KLUNGKUNG – Menanam kedelai bukan sekadar mengejar panen. Di Subak Telaga, Desa Pikat, Kecamatan Dawan Klungkung petani mulai membangun kebiasaan baru: merawat tanaman sekaligus menjaga keseimbangan alam di lahan. Prinsip itulah yang terus diperkuat melalui Penerapan Pengendalian Hama Terpadu Aneka Kacang dan Umbi (PPHT Akabi).
Sebanyak 16 petani dari dua tempek mengikuti pertemuan lanjutan ke-5 dari tujuh kali pertemuan yang direncanakan. Kegiatan berlangsung di hamparan pertanaman kedelai seluas 10 hektare dengan pendampingan intensif Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Ayu Rahmawatiningsih, SP., dan Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) I Putu Mahardika, S.P.

Memasuki umur 28 Hari Setelah Tanam (HST), kegiatan diawali dengan pengamatan agroekosistem secara langsung. Petani dibagi dalam beberapa kelompok untuk mencermati pertumbuhan tanaman, kondisi lingkungan, keberadaan musuh alami, serta potensi serangan hama dan penyakit.
Pengamatan menjadi bagian penting dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Petani tidak serta-merta melakukan pengendalian ketika menemukan hama, tetapi terlebih dahulu melihat kondisi tanaman dan keseimbangan ekosistem di lahan.
Hasil pengamatan kemudian dipaparkan oleh perwakilan masing-masing tempek. POPT I Putu Mahardika bersama PPL Ayu Rahmawatiningsih memberikan evaluasi dan arahan teknis berdasarkan kondisi pertanaman di lapangan.
Secara umum, pertumbuhan kedelai berada dalam kondisi baik. Penerapan prinsip PHT sejak awal pertanaman turut mendukung terjaganya kondisi agroekosistem.

Yang menarik, pembelajaran pada pertemuan kelima tidak berhenti pada pengamatan. Petani juga diajak mempraktikkan pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) berbahan bonggol pisang.
Bonggol pisang yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan petani dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan MOL. Petani mempraktikkan langsung prosesnya, mulai dari pemilihan bahan, pencacahan bonggol pisang, pencampuran dengan sumber karbohidrat dan glukosa, hingga proses fermentasi.
Praktik tersebut mempertegas semangat PPHT Akabi bahwa pertanian ramah lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit dan mahal. Bahan-bahan yang tersedia di sekitar petani pun dapat dimanfaatkan dengan pengetahuan dan pengolahan yang tepat.

Kelian Subak Telaga, I Wayan Winata, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan secara konsisten oleh PPL dan POPT.
“Kami berterima kasih karena petani tidak hanya mendapat teori, tetapi langsung belajar dan praktik di lapangan. Pengetahuan seperti ini penting agar petani semakin mandiri dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap input kimia,” ujar Winata.
PPHT Akabi di Subak Telaga dirancang sebagai proses pembelajaran bertahap. Sebelumnya, petani telah mendapatkan materi tentang pengenalan dan penanaman refugia, penelusuran agroekosistem, pembuatan dan aplikasi trichokompos, perbanyakan dan aplikasi bakteri Paenibacillus, serta pembuatan dan pemanfaatan bahan pengendali ramah lingkungan berbasis formulasi lokal.
Pada pertemuan kelima, pembelajaran dilanjutkan dengan praktik pembuatan MOL bonggol pisang. Setiap tahapan diarahkan agar petani tidak sekadar mengetahui teknologi, tetapi mampu membuat dan menerapkannya secara mandiri.

Dengan pendampingan PPL dan POPT serta dukungan pengurus subak, kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat kemampuan petani dalam mengelola pertanaman kedelai secara sehat, efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Sebab, pertanian berkelanjutan tidak lahir dari satu kali pelatihan. Ia tumbuh dari kebiasaan petani membaca lahannya, memahami ekosistemnya, dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Koresponden: Ayu Rahmawatiningsih BPP Dawan Klungkung






Komentar