BADUNG – Di tengah kepungan pembangunan pariwisata dan ancaman alih fungsi lahan, sawah di Seminyak masih menyimpan potensi produksi pangan yang menjanjikan. Hasil ubinan padi varietas Inpari 32 di Subak Seminyak, Kelurahan Seminyak, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, mencatat bobot gabah kering panen (GKP) 7,09 kilogram. Jika menggunakan petak ubinan berukuran 2,5 × 2,5 meter, angka tersebut setara dengan estimasi produktivitas 11,34 ton GKP per hektare.
Kegiatan pengambilan ubinan yang berlangsung pekan lalu itu dikawal Koordinator Penyuluh (Korluh) BPP Kuta Utara, Ketut Alit Sabda, bersama tim penyuluh pertanian lapangan (PPL). Proses pengambilan sampel dilakukan bersama Kelian Subak Seminyak, I Made Rai Murja, di lahan persawahan milik Pangliman Subak, I Made Sumantri.
Hasil tersebut menjadi indikator potensi produksi padi yang dapat dicapai petani di tengah keterbatasan lahan pertanian di kawasan pariwisata. Saat ini, hamparan sawah yang dikelola di Subak Seminyak tercatat seluas sekitar 3,5 hektare.

Di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, keberadaan lahan sawah ini memiliki arti strategis. Bukan hanya menjadi sumber penghidupan petani, sawah juga berperan menjaga keberlangsungan produksi pangan lokal di Kabupaten Badung.
Peran penyuluh pertanian bersama pengurus subak dan petani menjadi penting untuk mempertahankan produktivitas tersebut. Pendampingan di lapangan, pemantauan pertumbuhan tanaman, serta evaluasi hasil budidaya menjadi bagian dari upaya menjaga agar lahan yang tersisa tetap produktif.
Pengambilan ubinan juga berfungsi sebagai instrumen untuk memperkirakan produktivitas tanaman berdasarkan sampel yang mewakili kondisi pertanaman. Estimasi 11,34 ton GKP per hektare diperoleh dari bobot 7,09 kilogram pada petak ubinan seluas 6,25 meter persegi. Angka ini merupakan hasil konversi sampel, bukan hasil panen riil seluruh lahan, sehingga tetap perlu dibaca sesuai kondisi tanaman dan pelaksanaan pengukuran di lapangan.

Capaian tersebut menjadi modal evaluasi bagi petani dan penyuluh untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan usaha tani. Sebab, mempertahankan sawah di tengah ekspansi pariwisata bukan sekadar menjaga bentang alam, tetapi juga merawat sumber pangan dan keberlanjutan kehidupan petani.
Di Seminyak, setiap petak sawah yang tetap produktif menjadi pengingat bahwa pembangunan pariwisata dan pertanian perlu berjalan beriringan. Ketahanan pangan membutuhkan bukan hanya teknologi dan pendampingan, tetapi juga komitmen untuk mempertahankan lahan pertanian yang masih tersisa. (Denbagus/DND)
Koresponden: Alit Sabda BPP Kuta Utara Badung






Komentar