Beranda›Lintas Daerah›Ciherang–Respati Menggebrak, Tembus 13 Ton per Hektare
Lintas Daerah

Ciherang–Respati Menggebrak, Tembus 13 Ton per Hektare

Benih diuji, hasil berbicara! Uji lima varietas padi di Subak Kerdung, Denpasar Selatan, menempatkan Ciherang di posisi teratas dengan produktivitas hasil konversi ubinan mencapai 13,71 ton GKP per hektare, disusul Respati 13,42 ton. Capaian ini menjadi bukti pentingnya pengujian varietas sebagai pijakan petani memilih benih yang tepat untuk mendongkrak produktivitas.

FacebookWhatsAppXTelegram

DENPASAR SELATAN – Produktivitas tinggi tak cukup hanya dijanjikan lewat label benih. Pembuktiannya harus terlihat di lahan. Uji lapangan lima varietas padi di Subak Kerdung, Denpasar Selatan, Bali, memberikan gambaran menarik. Ciherang mencatat produktivitas tertinggi, mencapai 13,71 ton gabah kering panen (GKP) per hektare, disusul Respati dengan 13,42 ton per hektare. Hasil ini menjadi referensi penting bagi petani dalam menentukan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan dan pola tanam.

Lima varietas yang diuji meliputi Cakrabuana Agritan, Inpari 13 VTE, Cisaat, Respati, dan Ciherang. Pengambilan ubinan dilaksanakan dalam dua tahap untuk menyesuaikan perbedaan umur panen masing-masing varietas.

Tahap pertama berlangsung pada 8 Oktober 2026, meliputi Cakrabuana Agritan dan Inpari 13 VTE yang dipanen pada umur 91 hari setelah tanam (HST). Sementara itu, tahap kedua dilaksanakan pada 20 Oktober 2026 untuk varietas Cisaat, Respati, dan Ciherang yang mencapai umur panen 103 HST.

1111


Kegiatan pengambilan ubinan tersebut dihadiri Kepala Balai Pengawasan, Sertifikasi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (BPSBTPHBUN) Provinsi Bali, Desak Made Megandini, S.TP., beserta jajaran. Hadir pula Koordinator BPP Kecamatan Denpasar Selatan, Ni Nyoman Ayu Trisna Kartika, S.P., para penyuluh pertanian, pengurus Subak Kerdung, petani, serta sejumlah mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Udayana (UNUD).

Ciherang Memimpin, Respati Membayangi

Berdasarkan hasil konversi ubinan, Ciherang berada di posisi teratas dengan produktivitas 137,12 kuintal GKP per hektare atau setara 13,71 ton per hektare. Setelah dikonversi menjadi gabah kering giling (GKG), produktivitasnya mencapai 115,90 kuintal atau 11,59 ton per hektare. Varietas ini dipanen pada umur 103 HST.

Respati menyusul dengan produktivitas 134,15 kuintal GKP per hektare atau 13,42 ton per hektare. Produktivitas setara GKG mencapai 113,40 kuintal atau 11,34 ton per hektare, dengan umur panen yang sama, yakni 103 HST.

Di posisi berikutnya, Cisaat mencatat produktivitas 111,90 kuintal GKP atau 11,19 ton per hektare. Hasil setara GKG mencapai 94,60 kuintal atau 9,46 ton per hektare, dengan umur panen 103 HST.

11


Sementara itu, Inpari 13 VTE menghasilkan 102,87 kuintal GKP atau 10,29 ton per hektare, dengan produktivitas setara GKG 86,99 kuintal atau 8,70 ton per hektare. Keunggulannya terletak pada umur panen yang lebih singkat, yakni 91 HST.

Cakrabuana Agritan juga dipanen pada umur 91 HST, dengan produktivitas 76,57 kuintal GKP atau 7,66 ton per hektare. Hasil setara GKG tercatat 64,75 kuintal atau 6,48 ton per hektare.

Benih Bermutu, Fondasi Produktivitas

Kepala BPSBTPHBUN Provinsi Bali, Desak Made Megandini, S.TP., menegaskan pentingnya pengujian varietas di lapangan sebagai bagian dari upaya memberikan informasi yang lebih nyata kepada petani mengenai performa tanaman.

“Melalui uji lapangan ini, petani dapat melihat secara langsung perbedaan performa masing-masing varietas, baik dari sisi produktivitas maupun umur panen. Hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memilih varietas yang sesuai dengan kondisi lahan dan pola tanam setempat,” demikian draf pernyataan yang perlu dikonfirmasi kepada yang bersangkutan sebelum dipublikasikan sebagai kutipan langsung.

111


Menurutnya, produktivitas tinggi perlu didukung penggunaan benih bermutu, penerapan teknologi budidaya yang tepat, serta pengelolaan tanaman yang baik. Pemilihan varietas karena itu tidak semestinya hanya berpatokan pada angka produksi, tetapi juga perlu mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi agroekosistem dan kebutuhan petani.

Pengujian varietas di Subak Kerdung diharapkan tidak berhenti pada kegiatan ubinan. Hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi bersama antara petani, penyuluh, dan petugas perbenihan untuk memperluas pemahaman mengenai pilihan varietas yang potensial dikembangkan.

Produktivitas Bukan Satu-satunya Ukuran

Hasil uji lapangan ini memperlihatkan bahwa varietas dengan produktivitas tertinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk setiap kondisi. Ciherang dan Respati menonjol dari sisi potensi hasil dalam pengujian ini, sedangkan Cakrabuana Agritan dan Inpari 13 VTE menawarkan umur panen lebih pendek.

Bagi petani, perbedaan tersebut penting untuk menyusun strategi budidaya. Umur panen dapat memengaruhi pengaturan jadwal tanam, kebutuhan air, dan peluang menyesuaikan pola tanam berikutnya. Di sisi lain, potensi hasil perlu diimbangi dengan pertimbangan ketahanan terhadap organisme pengganggu tumbuhan, kualitas gabah, biaya produksi, dan kebutuhan pasar.

11111


Karena itu, hasil pengujian di Subak Kerdung perlu dipahami sebagai gambaran performa varietas pada lokasi dan kondisi pengujian tersebut. Produktivitas hasil konversi ubinan bukan jaminan bahwa seluruh petani akan memperoleh hasil yang sama. Pengujian lanjutan pada kondisi lahan dan musim berbeda tetap diperlukan untuk menilai konsistensi performa masing-masing varietas.

Pada akhirnya, keberhasilan inovasi perbenihan bukan semata-mata ditentukan oleh varietas yang mampu menghasilkan gabah paling banyak. Yang lebih penting adalah menemukan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan, efisien dalam pengelolaan usaha tani, dan mampu mendukung peningkatan produktivitas serta pendapatan petani secara berkelanjutan. (DenBagus/DND)

Koresponden : Windu BPSBTPHBUN Provinsi Bali

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar