata juga menjadi bagian penting dalam penerapan sistem pertanian modern yang menekankan efisiensi penggunaan tenaga dan sarana produksi.

WhatsApp Image 2026 09 29 at 18.47.49 (1)


Menurut Atmika, saat ini CWS Bangli telah memiliki sekitar tiga unit alat tanam tabela PM-AAS. Alat tersebut sudah digunakan sekaligus diuji manfaatnya oleh petani di lapangan.

“Kurang lebih sudah ada tiga alat yang kami buat dan telah dimanfaatkan petani. Ini masih terus kami kembangkan. Harapannya, alat yang sederhana tetapi fungsional ini semakin banyak digunakan subak,” jelasnya.

Bagi Atmika, PM-AAS tidak boleh berhenti sebagai konsep maupun sekadar angka capaian program. Teknologi harus hadir di sawah, digunakan petani, dan memberikan perubahan nyata terhadap cara bertani.

Karena itu, pemberian hibah alat tanam kepada subak dengan capaian penerapan terluas bukan sekadar penghargaan. Stimulus tersebut dirancang untuk membangun kompetisi positif antarsubak sekaligus mempercepat perluasan adopsi teknologi.

WhatsApp Image 2026 09 29 at 18.47.52


“Hibah alat tanam ini bukan sekadar hadiah. Kami ingin menjadikannya stimulus agar subak semakin bersemangat menerapkan PM-AAS. Subak dengan capaian penerapan terluas nantinya mendapat dukungan alat yang bisa kembali dimanfaatkan untuk memperluas penerapan di wilayahnya,” katanya.

Atmika menegaskan, ukuran keberhasilan PM-AAS pada akhirnya bukan semata-mata bertambahnya luas penerapan. Lebih penting adalah perubahan pola usaha tani yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan waktu, tenaga, dan sarana produksi.

“Kami tidak ingin PM-AAS hanya berhenti pada pencapaian target. Yang ingin dibangun adalah perubahan cara bertani yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan sarana produksi, menghemat waktu dan tenaga, serta meningkatkan produksi padi petani,” ungkapnya.

Tantangan tersebut menjadi penting bagi Bangli. Dengan luas lahan sawah yang relatif terbatas dibandingkan daerah sentra produksi padi lainnya, setiap jengkal lahan harus mampu memberikan hasil optimal.

“Dengan luasan lahan sawah yang tidak terlalu luas, kita harus mampu mengoptimalkan produktivitas. Prinsipnya, dari lahan yang ada kita bisa menghasilkan produksi yang semakin tinggi dan memberikan manfaat yang semakin besar bagi petani,” tegasnya.

Di titik inilah PM-AAS diharapkan tidak hanya menjadi pendekatan teknologi, tetapi juga strategi untuk mengoptimalkan sumber daya lahan yang tersedia.

Atmika berharap peningkatan produktivitas di tingkat petani dapat memperkuat kontribusi Bangli terhadap produksi beras sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

WhatsApp Image 2026 09 29 at 18.47.49


“Kami berharap Bangli, meskipun luas lahannya tidak sebesar daerah sentra produksi lainnya, tetap dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan produksi beras nasional. Setiap peningkatan produktivitas di tingkat petani merupakan bagian dari kontribusi kita terhadap ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.

Lebih dari sekadar alat, inovasi tabela yang dikembangkan CWS Bangli menunjukkan bahwa penyuluh tidak hanya hadir sebagai pendamping petani. Penyuluh juga dituntut mampu membaca persoalan di lapangan, menemukan solusi, lalu mengembangkan inovasi yang bisa langsung digunakan petani.

Dari tangan penyuluh, lahir inovasi. Di tangan petani, teknologi diuji. Di tingkat subak, PM-AAS diperluas.

Melalui pola tersebut, CWS Bangli terus mendorong agar PM-AAS tidak berhenti sebagai target program. Teknologi harus benar-benar menjadi bagian dari praktik budidaya, mempercepat kerja petani, meningkatkan efisiensi, mendongkrak produktivitas, dan pada akhirnya memberi nilai tambah bagi petani serta memperkuat kontribusi Bangli terhadap ketahanan pangan. (DenBagus)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar