Klungkung – Demplot bukan sekadar hamparan percontohan. Di Tempek Sidi, Subak Pegatepan, Desa Jumpai, Klungkung, lahan demplot padi ramah lingkungan menjadi ruang belajar bersama bagi penyuluh, petani, dan mahasiswa.
Hasilnya cukup menggembirakan. Pengubinan pada sejumlah petak menunjukkan potensi produktivitas padi mencapai 86,72 kuintal gabah kering panen (GKP) per hektare atau setara 8,672 ton GKP per hektare.
Demplot tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan budidaya padi yang tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga memperhatikan aspek ramah lingkungan. Penyuluh pertanian berperan mengawal proses di lapangan, mulai dari penerapan teknologi budidaya hingga melakukan pengamatan dan evaluasi bersama petani.

Pengubinan dilakukan untuk mendapatkan gambaran objektif mengenai potensi hasil pertanaman. Dari petak yang diamati, produktivitas berada pada kisaran 66,08–86,72 kuintal GKP per hektare, atau sekitar 6,608–8,672 ton GKP per hektare.
Hasil tertinggi dicapai pertanaman varietas Mawar, dengan estimasi produktivitas 86,72 kuintal atau 8,672 ton GKP per hektare.
Sementara itu, Inpari 32 HDB dengan sistem tanam Jajar Legowo 2:1 mencatat hasil 81,52 kuintal atau 8,152 ton GKP per hektare. Sedangkan Inpari 32 HDB yang ditanam dengan sistem konvensional menghasilkan 66,08 kuintal atau 6,608 ton GKP per hektare.
Angka-angka tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi penyuluh dan petani. Melalui ubinan, penerapan teknologi pada demplot dapat dilihat tidak hanya secara visual, tetapi juga melalui data hasil yang terukur.
Penyuluh menjadi penghubung antara teknologi dan praktik di lahan. Demplot dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengamati pertumbuhan tanaman, mendiskusikan kendala, sekaligus melihat respons pertanaman terhadap teknologi yang diterapkan. Dengan demikian, petani memperoleh pembelajaran langsung dari kondisi nyata di lahannya sendiri.

Menariknya, proses pembelajaran lapangan tersebut juga melibatkan mahasiswa yang sedang melaksanakan magang/KKN. Mereka tidak hanya melihat aktivitas pertanian dari sisi teori, tetapi turut belajar memahami proses budidaya, pengamatan pertanaman hingga pengubinan secara langsung di lapangan.
Kehadiran mahasiswa sekaligus memperluas fungsi demplot sebagai laboratorium lapangan. Penyuluh berbagi pengalaman praktis, petani menunjukkan dinamika budidaya yang mereka hadapi, sementara mahasiswa mendapatkan pengalaman empiris tentang bagaimana teknologi pertanian diterapkan dan dievaluasi di tingkat usahatani.
Dalam pengamatan pertanaman masih ditemukan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), terutama tikus dan penggerek batang padi. Namun, tingkat serangan masih tergolong ringan. Kondisi tersebut tetap menjadi catatan penyuluh dan petani dalam evaluasi penerapan budidaya padi ramah lingkungan.

Kegiatan pengubinan dihadiri Klian Subak Pegatepan I Nengah Sirna, jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, Korwil BPP Kecamatan Klungkung Kadek Dwiyana Adiputra, SP., serta PPL wilayah Desa Jumpai Gita Anom Wijaya, SP. Sejumlah PPL Kecamatan Klungkung lainnya turut mendampingi. Hadir pula para petani dan mahasiswa Universitas Udayana yang sedang melaksanakan KKN.
Dari Subak Pegatepan, demplot menunjukkan bahwa teknologi yang diterapkan di lahan perlu dibuktikan dengan data. Hasil ubinan hingga 8,672 ton GKP per hektare menjadi salah satu gambaran potensi pertanaman sekaligus bahan pembelajaran untuk terus menyempurnakan budidaya padi yang produktif dan ramah lingkungan.
Bagi penyuluh, demplot bukan sekadar petak percontohan. Ia adalah ruang belajar, tempat teknologi diuji, data dibaca, dan pengalaman petani dipertemukan dengan pengetahuan.
Koresponden: Anom Wijaya BPP Klungkung






Komentar