BULELENG – Inovasi pertanian tak cukup hanya diperkenalkan. Hasilnya harus diuji, produktivitasnya diukur, dan manfaat ekonominya dihitung. Prinsip itulah yang ditunjukkan PERHIPTANI Buleleng melalui demplot padi varietas Inpari 32 di Subak Pasut, Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada. Hasil pengukuran menunjukkan, petak perlakuan Biofertil dan agensia hayati Paenibacillus mencatat produktivitas setara 12,08 ton gabah kering panen (GKP) per hektare, lebih tinggi dibandingkan petak kontrol yang mencapai 11,44 ton per hektare.
Selisihnya mencapai 640 kilogram per hektare. Dari sisi ekonomi, keuntungan usaha tani pada luasan 35 are di petak perlakuan juga tercatat Rp1,12 juta lebih tinggi dibandingkan petak kontrol. Hasil ini menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran bagi petani dalam menilai potensi inovasi budidaya padi.
Temuan tersebut dipaparkan dalam kegiatan Farmers Field Day (FFD) yang digelar Dewan Pengurus Daerah Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (DPD PERHIPTANI) Kabupaten Buleleng, Senin (19/10/2026), di lahan milik Made Anteb, petani pelaksana demplot.

Kegiatan ini bukan sekadar ajang melihat hasil tanaman. FFD menjadi ruang belajar bersama bagi petani dan penyuluh untuk mengevaluasi penerapan teknologi, membandingkan hasil budidaya, menghitung keuntungan usaha tani, dan mempertimbangkan peluang penerapannya di lahan masing-masing.
Hadir dalam kegiatan tersebut para kelian subak se-Desa Silangjana, pengurus inti DPD PERHIPTANI Buleleng, Koordinator BPP Sukasada beserta penyuluh pertanian se-Kecamatan Sukasada, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), petugas data kecamatan, serta unsur TNI dan Polri, yakni Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Silangjana.
Demplot Menjadi Laboratorium Petani
Ketua DPD PERHIPTANI Kabupaten Buleleng, Made Sedaka, SP., menegaskan bahwa perubahan teknologi dan dinamika iklim menuntut petani serta penyuluh terus belajar dan beradaptasi.
“Kita tidak boleh berhenti belajar. Teknologi terus berkembang, iklim terus berubah, dan tantangan pertanian semakin nyata. Karena itu, kita harus terus mencoba, mengamati, dan mengevaluasi. Demplot ini bukan sekadar tempat menanam padi, tetapi tempat kita menguji inovasi, belajar dari hasilnya, dan menemukan teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi petani,” ujarnya.

Menurutnya, demplot merupakan sarana penyuluhan partisipatif yang mempertemukan pengetahuan dengan praktik nyata. Petani tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat mengamati perkembangan tanaman, membandingkan hasil, dan menilai manfaat teknologi berdasarkan bukti di lapangan.
Melalui pendekatan ini, PERHIPTANI berupaya membangun kepercayaan petani terhadap inovasi tanpa mengabaikan pentingnya pengujian dan evaluasi. Teknologi yang akan diterapkan harus dipertimbangkan berdasarkan hasil, biaya, kondisi lahan, dan kebutuhan usaha tani.
Hasil Ubinan Tunjukkan Selisih 640 Kilogram
PPL Desa Silangjana, Komang Trisna Wirakusuma, SP., memaparkan hasil pengukuran yang dilaksanakan Jumat (16/10/2026). Demplot membandingkan budidaya padi varietas Inpari 32 pada petak perlakuan Biofertil dan agensia hayati Paenibacillus dengan petak kontrol.
Hasil ubinan menunjukkan produktivitas setara 12,08 ton GKP per hektare pada petak perlakuan, sedangkan petak kontrol mencapai 11,44 ton GKP per hektare. Dengan demikian, terdapat selisih 0,64 ton atau 640 kilogram per hektare. Secara persentase, produktivitas petak perlakuan sekitar 5,59 persen lebih tinggi dibandingkan kontrol.
Perbedaan hasil tersebut memberikan gambaran awal mengenai potensi teknologi yang diuji. Namun, angka konversi hasil ubinan tidak serta-merta dapat disamakan dengan hasil panen riil pada satu hektare penuh.

