BerandaLintas DaerahMustahin, Lelaki di Balik Musim Panen
Lintas Daerah

Mustahin, Lelaki di Balik Musim Panen

Pendidikan yang terhenti karena keterbatasan ekonomi tak mematahkan langkah Mustahin. Dari Banyuwangi, ia mengadu nasib ke Bali. Pernah menjadi buruh pembuat genteng dan sopir traktor, kini sekitar 12 tahun hidupnya lekat dengan musim panen.

FacebookWhatsAppXTelegram

GIANYAR — Musim panen selalu membawa kesibukan tersendiri di persawahan. Petani mengejar waktu, memastikan bulir-bulir padi yang telah menguning segera dipanen. Namun, di balik hamparan padi yang menguning itu, ada tangan-tangan pekerja yang jarang mendapat sorotan.

Salah satunya Mustahin.

Ketika ditemui awak media Perhiptani saat sedang melakukan panen di Subak Bunut, Sukawati, Gianyar, lelaki 43 tahun itu tampak larut dalam pekerjaannya. Gerakannya cekatan. Panas matahari dan beratnya pekerjaan seolah sudah menjadi bagian dari keseharian.

11


Mustahin bukan petani pemilik lahan. Ia adalah buruh panen. Namun, dari pekerjaan itulah sebagian perjalanan hidupnya ditopang.

Pria asal Desa Licin, Banyuwangi, Jawa Timur, tersebut datang ke Bali sejak 1994. Seperti banyak perantau lainnya, ia datang dengan harapan sederhana: mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.

Kondisi ekonomi keluarga membuat pendidikannya tidak dapat dituntaskan. Mustahin hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar.

Sekolah boleh berhenti. Tetapi langkah hidup harus terus berjalan.

Di Bali, ia mengawali perjuangan sebagai buruh pembuat genteng di Pejaten, Tabanan. Pekerjaan itu dijalani dengan mengandalkan tenaga. Dari sana, perjalanan hidupnya kemudian berlanjut menjadi sopir traktor selama sekitar dua tahun.

Pengalaman mengemudikan traktor membuatnya semakin dekat dengan dunia pertanian. Hingga akhirnya, sekitar 12 tahun terakhir, Mustahin memilih menekuni pekerjaan sebagai tenaga buruh panen.

Sejak itu, sawah menjadi bagian penting dalam kesehariannya.

Ketika musim panen datang, ia bergerak dari satu lahan ke lahan lainnya. Ketika petani membutuhkan tenaga tambahan, ia hadir bersama buruh panen lainnya.

Pekerjaan tersebut tidak mengenal meja kantor dan pendingin ruangan. Matahari, lumpur, dan aktivitas fisik menjadi bagian dari rutinitas. Namun, Mustahin menjalaninya dengan tekun.

222


Baginya, pekerjaan adalah pekerjaan. Selama masih ada kesempatan untuk bekerja, ia akan menjalaninya.

Ada perubahan nilai upah yang dirasakan Mustahin selama menekuni pekerjaan tersebut. Jika dahulu ia menerima sekitar Rp375 ribu per ton, kini upahnya telah mencapai sekitar Rp1,1 juta per ton.

Namun, angka itu tidak serta-merta berarti kehidupan menjadi mudah. Sebab, penghasilan buruh panen sangat bergantung pada musim.

Ada masa ketika sawah-sawah mulai dipanen dan pekerjaan datang berturut-turut. Ada pula masa ketika panen selesai dan mereka harus menunggu pekerjaan berikutnya.

Karena itu, seorang buruh panen tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga kesabaran.

Mustahin memahami betul siklus tersebut.

Selama bertahun-tahun ia mengikuti ritme pertanian. Saat padi mulai menguning, ia bersiap. Saat panen berlangsung, ia bekerja sekuat tenaga. Setelah panen usai, ia kembali menunggu musim berikutnya.

Siklus itu telah menjadi bagian dari hidupnya.

Kisah Mustahin mungkin sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan potret kehidupan pekerja pertanian yang memiliki peran penting dalam proses produksi pangan.

Petani membutuhkan lahan, benih, pupuk, teknologi, dan berbagai sarana produksi. Namun, ketika tiba saatnya panen, tenaga manusia tetap memiliki tempat penting, terutama untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan di lapangan.

Di sanalah Mustahin berada.

Ia hadir ketika bulir padi telah matang. Ia bekerja ketika petani harus segera memanen. Tidak banyak bicara, tetapi tenaganya ikut menentukan bagaimana hasil panen dapat segera dikumpulkan.

Lebih dari tiga dekade sejak meninggalkan Banyuwangi, perjalanan hidup Mustahin telah melewati banyak pekerjaan.

Pendidikan yang tidak selesai tidak menghentikan langkahnya. Menjadi buruh pembuat genteng pernah dijalaninya. Mengemudikan traktor juga pernah menjadi bagian dari kehidupannya.

WhatsApp Image 2026 09 10 at 04.23.18 (1)


Kini, sawah menjadi ruang penghidupannya.

Di Subak Bunut, Sukawati, ia kembali melakukan pekerjaan yang telah digelutinya selama sekitar 12 tahun. Di bawah matahari, di antara batang-batang padi yang dipanen, Mustahin terus bekerja.

Ia mungkin bukan orang yang namanya tercatat dalam sejarah sebuah musim panen.

Tetapi setiap musim panen selalu membutuhkan orang-orang seperti dirinya.

Mereka datang tanpa banyak tuntutan. Bekerja dengan tenaga yang dimiliki. Lalu pulang membawa hasil yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Mustahin adalah satu dari sekian banyak lelaki yang berada di balik gemuruh musim panen.

Dari Banyuwangi ia datang membawa harapan. Di Bali ia belajar bertahan. Dan di tengah hamparan sawah, ia menemukan jalan hidupnya.

Karena bagi Mustahin, panen bukan sekadar tentang padi yang dipetik. Di sanalah rezeki dijemput, dengan keringat dan kedua tangannya sendiri. (DenBagus)

 

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar