BerandaProfileDari Penyuluhan ke P4S, Jejak Panjang Made Suparsa
Profile

Dari Penyuluhan ke P4S, Jejak Panjang Made Suparsa

Ketika awak media Perhiptani bertandang ke kediaman I Made Suparsa di Banjar Mekar Sari, Desa Selat, Abiansemal, Badung, cerita tentang pertanian segera mengalir. Meski telah purna tugas sebagai penyuluh pada pertengahan 2023, semangatnya mendampingi petani tak ikut pensiun. Dari penyuluhan, organisasi petani, hingga P4S Sedana Sari, jejak pengabdiannya terus berlanjut.

FacebookWhatsAppXTelegram

BADUNG — Meski telah purna tugas sebagai penyuluh pertanian pada pertengahan 2023, energi dan gagasannya tentang pertanian belum surut. Justru dari P4S Sedana Sari, Suparsa terus membuka ruang belajar, mengembangkan inovasi, dan mempertemukan petani dengan dunia pendidikan serta berbagai jejaring pertanian.

Nama Made Suparsa sendiri sudah tidak asing di kalangan KTNA Provinsi Bali maupun penyuluh pertanian Kabupaten Badung. Sosoknya dikenal enerjik, komunikatif, dan inovatif. Namun, kedekatannya dengan dunia pertanian ternyata bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba.

su15


Ada cerita keluarga yang ikut membentuk perjalanan hidupnya.

Ayah Suparsa pernah dipercaya menjadi Perbekel Desa Sangeh selama dua dekade, 1964–1984. Di luar tugas sebagai kepala desa, sang ayah juga dipercaya menjadi Pekaseh Subak Pacung sekaligus Ketua Legiun Veteran Kabupaten Badung.

Sejak kecil, Suparsa tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan kehidupan desa, masyarakat, dan subak. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemimpin harus hadir di tengah masyarakat. Ia juga melihat bagaimana petani menjalani kehidupan yang sangat bergantung pada sawah, air, musim, dan kebersamaan.

Barangkali dari sanalah kedekatan Suparsa dengan pertanian menemukan akarnya.

Ketika kemudian menekuni profesi sebagai penyuluh pertanian, dunia tersebut bukan lagi sesuatu yang asing. Ia justru menemukan ruang untuk meneruskan apa yang telah dilihat dan dipelajarinya sejak kecil: mendampingi masyarakat, membangun komunikasi, dan mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi petani.

Bagi Suparsa, penyuluh bukan sekadar penyampai informasi. Penyuluh harus mampu menjadi jembatan antara kebijakan, teknologi, dan kebutuhan petani di lapangan.

Pandangan itulah yang membuat langkahnya kemudian melebar ke dunia organisasi petani.

su6


Sejak 2000, Suparsa dipercaya menjadi Ketua KTNA Kabupaten Badung. Empat tahun kemudian, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua KTNA Provinsi Bali periode 2004–2014 dan Dewan Pertimbangan Organisasi KTNA Nasional 2021-2026.

Berada di tengah organisasi petani membuat cakrawala pengabdiannya semakin luas. Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan teknis budidaya, tetapi juga melihat berbagai tantangan petani dari sisi kelembagaan, sumber daya manusia, regenerasi, teknologi, hingga pengembangan usaha.

Pengalaman tersebut semakin lengkap ketika Suparsa dipercaya memimpin Forum THL-TBPP Bali sejak 2007 hingga 2023.

Dunia penyuluhan dan organisasi kemudian menjadi dua ruang yang saling menguatkan. Dari petani ia belajar tentang persoalan nyata di lapangan. Dari penyuluhan ia memahami pentingnya inovasi dan pendampingan. Sementara dari organisasi ia belajar bahwa perubahan membutuhkan kebersamaan dan jejaring.

Namun, Suparsa tidak ingin berhenti pada ruang diskusi.

Ia ingin pengetahuan dan inovasi memiliki tempat untuk dipraktikkan.

su13


Pada 27 Juni 2010, P4S Sedana Sari resmi terbentuk sebagai pusat pelatihan dan pengembangan di bidang pertanian dan perikanan.

