BULELENG — Inovasi pertanian tak cukup berhenti pada janji peningkatan hasil. Teknologi harus diuji di lahan petani, diamati perkembangannya, dan dievaluasi melalui data. Prinsip inilah yang dipegang Made Sedaka, SP, Ketua DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Buleleng, dalam mendorong pengembangan pertanian berbasis pembuktian lapangan.
Bagi Made Sedaka, demplot bukan sekadar petak percontohan. Lebih dari itu, demplot menjadi ruang belajar bersama untuk menguji inovasi, mengamati respons tanaman, serta menilai manfaat teknologi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
“Kami ingin inovasi pertanian tidak berhenti pada teori atau promosi produk. Teknologi harus diuji di lahan petani, diamati perkembangannya, dan dievaluasi hasilnya. Dari sana, kita bisa belajar, melihat kelebihan dan kekurangannya, kemudian menentukan langkah pengembangan yang tepat,” tegasnya.

Prinsip tersebut diwujudkan melalui demplot budidaya padi di Subak Pasut, Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Dalam kegiatan ini, DPD Perhiptani Buleleng berkolaborasi dengan PT Pupuk Indonesia, dengan dukungan Petro biofertil dan penerapan agensia hayati Paenibacillus.
Hasil Ubinan Menunjukkan Selisih
Pengujian di lahan petani memberikan gambaran awal yang menarik. Berdasarkan hasil ubinan berukuran 2,5 × 2,5 meter, petak perlakuan yang menerapkan agensia hayati Paenibacillus menghasilkan gabah seberat 7,550 kilogram. Sementara itu, petak kontrol menghasilkan 7,150 kilogram.
Terdapat selisih hasil sebesar 0,400 kilogram per petak ubinan, atau sekitar 5,6 persen lebih tinggi pada petak perlakuan dibandingkan petak kontrol.
Jika dikonversikan berdasarkan luas ubinan tersebut, hasilnya setara dengan sekitar 12,08 ton per hektare pada petak perlakuan dan 11,44 ton per hektare pada petak kontrol. Angka ini merupakan hasil konversi ubinan, bukan pengukuran langsung seluruh hasil panen per hektare.

Selisih tersebut menjadi bahan evaluasi awal untuk melihat potensi penerapan teknologi. Namun, hasil satu kali pengubinan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perlakuan menjadi satu-satunya penyebab perbedaan hasil. Pengujian berulang, pengamatan pada musim tanam berikutnya, serta pencatatan kondisi lahan dan biaya produksi tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh.
Bagi Made Sedaka, angka-angka tersebut bukan sekadar catatan panen. Data lapangan merupakan dasar untuk mengevaluasi penerapan teknologi secara objektif, sekaligus bahan pembelajaran bagi penyuluh dan petani.
“Petani harus menjadi bagian dari proses pengujian, bukan sekadar penerima teknologi. Mereka perlu mengetahui bagaimana teknologi diterapkan, bagaimana respons tanaman, dan apa hasil yang diperoleh. Dengan begitu, keputusan untuk mengadopsi inovasi didasarkan pada pengalaman dan bukti lapangan,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Pertanian yang Lebih Produktif
Demplot di Subak Pasut menjadi contoh bagaimana kolaborasi dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan konkret di tingkat petani. Perhiptani mendorong pengujian teknologi dan pembelajaran lapangan, PT Pupuk Indonesia memberikan dukungan produk, sedangkan petani terlibat langsung dalam pelaksanaan budidaya dan pengamatan hasil.
Bagi Made Sedaka, keberhasilan kolaborasi tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan atau banyaknya teknologi yang diperkenalkan. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana pengujian menghasilkan informasi yang berguna bagi petani.
Karena itu, evaluasi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pengamatan pada musim tanam berikutnya, pencatatan biaya produksi, dan pengujian pada kondisi lahan yang berbeda akan membantu menilai konsistensi hasil serta kelayakan ekonomi teknologi yang diterapkan.

Pendekatan ini sekaligus menegaskan peran penyuluh sebagai penghubung antara inovasi, dunia usaha, dan kebutuhan petani. Penyuluh tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendampingi penerapan teknologi dan membantu petani memahami hasil pengujiannya.
Inovasi Harus Memberi Bukti
Bagi Made Sedaka, tantangan penyuluhan pertanian bukan sekadar mempercepat penyebaran informasi, melainkan memastikan inovasi yang diperkenalkan relevan dengan kebutuhan petani. Teknologi perlu diuji, hasilnya dicatat, dan manfaatnya dievaluasi sebelum dijadikan rekomendasi yang lebih luas.
Demplot menjadi salah satu sarana untuk membangun budaya pertanian yang lebih terbuka terhadap inovasi, tetapi tetap kritis dalam menilai hasil. Petani memperoleh kesempatan untuk belajar langsung, sementara penyuluh memiliki bahan evaluasi untuk menyusun pendampingan yang lebih tepat.

Pada akhirnya, pertanian maju tidak ditentukan oleh seberapa banyak inovasi yang dipromosikan, melainkan oleh seberapa cermat teknologi diuji dan seberapa nyata manfaatnya bagi petani.
Bagi Made Sedaka, prinsipnya sederhana: inovasi boleh dipromosikan, tetapi kepercayaan petani harus dibangun melalui pembuktian. Sebab, teknologi yang baik bukan sekadar menjanjikan hasil, melainkan harus diuji, dievaluasi, dan dibuktikan manfaatnya di lahan nyata. (DND/DenBagus)






Komentar