BULELENG — Justru dari keterbatasan itulah, penyuluh pertanian asal Buleleng tersebut mampu membawa karya videonya menembus persaingan tingkat nasional. Dalam lomba video pendek bertopik “Pertanian Modern, Petani Makmur” di lingkup Kementerian Pertanian, Indra berhasil meraih peringkat II atau runner-up.
Kelsi Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, SP., M.Agb., saat dihubungi secara terpisah, menyampaikan apresiasinya atas capaian tersebut.
“Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para penyuluh CWS Buleleng atas prestasi yang telah diraih. Capaian ini merupakan buah dari kerja keras, inovasi, dan dedikasi yang konsisten dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh pertanian. Prestasi tersebut tidak hanya membanggakan Buleleng, tetapi juga turut mengharumkan nama Bali di tingkat nasional.
Semoga capaian ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi para penyuluh untuk terus berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan pertanian dan kesejahteraan petani.”

Ketika awak media Perhiptani menghubunginya melalui telepon, Indra memperkenalkan diri dengan sederhana.
“Saya I Kadek Indra Guna, lahir di Dili, Timor Timur, 12 April 1996,” ucapnya.
Dari Dili, perjalanan hidupnya kemudian berlanjut di Buleleng. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ketertarikannya terhadap dunia pertanian mendorongnya melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Udayana, Program Studi Agroekoteknologi, konsentrasi Agronomi dan Hortikultura. Pendidikan tersebut diselesaikannya pada 2019.
Selepas kuliah, Indra sempat berencana merantau ke Denpasar untuk mencari pengalaman dan pekerjaan. Namun, keadaan orang tua di kampung halaman membuatnya mengubah keputusan.
Ia memilih pulang.
Sembari mencari pekerjaan, Indra membantu orang tuanya berkebun, termasuk mengelola tanaman mangga. Tidak lama kemudian, kesempatan datang. Pada Agustus 2019, ia mengetahui adanya lowongan di Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Ia mencoba mendaftar dan bersyukur diterima sebagai pegawai kontrak, kemudian ditempatkan sebagai staf di bidang tanaman pangan.
Jalan pengabdiannya kemudian mengarah ke dunia penyuluhan. Ketika terdapat program peralihan ke penyuluh pertanian, Indra mengambil kesempatan tersebut. Sejak Januari 2020, ia mulai bertugas di BPP Kecamatan Sawan dengan wilayah binaan awal Desa Galungan.
Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia sempat mengikuti seleksi CPNS, namun belum berhasil. Kesempatan berikutnya datang melalui seleksi PPPK pada 2023. Kali ini, keberuntungan berpihak kepadanya. Indra lolos dan terus melanjutkan pengabdiannya sebagai penyuluh.
Wilayah binaannya pun berkembang. Setelah sempat menangani Galungan dan Bebetin, kini Indra dipercaya menangani wilayah binaan Sawan dan Bebetin.

Belajar karena Mau Mencoba
Sebagai penyuluh, Indra terbiasa berhadapan dengan petani, lahan, dan berbagai dinamika pertanian di lapangan. Namun, videografi awalnya bukan keahlian yang ia miliki.
“Saya sebenarnya tidak mahir dalam teknik pengambilan video maupun editing,” katanya.
Kesempatan belajar datang ketika Dinas Pertanian menggelar perlombaan video antar-BPP. Setiap BPP diwajibkan mengirimkan karya. Indra ikut terlibat dan dari situlah ketertarikannya terhadap dunia videografi mulai tumbuh.
Tidak melalui kursus khusus. Tidak pula didampingi mentor profesional.
Ia belajar sendiri melalui YouTube dan Google. Mulai dari teknik pengambilan gambar, menentukan sudut, menyusun cerita visual, hingga proses editing, dipelajarinya secara bertahap.
Belajar dari kesalahan, mencoba lagi, lalu memperbaiki.
Hasilnya tidak hanya menjadi kemampuan pribadi. BPP Sawan berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan video antar-BPP sebanyak dua kali.
Namun, Indra tidak menempatkan dirinya sebagai tokoh utama di balik capaian tersebut. Ia justru menekankan pentingnya dukungan rekan-rekan di BPP.
Baginya, karya yang baik lahir dari kerja bersama.
Ketika HP Menjadi Kamera Utama
Tantangan lebih besar datang saat lomba video tingkat Kementerian Pertanian.
Awalnya, Indra sempat mengurungkan niat untuk ikut. Persoalannya adalah keterbatasan waktu dan peralatan. Kamera serta drone yang sebelumnya digunakan di BPP sudah ditarik oleh dinas.
Namun, arahan Katimker Buleleng membuatnya kembali mencoba.
Kali ini, hanya kamera telepon genggam yang menjadi andalan.
Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai alasan, Indra memilih melihat apa yang bisa dikerjakan dengan peralatan yang tersedia. Dari beberapa kategori yang ditawarkan, ia memilih tema “Pertanian Modern, Petani Makmur”, menyesuaikannya dengan potensi yang ada di Kecamatan Sawan.
Gagasan kemudian mengarah pada pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Indra melihat mekanisasi bukan semata soal mesin, tetapi bagian dari perubahan wajah pertanian. Teknologi membantu petani bekerja lebih efektif dan menjadi salah satu gambaran pertanian yang semakin modern.
Semua itu kemudian ia kemas dalam sebuah karya video. Dengan kamera HP. Tanpa drone. Dengan kemampuan yang sebagian besar diperolehnya secara otodidak.
Hasilnya, video tersebut berhasil meraih peringkat II atau runner-up tingkat Kementerian Pertanian. Peringkat I diraih Rifia Amalia Santi, S.P., penyuluh pertanian asal Jawa Timur, sementara BPP Kertoharjo, Jawa Tengah, berada di peringkat III.
Bagi Indra, posisi runner-up bukan sekadar soal peringkat. Capaian itu menjadi pembuktian bahwa seorang penyuluh juga dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Di era ketika informasi pertanian tidak hanya disampaikan melalui pertemuan tatap muka, kemampuan memanfaatkan media menjadi bagian penting dari komunikasi penyuluhan.

Prestasi yang Lahir dari Kebersamaan
Di balik penghargaan tersebut, Indra menyadari bahwa perjalanan itu tidak pernah benar-benar dilakukan sendirian.
Ia menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan penyuluh yang telah memberikan dukungan, membantu proses pembuatan karya, memberi masukan, dan menyemangatinya selama mengikuti perlombaan.
Apresiasi khusus juga ia sampaikan kepada Katimker Buleleng yang memberikan arahan dan dorongan ketika dirinya sempat ragu untuk mengikuti lomba.
“Terima kasih kepada teman-teman penyuluh yang sudah mendukung dan membantu. Terima kasih juga kepada Katimker Buleleng yang sudah memberikan arahan dan dorongan. Prestasi ini tidak lepas dari dukungan mereka,” ungkapnya.
Kisah Indra pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah video yang meraih juara.
Ini tentang seorang penyuluh yang memilih belajar ketika belum mampu, mencoba ketika fasilitas terbatas, dan bergerak ketika ada kesempatan.
Dari kebun mangga orang tua, ia menemukan jalan pengabdian. Dari YouTube dan Google, ia belajar videografi. Dan dari sebuah kamera HP, ia membuktikan bahwa karya seorang penyuluh pertanian Buleleng mampu menembus panggung nasional.
Karena terkadang, yang membawa seseorang sampai jauh bukanlah kelengkapan alat. Melainkan kemauan untuk terus belajar dan keberanian untuk mencoba. (DenBagus)






Komentar