Sejak saat itu, P4S Sedana Sari terus berkembang. Tidak hanya pertanian dan perikanan, kegiatannya merambah hortikultura hingga peternakan.

Berbagai komoditas dikembangkan. Mulai sayuran hidroponik, cabai, tomat, terong, dan pepaya, hingga perikanan serta program pembinaan di bidang peternakan.

Bagi Suparsa, keberadaan P4S bukan sekadar tempat untuk belajar teori. Lahan dan kegiatan yang ada di dalamnya harus mampu menjadi ruang pembelajaran nyata bagi petani, generasi muda, mahasiswa, maupun masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat dunia pertanian.

Karena itu, jejaring pun dibangun.

P4S Sedana Sari menjalin kerja sama dengan empat perguruan tinggi di Bali, yakni Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati (Unmas), Politeknik Negeri Denpasar, dan Universitas Udayana.

Kunjungan Dubes Polandia
Kunjungan Dubes Polandia


Kerja sama tersebut mempertemukan dunia akademik dengan dunia praktik. Pengetahuan dari kampus mendapat ruang untuk diterapkan di lapangan. Sebaliknya, berbagai persoalan yang muncul di tengah petani dapat menjadi bahan pembelajaran dan pengembangan.

P4S Sedana Sari juga mendapat pembinaan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Balai Besar Peternakan Batu Malang.

Bagi Suparsa, pertanian tidak boleh berjalan sendirian. Petani membutuhkan teknologi, tetapi teknologi membutuhkan pendampingan. Inovasi membutuhkan tempat untuk diuji. Sementara petani membutuhkan akses terhadap pengetahuan dan jejaring.

Di situlah P4S Sedana Sari mengambil peran.

Perjalanan panjang tersebut terus berjalan hingga Suparsa memasuki masa purna tugas sebagai penyuluh pertanian pada pertengahan 2023.

Namun, ada sesuatu yang tidak ikut berhenti ketika masa kedinasannya berakhir: semangat pengabdiannya.

Purna tugas ternyata hanya mengakhiri sebuah fase pekerjaan formal. Bukan akhir dari hubungan dengan petani dan pertanian.

su121


Suparsa masih tetap berada di lingkungan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. P4S Sedana Sari tetap dikembangkan. Komunikasi dengan petani tetap berjalan. Jejaring dengan perguruan tinggi dan berbagai pihak terus dirawat.

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Suparsa seperti sebuah garis panjang yang berawal dari lingkungan keluarga, berlanjut menjadi penyuluh, kemudian bergerak melalui organisasi petani, dan akhirnya menemukan bentuk lain melalui P4S Sedana Sari.

Semuanya memiliki satu benang merah, memberdayakan petani melalui pengetahuan, inovasi, dan kebersamaan.

Di usianya kini, Suparsa tidak lagi mengejar jabatan. Yang lebih penting baginya adalah memastikan pengalaman yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun tidak berhenti menjadi cerita pribadi.

Ia ingin pengalaman itu terus mengalir kepada petani dan generasi berikutnya.

Itulah mungkin makna paling dalam dari perjalanan seorang penyuluh.

Ketika tugas kedinasan selesai, ilmu dan pengalaman tidak ikut pensiun. Justru keduanya dapat menjadi bekal untuk mengabdi dengan cara yang berbeda.

Dari penyuluhan ke P4S, jejak Made Suparsa akhirnya bukan hanya tentang perjalanan seorang individu. Ia adalah cerita tentang bagaimana seorang penyuluh dapat terus bergerak setelah meninggalkan ruang kedinasan.

su14


Dari mendampingi petani, membangun organisasi, hingga menciptakan ruang belajar.

Dan dari semua perjalanan itu, satu pesan sederhana terasa kuat, pertanian akan terus tumbuh ketika orang-orang di dalamnya tidak pernah berhenti belajar, berbagi, dan bergerak. (DenBagus)

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar