PANJI - BULELENG — Pensiun boleh mengakhiri masa tugas. Tetapi bagi I Made Mangku, pengabdian kepada pertanian tak ikut berhenti. Setelah bertahun-tahun menjadi penyuluh pertanian, ia kini meneruskan jejak pengabdiannya dari balik pematang sawah.
Di Subak Tegal Panji, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Mangku tetap turun ke lahan. Seluas 85 are ia kelola dengan kacang tanah varietas lokal, tanaman yang telah ditekuninya sejak 2010 dan biasa ditanam setelah padi.
Pilihan itu bukan sekadar soal komoditas. Bagi Mangku, kacang tanah menjadi tanaman yang cukup adaptif ketika ketersediaan air mulai terbatas.

“Kacang tanah saya pilih karena lebih tahan kondisi kering. Setelah padi, biasanya saya tanam kacang tanah. Dalam setahun bisa dua kali tanam,” ungkapnya.
Jauh sebelum menggarap lahannya sendiri, Mangku telah lebih dulu mengabdikan diri di tengah petani. Ia mengawali perjalanan sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) pada 2008, kemudian menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) hingga memasuki masa pensiun di BPP Sukasada.
Puluhan tahun berkecimpung dalam penyuluhan membuat sawah bukan sekadar tempat menanam. Lahan menjadi ruang untuk menguji pengetahuan, pengalaman, sekaligus keputusan-keputusan budidaya yang selama ini ia sampaikan kepada petani.
Kini, peran itu memang berubah. Tidak lagi berdiri sebagai penyuluh di hadapan petani, Mangku justru berada di antara tanaman yang dirawatnya sendiri.
Dalam satu musim tanam, lahan 85 are membutuhkan sekitar 80 kilogram benih. Dengan harga benih sekitar Rp40 ribu per kilogram, kebutuhan benih mencapai Rp3,2 juta.

Biaya produksi lainnya antara lain pengolahan lahan menggunakan traktor sebesar Rp25 ribu per are, biaya tanam Rp100 ribu per hari selama tiga hari, serta biaya panen Rp100 ribu per hari. Panen dilakukan sekitar empat hari untuk setiap luasan 40 are.
Kacang tanah dipanen pada umur sekitar 90 hari. Dalam satu musim, hasil panen mencapai sekitar 480 kilogram, dengan nilai penjualan sekitar Rp9,5 juta.
Kacang tanah tanpa kulit dijual dengan harga sekitar Rp20 ribu per kilogram, baik melalui pasar maupun langsung kepada konsumen di sekitar wilayahnya.
Potensi produktivitasnya juga terlihat dari hasil ubinan. Dengan berat sampel ubinan 4,845 kilogram, produktivitas tercatat sekitar 77,52 kuintal per hektare atau 7,752 ton per hektare polong basah. Sementara dalam bentuk biji kering mencapai sekitar 24,81 kuintal per hektare atau 2,481 ton per hektare.

Angka tersebut menjadi gambaran bahwa lahan yang dikelola dengan pengetahuan dan pengalaman tetap memiliki peluang menghasilkan, meski tantangan budidaya tidak ringan.
Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah serangan jamur, yang dapat mengganggu pertumbuhan maupun hasil tanaman.
Bagi Mangku, kunci menghadapi persoalan tersebut sederhana, jangan berhenti mengamati.
“Kalau sudah di lahan, kita harus rajin melihat kondisi tanaman. Jangan menunggu sampai masalahnya parah. Pengalaman sebagai PPL tentu membantu, tetapi bertani tetap harus melihat kondisi tanaman secara langsung,” katanya.
Bagi Mangku, bertani setelah pensiun bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Ada pengalaman panjang yang ingin tetap ia hidupkan.

Jika dahulu ia mendampingi petani untuk mengenali masalah di lapangan, kini ia sendiri yang berhadapan langsung dengan tanaman, cuaca, air, hama, penyakit, hingga hasil panen.
“Selama masih bisa bekerja di lahan, saya tetap tanam. Kacang tanah ini sudah lama saya tekuni. Selain memberikan hasil, tanaman ini juga cocok ditanam setelah padi,” ujarnya.
PPL Desa Panji, Luh Putu Indrayani, menilai perjalanan Mangku menunjukkan bahwa pengetahuan seorang penyuluh tidak berhenti ketika masa tugas berakhir.
“Pak Mangku punya pengalaman panjang sebagai PPL. Apa yang dilakukan di lahannya menunjukkan bahwa pengetahuan pertanian tetap bisa diterapkan setelah pensiun. Kacang tanah juga cukup adaptif terhadap keterbatasan air, namun pengelolaan tanaman dan pengendalian jamur tetap harus diperhatikan,” jelasnya.
Dari Subak Tegal Panji, kisah I Made Mangku menjadi potret sederhana tentang arti purna tugas.

Seragam penyuluh boleh dilepas. Jabatan boleh ditinggalkan. Tetapi pengetahuan, pengalaman, dan kecintaan pada pertanian tetap bisa diteruskan.
Kini, pematang sawah menjadi tempat Mangku melanjutkan pengabdiannya. Ia menanam dengan pengalaman seorang penyuluh, merawat dengan ketekunan seorang petani, dan memanen hasil dari kerja yang tetap ia yakini.
Pensiun bukan berhenti. Bagi I Made Mangku, pengabdian hanya berganti cara dari mendampingi petani, menjadi petani yang terus memberi contoh dari lahannya sendiri. (DND/DenBagus)






Komentar