Dari sisi ekonomi, analisis usaha tani pada luasan masing-masing 35 are mencatat keuntungan Rp24.921.620 pada petak perlakuan, sedangkan petak kontrol mencapai Rp23.801.620. Selisihnya sebesar Rp1.120.000 per 35 are.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa evaluasi inovasi perlu dilakukan dari dua sisi sekaligus: produktivitas dan keuntungan usaha tani. Bagi petani, peningkatan produksi akan semakin berarti apabila disertai perhitungan biaya yang cermat dan memberikan nilai tambah secara ekonomi.
Meski demikian, hasil demplot ini perlu dibaca secara proporsional. Perbedaan jarak tanam pada kedua petak merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dalam evaluasi. Pengujian lanjutan pada lokasi dan musim tanam berbeda diperlukan untuk menilai konsistensi hasil serta memastikan kontribusi masing-masing perlakuan.
Dalam pemaparannya, Komang Trisna berharap pembelajaran dari demplot dapat diperluas ke subak-subak lain. Dengan melihat hasil secara langsung dan memahami perhitungan usaha tani, petani diharapkan lebih percaya diri sekaligus kritis dalam memilih teknologi yang sesuai dengan kondisi lahannya.
Produktivitas Tinggi Harus Didukung Ketersediaan Air
Di tengah upaya meningkatkan hasil panen, persoalan ketersediaan air tetap menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Babinsa Desa Silangjana, Serma Mujiburrahman, mengingatkan pentingnya menjaga sumber daya air dan kelestarian lingkungan untuk menopang keberlanjutan pertanian. Ancaman kekeringan di sejumlah lahan perlu diantisipasi melalui koordinasi antara petani, penyuluh, pemerintah desa, dan pihak terkait.
Pengaturan pola tanam sesuai ketersediaan air serta perbaikan jaringan irigasi menjadi langkah penting untuk menekan kehilangan air. Kelestarian hutan dan kawasan resapan juga perlu dijaga agar ketersediaan air dapat mendukung kebutuhan pertanian secara berkelanjutan.
Sementara itu, Bhabinkamtibmas Desa Silangjana, Aiptu Kadek Suditna, mengapresiasi pelaksanaan FFD yang dinilainya sejalan dengan upaya mendukung program ketahanan pangan nasional.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dikembangkan di wilayah lain sehingga semakin banyak petani memperoleh kesempatan belajar dan meningkatkan kapasitas dalam mengelola usaha tani. Dukungan TNI dan Polri juga diharapkan memperkuat koordinasi di lapangan ketika petani menghadapi kendala dalam pelaksanaan kegiatan pertanian.
Deteksi Dini untuk Menekan Risiko Gagal Panen
Peningkatan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh teknologi budidaya. Kewaspadaan terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT) juga menjadi faktor penting dalam menjaga hasil panen.
Dalam pemaparan materi, I Dewa Nyoman Darmayasa, SP., MP., menekankan perlunya pengamatan tanaman secara rutin, setidaknya satu kali dalam sepekan. Pengamatan membantu petani mengenali perubahan kondisi tanaman, mendeteksi gejala awal serangan hama dan penyakit, serta menentukan langkah pengendalian secara tepat waktu.

Deteksi dini merupakan bagian penting dalam pengendalian OPT terpadu. Tindakan pengendalian perlu didasarkan pada hasil pengamatan dan kondisi nyata di lapangan, bukan semata-mata perkiraan.
Materi dilanjutkan POPT Kecamatan Sukasada, Ni Putu Eka Handayani, SP., yang menjelaskan OPT utama pada tanaman padi serta pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan iklim.
Pengenalan gejala serangan, pemantauan populasi OPT, dan pemahaman terhadap kondisi cuaca diharapkan membantu petani mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi tanaman dan mengurangi risiko kehilangan hasil.
Petani Bukan Sekadar Penerima Inovasi
Bagi Made Anteb, kepercayaan menjadikan lahannya sebagai lokasi demplot merupakan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru. Ia dapat mengikuti proses penerapan perlakuan, mengamati perkembangan tanaman, hingga melihat hasil pengukuran yang diperoleh.
Ia menyampaikan terima kasih kepada PERHIPTANI dan seluruh pihak yang terlibat karena telah memberikan kesempatan untuk belajar langsung melalui pengujian teknologi budidaya padi.
Pengalaman tersebut menegaskan bahwa petani bukan sekadar penerima informasi, melainkan pelaku utama dalam proses inovasi pertanian. Keberhasilan penyuluhan tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi juga dari pengetahuan yang diperoleh petani dan peluang penerapannya dalam usaha tani.
Koordinator BPP Kecamatan Sukasada, Mohammad Hanan, SP., turut mengapresiasi penampilan tanaman dan hasil demplot yang dinilainya baik secara visual di lapangan. Ia berharap pembelajaran tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi petani lain untuk menerapkan teknologi sesuai kondisi lahan masing-masing.

Melalui FFD, PERHIPTANI Buleleng berupaya memastikan inovasi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi bahan pembelajaran yang dapat diuji dan dievaluasi bersama.
Sebab, swasembada pangan tidak cukup dibangun dengan target produksi. Diperlukan inovasi yang terukur, penyuluh yang aktif mendampingi, petani yang terus belajar, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Dari lahan petani, inovasi diuji. Dari hasil pengukuran, keputusan diperkuat. Dari penyuluhan, produktivitas dan kesejahteraan petani diharapkan terus meningkat. (DND/DenBagus)






Komentar