Pancasila bukan sekadar lima sila yang dibacakan setiap upacara. Bagi penyuluh pertanian, nilai-nilai itu harus hadir dalam kerja nyata: kebersamaan, gotong royong, pelayanan, dan pengabdian kepada petani.
Semangat itulah yang mewarnai peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026, yang diikuti para penyuluh pertanian di sejumlah wilayah CWS Provinsi Bali, di antaranya BPP Kerambitan, Tabanan, dan BPP Sukasada, Buleleng.
Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, upacara tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Momentum tersebut menjadi ruang untuk kembali meneguhkan semangat persatuan sekaligus memperkuat komitmen penyuluh dalam menjalankan tugas di tengah masyarakat.

Bagi penyuluh pertanian, nilai Pancasila menemukan bentuknya dalam keseharian. Mendampingi petani, membangun komunikasi, mendorong gotong royong, memperkenalkan inovasi, hingga mencari solusi atas berbagai persoalan usaha tani merupakan bagian dari pengabdian yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Penyuluh berada di garis depan pembangunan pertanian. Karena itu, semangat persatuan dan kebersamaan menjadi modal penting untuk menggerakkan petani menghadapi tantangan pertanian yang terus berubah.
Dalam naskah pidato Menteri Pertanian yang dibacakan pembina upacara, disampaikan apresiasi kepada para petani, penyuluh pertanian, jajaran Kementerian Pertanian, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus bekerja bersama menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri. Ada petani yang menjadi pelaku utama, penyuluh yang mendampingi, serta berbagai pihak yang bergerak dalam satu ekosistem pembangunan pertanian.
Di lapangan, semangat itu diterjemahkan melalui kerja kolaboratif. Penyuluh tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi penghubung antara inovasi dan kebutuhan petani. Pengetahuan, teknologi, dan pengalaman lapangan dipertemukan untuk menghasilkan praktik pertanian yang semakin adaptif dan produktif.
Bagi penyuluh pertanian di bawah naungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak berhenti pada rutinitas.

Pancasila harus hidup di tengah petani. Hadir dalam gotong royong, tumbuh melalui inovasi, dan terasa manfaatnya dalam peningkatan kesejahteraan petani.
Dari lapangan, penyuluh terus bergerak. Menjaga komunikasi, menguatkan kelembagaan petani, mendiseminasikan inovasi, sekaligus mendorong lahirnya pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan.
Sebab, pada akhirnya, semangat Pancasila tidak hanya dirayakan dalam upacara. Ia dibuktikan melalui kerja dan pengabdian. (DND/DenBagus)






Komentar