Beranda›Lintas Daerah›Putu Akik, Merintis Asa dari Kandang Itik
Lintas Daerah

Putu Akik, Merintis Asa dari Kandang Itik

Dari kandang sederhana di Desa Cangi, Batuan Kaler, Sukawati Gianyar, Putu Akik merintis harapan melalui usaha ternak itik petelur. Berawal dari 270 ekor, ia kini menatap target 1.000 ekor, sekaligus membawa semangat regenerasi pertanian dan mimpi menjadikan desanya sebagai sentra telur itik.

FacebookWhatsAppXTelegram

Putu Akik, Merintis Asa dari Kandang Itik

Berawal dari 270 Ekor, Bermimpi Jadikan Desa Cangi Sentra Telur Itik

GIANYAR – Regenerasi petani tak selalu berlangsung di hamparan sawah. Di Desa Cangi, Kelurahan Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, Putu Akik memilih jalan berbeda. Ia merintis usaha ternak itik petelur, membangun harapan dari sebuah kandang sederhana, sekaligus meneruskan semangat kerja keras sang ayah yang puluhan tahun berkecimpung di dunia pertanian.

Usaha itu mulai dirintis pada awal Juli 2026. Dengan modal awal Rp20,25 juta, Putu Akik membeli 270 ekor itik petelur, masing-masing seharga Rp75.000. Sebuah langkah yang membutuhkan keberanian, terlebih bagi usaha yang baru mulai dibangun dan belum sepenuhnya menghasilkan.

WhatsApp Image 2026 10 15 at 07.56.40


Namun, bagi Akik, setiap butir telur yang terkumpul menjadi penanda bahwa ikhtiarnya mulai membuahkan hasil.

“Astungkara, ya, baru sedikit ada hasil,” ujar Putu Akik singkat saat ditemui awak media Perhiptani di kandangnya.

Di atas lahan seluas empat are, ia memanfaatkan kandang berukuran 12 x 8 meter untuk memelihara ratusan itik. Dari populasi awal 270 ekor, jumlah ternaknya kini bertambah menjadi 315 ekor.

Produksi telur pun mulai memberikan harapan. Dalam dua hari, Akik mampu mengumpulkan sekitar 200–250 butir telur untuk dijual. Dengan harga berkisar Rp2.500 per butir, hasil tersebut menjadi awal perputaran ekonomi dari usaha yang tengah ia kembangkan.

Bagi peternak pemula, capaian itu bukan sekadar soal angka. Ada ketekunan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar di balik aktivitas sehari-hari yang dijalani.

WhatsApp Image 2026 10 15 at 07.57.48


Setiap pagi dan sore, Akik bersama sang ayah merawat itik, memberikan pakan, sekaligus memungut telur yang dihasilkan. Rutinitas itu menjadi gambaran sederhana tentang regenerasi pertanian yang tumbuh dari lingkungan keluarga.

Sang ayah, Kopyang Ardana, bukan sosok asing dalam kehidupan pertanian di Desa Cangi. Ia merupakan mantan pekaseh Subak Babakan Cangi, Batuan Kaler, Sukawati, yang mengemban tugas pada periode 2005–2025. Sebelum putranya menekuni ternak itik petelur, Ardana telah lama bergelut dengan budidaya padi, mengelola lahan garapan seluas lebih dari satu hektare.

Kini, ketika usia mulai membatasi aktivitas sang ayah, Akik perlahan mengambil peran dalam melanjutkan tradisi kerja di sektor pertanian. Pilihannya memang berbeda, dari sawah menuju kandang, tetapi semangat yang dibawa tetap sama: mengolah potensi, bekerja tekun, dan membangun sumber penghidupan.

WhatsApp Image 2026 10 15 at 07.57.52 (2)


Di tengah perjalanan merintis usaha, Akik mengaku belum menghadapi kendala berarti dalam pemeliharaan itik. Meski demikian, ia menyadari ada tantangan yang perlu diantisipasi, terutama harga pakan yang kerap meningkat. Selain itu, keterbatasan modal menjadi persoalan tersendiri ketika keinginan memperbesar skala usaha mulai tumbuh.

Karena itu, ia berharap pemerintah dan instansi terkait memberikan dukungan, baik melalui pembinaan teknis, pendampingan usaha, maupun akses permodalan. Baginya, keberlanjutan usaha peternakan tidak cukup hanya mengandalkan semangat, tetapi juga membutuhkan pengetahuan dan dukungan yang tepat.

Akik tak ingin berhenti pada ratusan ekor itik yang kini dipeliharanya. Ia menyimpan cita-cita untuk meningkatkan populasi ternak hingga 1.000 ekor. Target tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk memperbesar produksi sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

WhatsApp Image 2026 10 15 at 07.57.45


Lebih jauh, ia ingin Desa Cangi tidak sekadar dikenal sebagai kawasan pertanian, tetapi juga berkembang menjadi sentra telur itik di Kabupaten Gianyar.

Tentu, perjalanan menuju cita-cita itu masih membutuhkan waktu. Perhitungan usaha yang matang, ketersediaan pakan, pengelolaan kesehatan ternak, serta kepastian pasar akan menjadi bagian penting dalam pengembangannya.

Namun, dari kandang sederhana di Desa Cangi, sebuah harapan telah dimulai. Putu Akik menunjukkan bahwa regenerasi pertanian bisa tumbuh melalui berbagai pilihan usaha, termasuk peternakan. Di tangannya, telur-telur yang terkumpul setiap hari bukan hanya komoditas yang memiliki nilai jual, melainkan juga simbol keberanian generasi penerus untuk melanjutkan denyut kehidupan pertanian. (DenBagus/DND)

 

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar