Dari Cookies Garlic hingga Bakpao dan Es Sorgum, Penyuluh Kawal Inovasi Pangan Lokal Jadi Peluang Ekonomi
BULELENG – Sorgum tak sekadar menjadi pangan alternatif. Di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Tulus Bakti, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, komoditas lokal ini disulap menjadi aneka olahan yang menggugah selera. Mulai cookies garlic sorgum, bakpao sorgum, hingga es sorgum. Bukan hanya memperkaya pilihan pangan, inovasi ini juga membuka jalan bagi tumbuhnya usaha produktif di tingkat desa.
Potensi tersebut mengemuka dalam kegiatan pengolahan pangan lokal berbasis sorgum yang digelar Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini diikuti anggota KWT Tulus Bakti, dengan dihadiri Perbekel Desa Panji, Ibu Perbekel, staf desa, serta narasumber dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng.

Suasana pelatihan berlangsung sebagai ruang belajar sekaligus berkreasi. Para anggota KWT tidak hanya mengenal potensi sorgum, tetapi juga melihat bagaimana bahan pangan yang belum banyak dimanfaatkan dalam olahan sehari-hari dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih menarik dan memiliki nilai tambah.
Ketua KWT Tulus Bakti, Komang Mariani, menyambut antusias kegiatan tersebut. Baginya, keterampilan mengolah sorgum menjadi bekal penting bagi kelompok untuk mengembangkan potensi pangan lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi anggota.
“Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa sorgum bisa diolah menjadi berbagai produk yang menarik. Harapan kami, keterampilan ini tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi bisa terus dikembangkan, baik untuk kebutuhan keluarga maupun menjadi peluang usaha bersama yang dapat menambah pendapatan anggota,” ungkapnya.

Harapan itu menjadi langkah awal bagi KWT Tulus Bakti untuk bergerak lebih jauh. Sebab, produk yang menarik saja belum cukup untuk membangun usaha berkelanjutan. Konsistensi produksi, kualitas, kemasan, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar menjadi pekerjaan berikutnya agar olahan sorgum memiliki daya saing dan mampu menjangkau konsumen.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Panji, Luh Putu Indrayani, menegaskan pentingnya pengolahan hasil pertanian untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Menurut dia, potensi pangan tidak semestinya berhenti pada hasil panen, tetapi perlu dikembangkan melalui inovasi yang memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.
“Potensi pangan lokal tidak cukup hanya dilihat dari hasil panennya, tetapi juga bagaimana kita mengolahnya menjadi produk yang diminati masyarakat. Kami berharap KWT Tulus Bakti terus berinovasi, menjaga kualitas, dan mulai melihat peluang pemasaran sehingga sorgum bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi kelompok,” ujarnya.

Pengembangan olahan sorgum juga menjadi bagian dari upaya memperkuat diversifikasi pangan. Pemanfaatan bahan pangan lokal secara kreatif dapat memperluas pilihan konsumsi masyarakat sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis potensi desa.
Bagi KWT Tulus Bakti, perjalanan dari pelatihan menuju usaha memang masih membutuhkan proses. Namun, langkah awal telah dimulai: mengenali potensi, mengasah keterampilan, dan mengubah bahan pangan lokal menjadi produk yang lebih bernilai.
Dari sorgum lahir aneka kreasi. Dari kreativitas tumbuh peluang. Dengan pendampingan penyuluh dan kemauan kelompok untuk terus berkembang, KWT Tulus Bakti berharap pangan lokal tak hanya tersaji di meja keluarga, tetapi juga mampu membuka jalan menuju usaha produktif dan tambahan pendapatan masyarakat desa. (DND/DenBagus)







Komentar