Di usia senja, semangat belajar Made Anteb tak surut. Melalui demplot budidaya padi dengan aplikasi agensia hayati Paenibacillus di Subak Pasut, Buleleng, ia menyaksikan langsung hasil pengujian teknologi. Petak perlakuan mencatat hasil ubinan 7,550 kg, lebih tinggi dibandingkan petak kontrol yang mencapai 7,150 kg.
Usia boleh menua, tetapi semangat belajar tak mengenal batas. Prinsip itu tercermin dari sosok Made Anteb, 79 tahun. Petani senior yang dipercaya sebagai kelian subak sejak tahun 1999 ini masih terbuka terhadap inovasi untuk mendukung budidaya padi.
Bagi Anteb, sawah bukan sekadar tempat menanam dan memanen. Lahan juga menjadi ruang belajar, tempat pengalaman bertemu dengan pengetahuan baru. Puluhan tahun menggeluti usaha tani membuatnya akrab dengan berbagai tantangan, mulai dari gangguan hama hingga penyakit tanaman. Namun, pengalaman baru tetap terbuka ketika teknologi pertanian diuji langsung di hadapannya.

Pengalaman itu hadir melalui demonstrasi plot (demplot) budidaya padi yang digelar Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI) Kabupaten Buleleng di Subak Pasut, Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Dalam kegiatan tersebut, agensia hayati Paenibacillus diterapkan sebagai bagian dari pengujian teknologi budidaya padi. Made Anteb menjadi petani pelaksana yang terlibat langsung dalam proses budidaya sekaligus mengamati perkembangan tanaman di lahan.
Bagi Anteb, kegiatan ini memiliki arti tersendiri. Untuk pertama kalinya, ia mengikuti demplot yang didampingi penyuluh pertanian yang tergabung dalam DPD PERHIPTANI Kabupaten Buleleng. Ia tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai teknologi, tetapi juga berkesempatan melihat dan membandingkan hasil penerapannya di lapangan.
“Melalui demplot ini, kami bisa melihat langsung perkembangan tanaman sejak awal sampai panen. Ada petak perlakuan dan ada petak kontrol, sehingga hasilnya bisa dibandingkan. Bagi kami, ini menjadi pengalaman dan pembelajaran untuk mengetahui bagaimana teknologi yang diterapkan dapat mendukung budidaya padi. Harapannya, hasil seperti ini bisa terus dikaji dan memberikan manfaat bagi petani,” ungkap Made Anteb.
Hasil Ubinan Menunjukkan Selisih
Pengujian di lahan tersebut menghasilkan catatan yang menarik. Berdasarkan hasil ubinan, petak perlakuan yang menerapkan agensia hayati Paenibacillus mencapai 7,550 kg. Sementara itu, petak kontrol menghasilkan 7,150 kg.
Dengan demikian, terdapat selisih hasil ubinan sebesar 0,400 kg atau 400 gram antara kedua petak. Angka ini menjadi bahan pengamatan awal untuk menilai hasil penerapan teknologi dalam kondisi lahan setempat.

Meski demikian, hasil ubinan tersebut perlu dibaca sesuai konteks pengujiannya. Untuk memastikan besarnya pengaruh perlakuan terhadap produktivitas, diperlukan informasi mengenai luas petak ubinan, keseragaman kondisi tanaman, serta pengulangan pengujian. Data itu penting agar perbandingan hasil dapat memberikan gambaran yang lebih kuat dan menjadi dasar evaluasi sebelum teknologi diterapkan lebih luas.
Bagi petani, nilai penting demplot bukan semata-mata terletak pada perbedaan angka hasil. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memberi kesempatan untuk belajar melalui proses yang dapat diamati secara langsung. Petani dapat melihat perkembangan tanaman, memahami perlakuan yang diberikan, dan menjadikan hasilnya sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan budidaya.
Dua Kali Tanam, Menghadapi Tantangan
Dalam setahun, Anteb menanam padi dua kali, yakni pada Januari dan Juli. Varietas yang biasa dibudidayakan antara lain Inpari 32 dan Ciherang. Di tengah rutinitas tersebut, serangan tikus dan penyakit potong leher atau blas menjadi tantangan yang perlu diantisipasi karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menekan hasil panen.
Selain bertani, Anteb juga memelihara sapi. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertaniannya. Kebiasaan ini memperlihatkan upayanya memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar usaha tani, sekaligus menghubungkan kegiatan pertanian dengan peternakan.

Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal ketika ia terlibat dalam demplot. Pengetahuan yang diperoleh dari pendampingan penyuluh dapat dipertemukan dengan praktik yang selama ini dijalankannya. Dari situ, petani memiliki kesempatan untuk menilai kesesuaian inovasi dengan kondisi lahan dan kebutuhan usaha tani masing-masing.
Penyuluh Mendampingi, Petani Membuktikan
Demplot yang digelar DPD PERHIPTANI Kabupaten Buleleng menegaskan pentingnya pendampingan penyuluh pertanian dalam memperkenalkan dan menguji inovasi di tingkat petani. Penyuluhan tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi berlanjut pada praktik, pengamatan, dan evaluasi di lapangan.
Dalam proses tersebut, petani bukan sekadar penerima teknologi. Mereka menjadi bagian penting dari pembelajaran karena terlibat langsung dalam pelaksanaan budidaya dan menyaksikan hasilnya. Pengalaman petani, dipadukan dengan pendampingan teknis penyuluh, dapat menjadi modal untuk menentukan apakah suatu inovasi layak dikembangkan lebih lanjut.
Penerapan agensia hayati Paenibacillus di Subak Pasut menjadi salah satu contoh bagaimana pengujian lapangan dapat membuka ruang pembelajaran bersama. Hasil ubinan yang menunjukkan perbedaan antara petak perlakuan dan kontrol menjadi bahan evaluasi untuk melihat potensi teknologi tersebut, sekaligus mengingatkan pentingnya pengujian yang cermat sebelum menarik kesimpulan.
Pada akhirnya, inovasi pertanian bukan hanya tentang mengejar hasil panen yang lebih tinggi. Teknologi juga perlu mempertimbangkan efisiensi biaya, kemudahan penerapan, ketersediaan sarana, serta manfaatnya bagi keberlanjutan usaha tani.

Kisah Made Anteb menjadi pengingat bahwa belajar dalam pertanian tidak mengenal batas usia. Setelah puluhan tahun mengelola sawah dan mengemban amanah sebagai kelian subak, ia tetap bersedia membuka diri terhadap pengalaman baru.
Sebab, bagi petani, pengetahuan paling bermakna bukan hanya yang didengar dari penjelasan, melainkan yang dipelajari, diamati, dan diuji langsung di lahan sendiri. (DenBagus/DND)






Komentar