Beranda›Lintas Daerah›Hari Pangan Sedunia, Panen Padi di Buleleng Tembus 12…
Lintas Daerah

Hari Pangan Sedunia, Panen Padi di Buleleng Tembus 12 Ton per Hektare

Kado Hari Pangan Sedunia datang dari hamparan sawah di Buleleng. Demplot inovasi DPD Perhiptani Kabupaten Buleleng di Subak Pasut, Silangjana, mencatat panen 12,08 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Capaian ini menjadi amunisi baru untuk menguji inovasi budidaya sekaligus membuka peluang peningkatan produktivitas di tingkat petani.

FacebookWhatsAppXTelegram
Hari Pangan Sedunia, Panen Padi di Buleleng Tembus 12 Ton per Hektare

Demplot DPD Perhiptani Buleleng di Subak Pasut, Silangjana, mencatat produktivitas 12,08 ton gabah kering panen per hektare. Perlakuan Petro Biofertil dan agensia hayati Paenibacillus mencatat selisih hasil 640 kilogram dibandingkan petak kontrol.

SILANGJANA, BULELENG — Ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan hamparan sawah yang menghijau. Di baliknya, ada ikhtiar menemukan inovasi budidaya yang mampu mendongkrak produktivitas sekaligus memberi nilai tambah bagi petani. Momentum Hari Pangan Sedunia menjadi penanda upaya tersebut. Dari lahan petani di Buleleng, DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) mencatat hasil uji inovasi budidaya padi yang menarik.

Demplot di Subak Pasut, Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, mencatat produktivitas 12,08 ton gabah kering panen (GKP) per hektare pada petak yang mendapat perlakuan Petro Biofertil dan agensia hayati Paenibacillus. Sementara itu, petak kontrol menghasilkan 11,44 ton GKP per hektare.

WhatsApp Image 2026 10 16 at 20.59.54 (1)


Ada selisih 640 kilogram per hektare atau sekitar 5,59 persen di antara kedua petak. Hasil panen yang dipetik pada Jumat (16/10) tersebut menjadi catatan awal bagi DPD Perhiptani Kabupaten Buleleng untuk mengevaluasi potensi teknologi budidaya yang diuji langsung di lahan petani.

Bagi Perhiptani, demplot bukan sekadar ajang memperkenalkan produk. Lebih dari itu, pengujian di lapangan menjadi ruang pembelajaran untuk melihat respons tanaman, mendokumentasikan perkembangannya, dan membandingkan hasil berdasarkan data. Dengan demikian, inovasi pertanian tidak berhenti pada teori, tetapi diuji melalui praktik nyata bersama petani.

Demplot yang ditanam pada Juli 2026 itu dilaksanakan melalui kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia, dengan dukungan produk Petro Biofertil. Lahan garapan Made Anteb menjadi lokasi pengujian dua perlakuan pada luasan masing-masing 35 are.

WhatsApp Image 2026 10 16 at 21.00.22 (1)


Petak pertama mendapat perlakuan Petro Biofertil sebanyak 15 kilogram dan agensia hayati Paenibacillus sebanyak 5 liter. Sementara itu, petak kedua dijadikan kontrol tanpa kedua perlakuan tersebut.

Selama masa pertumbuhan, pengamatan dilakukan setiap pekan. Parameter yang dicatat meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, populasi hama dan musuh alami, serta perkembangan penyakit tanaman. Pengamatan berkala ini menjadi bagian penting untuk memahami perkembangan pertanaman sekaligus menghimpun data sebagai bahan evaluasi.

Selisih Hasil Jadi Bahan Evaluasi

Hasil panen memperlihatkan bahwa petak perlakuan mencatat produktivitas 12,08 ton GKP per hektare. Angka itu lebih tinggi dibandingkan petak kontrol yang menghasilkan 11,44 ton GKP per hektare.

WhatsApp Image 2026 10 16 at 20.59.48 (1)


Secara deskriptif, produktivitas petak perlakuan tercatat sekitar 5,59 persen lebih tinggi daripada petak kontrol. Meski demikian, hasil tersebut merupakan catatan dari pengujian pada kondisi dan musim tanam kali ini. Pengujian berulang masih diperlukan untuk mengetahui konsistensi hasil sekaligus memastikan sejauh mana perbedaan produktivitas berkaitan dengan perlakuan yang diberikan.

Sebab, produktivitas padi tidak ditentukan oleh satu faktor semata. Kondisi tanah, cuaca, ketersediaan air, varietas, pemupukan, hingga pengelolaan tanaman turut memengaruhi hasil akhir. Karena itu, pencatatan data dan evaluasi berkelanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan inovasi pertanian.

Tak kalah penting, keberhasilan teknologi juga perlu diukur dari sisi ekonomi. Tambahan hasil panen perlu dibandingkan dengan biaya sarana produksi, kebutuhan tenaga kerja, dan keuntungan yang diperoleh petani. Teknologi yang layak dikembangkan bukan hanya yang menjanjikan peningkatan produksi, tetapi juga yang berpotensi meningkatkan efisiensi dan pendapatan usaha tani.

Bagi DPD Perhiptani Kabupaten Buleleng, hasil demplot ini menjadi bahan awal untuk mengkaji potensi inovasi sekaligus memperkuat peran penyuluh dalam mendampingi petani mengambil keputusan berdasarkan bukti lapangan. Penyuluh tidak hanya menyampaikan rekomendasi, tetapi juga memfasilitasi pengujian, mengamati perkembangan tanaman, dan membantu petani mengevaluasi hasil budidaya.

Momentum Hari Pangan Sedunia pun menjadi pengingat bahwa penguatan ketahanan pangan harus dimulai dari lahan-lahan produksi. Dari Silangjana, Buleleng, upaya itu diwujudkan melalui pengujian inovasi bersama petani. Hasil awalnya memberi harapan, sedangkan evaluasi lanjutan menjadi kunci untuk memastikan manfaatnya bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. (DND/DenBagus)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar