DENPASAR SELATAN – Inovasi varietas padi tak cukup hanya diperkenalkan. Perlu pendampingan, pengawalan, dan evaluasi langsung di lahan agar petani memahami keunggulan sekaligus tantangan setiap varietas. Prinsip itulah yang mengemuka dalam kegiatan uji lima varietas padi di Subak Kerdung, Denpasar Selatan, yang turut mendapat pendampingan dari jajaran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Denpasar Selatan.
Koordinator BPP Kecamatan Denpasar Selatan, Ni Nyoman Ayu Trisna Kartika, S.P., bersama jajaran penyuluh pertanian mengambil peran penting dalam mengawal pengenalan varietas unggul baru (VUB) kepada petani. Lima varietas yang diuji meliputi Cakrabuana Agritan, Inpari 13 VTE, Cisaat, Respati, dan Ciherang.

Kegiatan ini bukan sekadar mengukur hasil panen melalui ubinan. Lebih dari itu, menjadi ruang pembelajaran bersama untuk melihat secara langsung performa varietas, mengenali karakter pertumbuhan tanaman, serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan kondisi lahan dan kebutuhan petani.
Pengambilan ubinan dilaksanakan dalam dua tahap menyesuaikan umur panen masing-masing varietas. Cakrabuana Agritan dan Inpari 13 VTE diuji pada 8 Oktober 2026 saat mencapai umur panen 91 hari setelah tanam (HST). Sementara itu, Cisaat, Respati, dan Ciherang menjalani pengubinan pada 20 Oktober 2026 dengan umur panen 103 HST.
Berdasarkan hasil konversi ubinan, Ciherang mencatat produktivitas tertinggi, yakni 137,12 kuintal gabah kering panen (GKP) per hektare atau setara 13,71 ton per hektare. Respati menyusul dengan 134,15 kuintal GKP per hektare atau 13,42 ton per hektare. Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkaya informasi bagi petani dalam menentukan pilihan varietas.
Pendampingan Tak Berhenti pada Angka Produksi
Bagi penyuluh pertanian, hasil ubinan merupakan salah satu bagian dari proses pendampingan. Informasi produktivitas perlu dibaca bersama faktor lain, seperti umur panen, pengelolaan air, kondisi jaringan irigasi, serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan penerapan teknologi budidaya.
Pengalaman di Subak Kerdung memperlihatkan pentingnya pengawalan sejak pertanaman hingga panen. Pada varietas Cakrabuana Agritan, misalnya, pekaseh setempat menilai umur panen yang relatif singkat dan performa tanaman yang baik menjadi daya tarik untuk mempertimbangkan penanaman kembali. Namun, ketersediaan air yang berlebih, sampah pada saluran irigasi, serta serangan hama tikus pada awal pertanaman menjadi kendala yang perlu dievaluasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hasil budidaya tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik varietas. Pengelolaan lingkungan tumbuh dan ketepatan penanganan masalah di lapangan turut menentukan keberhasilan usaha tani.
Karena itu, pendampingan penyuluh menjadi penting untuk membantu petani mengidentifikasi kendala, mendiskusikan alternatif penanganan, serta mengevaluasi hasil pengujian sebagai dasar perbaikan pada musim tanam berikutnya.
Dari Ubinan Menuju Keputusan Petani
Uji varietas di Subak Kerdung juga memperkuat peran BPP sebagai penghubung antara inovasi teknologi pertanian dan kebutuhan nyata petani. Melalui pengamatan langsung dan diskusi di lapangan, petani memperoleh kesempatan untuk membandingkan performa varietas berdasarkan kondisi aktual, bukan semata-mata informasi di atas kertas.
Pemilihan varietas pun perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar produktivitas tertinggi. Umur panen, ketersediaan air, kesesuaian agroekosistem, ketahanan terhadap organisme pengganggu tumbuhan, kualitas gabah, hingga kebutuhan pasar perlu menjadi bagian dari pertimbangan.

Ke depan, hasil pengujian ini dapat menjadi bahan pendampingan lanjutan bagi petani Subak Kerdung. Evaluasi terhadap varietas yang diuji, disertai perbaikan tata kelola air, kebersihan saluran irigasi, dan pengendalian hama, diharapkan membantu petani mengambil keputusan budidaya secara lebih terukur.
Sebab, keberhasilan inovasi pertanian tidak berhenti ketika varietas diperkenalkan atau angka ubinan diumumkan. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan petani memahami hasilnya, mengatasi kendala, dan menerapkan teknologi yang sesuai untuk mendukung produktivitas serta keberlanjutan usaha tani. (DeBagus/DND)






Komentar