Beranda›Lintas Daerah›Bibit Bawang TSS Dilirik, Pesanan Kadek Bradra Melonjak
Lintas Daerah

Bibit Bawang TSS Dilirik, Pesanan Kadek Bradra Melonjak

Inovasi bibit bawang merah asal biji atau True Shallot Seed (TSS) kian mencuri perhatian petani. Kadek Bradra, petani muda asal Celuk, Gianyar, merasakan langsung meningkatnya minat pasar. Bibit siap tanam yang dikembangkannya mulai diburu petani, dari Marga, Tabanan, hingga Tembuku, Bangli.

FacebookWhatsAppXTelegram

GIANYAR – Berawal dari peluang, berkembang menjadi usaha yang mulai dilirik petani. Kadek Bradra, petani muda asal Celuk, Gianyar, kini mengembangkan penyediaan bibit bawang merah asal biji atau True Shallot Seed (TSS) varietas Merdeka F1. Bibit siap tanam yang dipasarkannya mulai menarik minat petani lintas daerah, dari Marga, Tabanan, hingga Tembuku, Bangli.

Daya tariknya bukan sekadar menawarkan alternatif bahan tanam. Bibit asal biji ini dinilai memiliki potensi menghasilkan umbi berukuran besar dengan biaya pengadaan awal yang relatif lebih terjangkau. Bagi petani, kombinasi tersebut menjadi alasan untuk mencoba teknologi yang berbeda dari kebiasaan menanam menggunakan umbi.

WhatsApp Image 2026 10 10 at 12.34.48 (1)


Respons pasar terlihat dari jumlah pembelian yang meningkat. Aditya petani dari Marga, Tabanan, mengawali percobaan dengan tiga tray. Setelah memperoleh hasil yang dinilai memuaskan, pembeliannya bertambah menjadi 22 tray.

Sebelumnya, petani tersebut sempat mencoba menyemai benih sendiri. Namun, sejumlah kendala membuatnya memilih membeli bibit siap tanam dari Kadek Bradra. Selain lebih praktis, harga bibit dinilai masih sesuai dengan kebutuhan budidaya.

Pengalaman awal itu memperlihatkan bahwa percobaan sederhana dapat menjadi pintu masuk bagi petani untuk mengenal teknologi baru. Hasil di lahan menjadi pertimbangan penting sebelum meningkatkan skala penanaman.

Dari Tabanan hingga Bangli

Minat serupa datang dari Nyoman, petani asal Tembuku, Bangli. Pada pembelian pertama, ia mengambil enam tray untuk uji coba.

Sebagai petani organik yang juga membudidayakan sayuran, Nyoman ingin menambah variasi komoditas di lahannya. Bawang merah dipilih karena dinilai memiliki prospek hasil yang menarik. Namun, besarnya kebutuhan modal untuk pengadaan umbi sebagai bahan tanam mendorongnya mencari alternatif yang lebih ekonomis.

Bibit asal biji menjadi pilihan yang ingin diuji. Nyoman berencana menerapkan perawatan organik atau semi-organik pada tahap awal, sembari mengamati pertumbuhan tanaman dan hasil panennya.

Ketertarikan juga terlihat dari petani di desa tetangga Celuk. Setelah sebelumnya membeli satu tray, ia kembali melakukan pembelian sebanyak delapan tray. Ukuran umbi yang dihasilkan menjadi salah satu alasan penambahan jumlah bibit.

Bagi Kadek Bradra, respons dari para petani tersebut membuka peluang bagi pengembangan usaha penyediaan bibit. Saat ini, selain di Celuk, terdapat titik penyemaian lain di Karangasem dan wilayah Bangli, dekat Besakih, yang turut mendukung ketersediaan bibit.

WhatsApp Image 2026 10 09 at 22.07.40 (1)


Harga Jadi Daya Tarik

Bibit siap tanam varietas Merdeka F1 ditawarkan dengan harga Rp35.000 per tray, berisi 200 lubang tanam. Kebutuhan untuk setiap are diperkirakan mencapai 10–12 tray.

Ada pula skema pengembalian tray dengan cashback Rp7.000 per tray. Jika seluruh tray dikembalikan sesuai ketentuan, biaya bersih bibit menjadi Rp28.000 per tray. Dengan demikian, kebutuhan bibit untuk satu are berkisar Rp280.000–Rp336.000.

Sebagai pembanding, penanaman menggunakan umbi diperkirakan membutuhkan sekitar 10 kilogram per are. Dengan asumsi harga umbi Rp50.000 per kilogram, biaya bahan tanam mencapai sekitar Rp500.000 per are.

Berdasarkan perhitungan tersebut, penggunaan bibit asal biji berpotensi menghemat biaya pengadaan bahan tanam sekitar Rp164.000–Rp220.000 per are. Angka ini merupakan estimasi berdasarkan harga yang disebutkan, belum mencakup biaya pengolahan lahan, pupuk, tenaga kerja, pemeliharaan, dan komponen produksi lainnya. Harga bibit berlaku untuk pengambilan langsung di lokasi.

WhatsApp Image 2026 10 09 at 22.07.39


Meski menawarkan peluang penghematan, keberhasilan budidaya tetap ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi lahan, ketersediaan air, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit. Produktivitas dan keuntungan bersih juga perlu dihitung berdasarkan hasil panen nyata.

Kisah Kadek Bradra menjadi gambaran bahwa petani muda memiliki ruang untuk berkembang bukan hanya sebagai pembudidaya, tetapi juga sebagai penyedia sarana produksi bagi petani lain. Ketika bibit yang ditawarkan mulai diminati lintas daerah, peluang usaha pun terbuka.

Dari Celuk, langkah tersebut mulai menjangkau Marga hingga Bangli. Inovasi pertanian menemukan momentumnya ketika menawarkan pilihan yang dapat diuji di lahan, dihitung secara ekonomis, dan dirasakan manfaatnya oleh petani. (DenBagus/DND)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar