BerandaLintas DaerahHadapi El Nino, Petani Penebel Dibekali Teknologi Padi…
Lintas Daerah

Hadapi El Nino, Petani Penebel Dibekali Teknologi Padi Hemat Air

Air terbatas bukan alasan untuk menurunkan produktivitas. Petani Penebel didorong lebih adaptif menghadapi El Nino melalui penerapan teknologi budidaya padi hemat air yang dikenalkan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan bersama penyuluh.

FacebookWhatsAppXTelegram

PENEBEL, TABANAN — Ketika air mulai terbatas, sawah tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara lama. Efisiensi menjadi kunci. Inilah yang menjadi perhatian Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan bersama penyuluh pertanian dalam meningkatkan kapasitas petani menghadapi tantangan perubahan iklim, khususnya kondisi El Nino.

Sebanyak 20 petani dari Kecamatan Penebel mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Tanaman Padi yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Penebel, pekan lalu.

Bimtek tersebut dibuka Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Sari Dewi Indrawati, SE. Hadir pula Kepala UPTD BPPP, I Made Winarsa, SH., penyuluh pertanian CWS Provinsi Bali I Dewa Nuada, SP., MP., serta jajaran penyuluh pertanian BPP Kecamatan Penebel.

WhatsApp Image 2026 09 18 at 06.40.19 (2)


Dalam sambutannya, Sari Dewi Indrawati menekankan bahwa penyuluhan pertanian harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi petani. Di tengah tantangan perubahan iklim dan potensi keterbatasan air, petani perlu terus diperkuat dengan pengetahuan dan teknologi yang aplikatif.

“Petani harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi di lapangan. Teknologi budidaya yang efisien, termasuk dalam penggunaan air, perlu dikenalkan dan diterapkan sesuai kondisi lahan dan kebutuhan tanaman,” ujarnya.

Menurutnya, Bimtek menjadi salah satu sarana strategis untuk mempertemukan pengetahuan, teknologi, dan pengalaman petani. Karena itu, transfer teknologi tidak cukup berhenti pada penyampaian teori, tetapi perlu dilanjutkan melalui pendampingan penyuluh di lapangan.

WhatsApp Image 2026 09 18 at 06.40.20


“Yang paling penting bukan hanya petani mengetahui teknologinya, tetapi mampu menerapkannya. Di sinilah peran penyuluh sangat penting untuk mendampingi petani agar inovasi yang diperkenalkan benar-benar memberikan manfaat di lahan,” tambahnya.

AWD, Jurus Menghemat Air

Bimtek membekali peserta dengan pengetahuan mengenai berbagai tahapan budidaya padi, mulai seleksi benih, pengolahan tanah, pengaturan tata tanam dengan sistem Jajar Legowo (Jarwo), Alternate Wetting and Drying (AWD), pengendalian hama dan penyakit, pemupukan berimbang, hingga penanganan pascapanen.

Salah satu teknologi yang mendapat perhatian adalah AWD. Teknologi ini mengatur pemberian air secara berselang sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan. Dengan demikian, sawah tidak harus terus-menerus berada dalam kondisi tergenang.

Koordinator BPP Kecamatan Penebel, I Made Adhi Putra Suastika, menjelaskan bahwa efisiensi penggunaan air semakin penting ketika ketersediaannya tidak menentu.

“Keterbatasan air harus diantisipasi dengan teknologi budidaya yang mampu menghemat penggunaan air tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman. AWD menjadi salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatur pemberian air secara lebih efisien,” jelasnya.

WhatsApp Image 2026 09 18 at 06.41.37 (1)


Selain AWD, petani juga mendapatkan penguatan mengenai perlindungan tanaman. I Gusti Putu Sumerta, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, mengingatkan pentingnya kemampuan petani mengenali gangguan tanaman sejak dini.

Petani perlu mampu membedakan antara hama dan penyakit karena keduanya membutuhkan tindakan pengendalian yang berbeda. Dengan diagnosis yang tepat, pengendalian dapat dilakukan secara lebih efektif dan tepat sasaran.

Teknologi Harus Sampai ke Sawah

Kehadiran penyuluh pertanian CWS Provinsi Bali, I Dewa Nuada, SP., MP., turut memperkaya proses pembelajaran. Pengalaman dan dinamika penyuluhan di lapangan menjadi bagian penting dalam diskusi bersama peserta.

Sementara itu, mantan Penyuluh Pertanian yang kini bertugas sebagai Pekaseh SB Tabanan, I Made Budiartawan, turut berbagi pengalaman mengenai praktik budidaya padi dan kondisi yang dihadapi petani di lapangan.

Suasana Bimtek berlangsung interaktif. Petani tidak hanya menyimak materi, tetapi aktif berdiskusi dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi dalam budidaya padi.

Bagi peserta, forum tersebut menjadi kesempatan untuk menyegarkan kembali pengetahuan sekaligus mengenal teknologi baru yang dapat diterapkan di lahan masing-masing.

WhatsApp Image 2026 09 18 at 06.40.19 (1)


I Nengah Suriana Edi, salah seorang petani asal Desa Tegallinggah, mengapresiasi pelaksanaan Bimtek tersebut.

“Terima kasih telah memfasilitasi kami dengan Bimtek ini. Tentunya ini merupakan tempat kami me-refresh pengetahuan tentang budidaya padi dan membuat kami tahu teknologi-teknologi baru seperti PM-AAS dan AWD. Kegiatan ini juga menjadi ajang kami bertukar pengalaman dengan teman-teman petani lainnya,” ujarnya.

Bimtek tersebut sekaligus menegaskan bahwa menghadapi tantangan iklim tidak cukup hanya dengan mempertahankan pola budidaya yang selama ini dilakukan. Petani membutuhkan pengetahuan, teknologi, dan pendampingan yang mampu menjawab persoalan di lapangan.

Dan di titik itulah penyuluh mengambil peran. Membawa teknologi dari ruang belajar menuju sawah, lalu memastikan inovasi benar-benar bisa diterapkan petani.

Koresponden: Ida Bagus Gde Dwijayanta, BPP Penebel Tabanan

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar